Fiction
Gado-gado: Legging Modis

1 Dec 2018


ilustrasi: tania.
 
Aku tersenyum puas di depan cermin. Kedua tanganku membentangkan mini dress cokelat milik Ibu yang telah kusulap menjadi lebih trendi. Lengan panjangnya telah kupotong, dan   kutambahkan ban di bagian pinggang. Mini dress ini akan kupakai ke kantor besok.
 
Esok paginya, aku bangun lebih awal. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, kukenakan mini dress yang semalam kucoba. Lalu kupadankan dengan legging cokelat tua dan flat shoes berwarna cokelat muda. Sempurna! Penampilan modis yang telah kurancang dari seminggu lalu, hari ini siap kutampilkan.
 
“Kamu  mau kerja atau mau ke mal?” Pertanyaan ini langsung dilontarkan Ibu saat aku menuju ruang makan.
 
“Ya, kerja, dong, Bu,” jawabku, santai.
 
“Kok, pakaiannya seperti itu?”
 
“Memang kenapa, Bu? Tetap rapi dan sopan, ‘kan?”
 
“Iya, sih. Tapi, kesannya tidak formal karena legging-mu hanya sampai dengkul,” jawab Ibu, sambil meneliti dandananku.
 
“Sudah… Ibu tenang saja. Di kantorku banyak yang pakai baju semiformal, kok, Bu,” ujarku, sambil menyalami tangan Ibu usai menyantap roti cokelat keju. “Aku berangkat, ya, Bu,” kataku, terburu-buru.
 
Derap kakiku yang lincah seolah menggambarkan semangat auditor muda yang baru memulai karier. Sepanjang perjalanan menuju kantor, mataku tak henti-hentinya memperhatikan bayangan diriku pada tiap kaca yang kutemui. Di jendela rumah orang, di kaca angkot, di kaca bus Transjakarta, bahkan di kaca dalam lift kantor.
 
Gladys, teman sedivisi di kantorku, memujiku saat kami bertemu di lift.  “Hai, Ti, you look so fresh today. Very nice!”
 
Thank you.“ Aku tersenyum lebar  membalas pujiannya.
 
Semua berjalan seperti biasa. Aku menemukan kursi kosong yang bisa kutempati untuk menyelesaikan laporan auditku. Aku bolak-balik ke mesin fotokopi untuk mengopi beberapa dokumen. Aku juga beberapa kali ke toilet untuk menghangatkan tubuh dari suhu AC kantor yang sangat dingin. Orang-orang di kantor memandangiku tiap aku lewat. Aku menganggap mereka mengagumi penampilanku. Sampai akhirnya, saat aku hendak mengisi botol minumku ke pantry, aku menyadari arti tatapan mereka.
 
“Neng, namanya siapa?” Mpok Santi, salah satu office girl, menyapaku.
 
“Risti, Mpok,” jawabku. Aku maklum, dia belum mengenalku. Sejak menjadi karyawan tiga bulan lalu, baru seminggu ini aku rutin ke kantor. Biasanya selalu ke perusahaan klien, hal yang lumrah terjadi jika menjadi akuntan publik.
 
Kok, Neng Risti pakai legging? Kan tidak boleh, Neng.” Jari telunjukku yang sedang menekan tombol dispenser mendadak kaku mendengar ucapan Mpok Santi.
 
“Memangnya tidak boleh?” tanyaku lirih. Rasa percaya diri langsung menguap.
 
“Iya Neng, legging kan bukan pakaian formal. Apalagi kalau Bu Diana tahu, Neng bisa dimarahi nanti. Dari tadi beberapa orang ngomongin Neng. Saya kasihan, makanya saya tegur Neng saja,“ celoteh Mpok Santi, panjang lebar.
 
Aduh! Mukaku memerah. Rupanya, tadi orang-orang memandangiku bukan karena kagum pada penampilanku. Sebaliknya, mereka merasa aneh melihat kostum yang kukenakan hari ini!
 
Setelah mengucapkan terima kasih pada Mpok Santi, aku pun berjalan mengendap-endap melewati koridor kantor, takut kalau-kalau bertemu Bu Diana. Beliau adalah salah satu direktur yang terkenal galak. Aku tidak mau terkena omelannya karena melihatku sedang mengenakan legging.
 
Aku mengunci diri dalam toilet. Di situ aku tercenung, ingat akan kata-kata Ibu tadi pagi. Ah, andai aku menuruti perkataan Ibu…. Dia benar. Aku pun lantas melepas legging yang menjadi sumber masalah di hari ini. Kini, tubuh sintalku terlihat seksi karena mengenakan mini dress setengah paha.
 
Sebenarnya, banyak teman auditor lain yang kerap memakai rok mini atau rok span. Tapi, aku  tidak terbiasa mengenakan pakaian sependek itu. Setelah menenangkan diri, aku melenggang dengan kaku menuju tempat duduk. Orang-orang kembali memandangiku, beberapa ada yang tersenyum kecil. Duh, malunya… rasanya ingin menghilang saja dari muka bumi ini! Mau tampil modis, tapi malah mendapat malu…. (f)
 
***
 
Helen Rumiris – Jakarta
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
 



Topic

#gadogado, #fiksifemina

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.