Fiction
Cerber: More Than Blue [2]

5 May 2017


Bagian 2
Kisah sebelumnya:
Re, seorang pekerja LSM lingkungan, memiliki trauma atas meninggalnya kekasihnya, Mailo, yang tewas saat menyelamatkan rekannya saat diving. Re pun tidak bisa melupakan Mailo, hingga kemudian datang seorang pria yang mengingatkan Re pada kekasihnya. 
 
Re berkonsentrasi penuh menciduk air hingga tak menyadari bunyi tapak kaki dan ketika sebuah suara tiba-tiba menggema di belakangnya, ia sungguh terkejut. Spontan ia berbalik dalam posisi yang salah dan menyebabkan kehilangan keseimbangan. Bertambah parah karena ia sedang menginjak genangan air yang licin. Tubuhnya rebah di atas tanah.

Satu dari sebuah wadah air yang berada di dekat situ tertendang dan airnya tumpah ke tanah berlumut. Cahaya senter yang berpendar memperjelas wajahnya yang meringis dan matanya yang membeliak. Rambutnya sebagian basah oleh cipratan air dan hampir seluruh celananya basah kuyup.

            “Hei! Apa aku mengagetkanmu?” Lelaki itu melepaskan begitu saja dua wadah air yang besar, jatuh menggelinding ke tanah. Langkahnya tergopoh mendekati Re.
“Astaga, kau rupanya!” balas Re masih sambil meringis menahan ngilu.
“Kau ini, benar-benar membuatku heran. Malam-malam masih juga berkeliaran di tempat seperti ini?”
“Mengomelnya nanti saja. Tak kau lihat aku basah kuyup begini?” Re bersungut-sungut.
Lelaki itu membantunya bangkit berdiri sambil menopang tubuh Re yang condong sebelah. Namun, Re merasakan nyeri di kakinya. Ia mengaduh. Lelaki itu segera menyadari ada sesuatu yang salah.
“Kau terkilir?”
Re menggeleng. Ditegakkan tubuhnya dan mencoba menjejakkan kedua kaki. Sambil berusaha mengunci mulutnya rapat-rapat agar tak terdengar mengaduh. Ia benci dianggap cengeng dan lemah. Apalagi oleh lelaki di hadapannya ini.
Tanpa menunggu persetujuan Re, lelaki itu dengan sigap menggendongnya seperti seorang pelayan membawa sebuah nampan. Ia merasakan tubuhnya berguncang-guncang karena jalan yang berbatu dan langkah lelaki itu yang lebar.

Kemudian Re menyadari ternyata guncangan yang lebih keras datang dari dadanya. Lengan yang kokoh menyangganya, otot dada yang walaupun dibatasi selembar kaus,  hangatnya masih menempel di pipinya. Dalam bingung, Re tengadah, mendapati rahang yang membentuk siluet garis tegas di bawah sinar bulan dan jakunnya yang naik turun seperti berlomba dengan tarikan napasnya.

“Kapan kau berhenti membuatku cemas?” lelaki itu bertanya dengan nada menekan, menahan kesal.
Ketika degup jantungnya sudah kembali normal dan ia mulai menguasai keadaan, mendadak sesuatu terlintas. Menohoknya hingga membuatnya sesak napas. Adegan ini. Bukankah Mailo pernah menggendongnya seperti ini? Ketika kakinya terluka oleh potongan kaca. Meski Re menolak, Mailo bersikukuh menggendongnya seperti bayi dan menggodanya dengan kelakarnya.

“Tiap kali bertemu denganmu selalu saja dalam keadaan ajaib. Apa, sih, yang kau lakukan di sana?” gerutu lelaki itu.
“Ini bukan salahku! Kau muncul tiba-tiba, mengagetkanku saja,” protes Re.
“Mestinya yang kaget itu aku. Siapa yang menyangka akan bertemu denganmu di sana malam-malam begini.”
Sejujurnya, detik ini juga ingin rasanya Re mengarahkan jari telunjuknya dan menempelkannya dengan lembut di bibir lelaki itu agar ia berhenti mencemaskannya. Seperti yang biasa ia lakukan pada Mailo. Tapi, lelaki ini bukan Mailo. Dan, sebelum Re kehilangan kendali sepenuhnya, ia memberontak.
“Turunkan aku. Biarkan aku jalan sendiri.”
“Kau tak bisa tenang, ya?”
“Aku belum separah yang kau pikir. Lagi pula posisi ini membuatku tidak nyaman.”
“Apanya yang tak nyaman?”
“Ini... ini terlalu romantis.”
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan mereka saling bertatapan dalam temaram sinar bulan yang memantulkan berkas keperakan di permukaan wajah. Beberapa detik dalam kekosongan. Lalu tangan Re mulai mengendurkan cengkeramannya pada bahu lelaki itu dan luruh dengan sendirinya. Lelaki itu tergeragap dan perlahan-lahan menurunkan gadis itu.
“Begitu, ya?” suara lelaki itu terdengar sedikit canggung. Mungkin ia baru menyadari bila tindakannya terlalu berlebihan.
“Calon kekasihmu pasti setengah gila dengan ulah nekatmu,” gerutunya, seolah berbicara pada diri sendiri. “Sudah terluka, tapi masih saja sok kuat.”
“Dan pacarmu pasti tergila-gila dengan tindakanmu yang terlalu romantis,” balas Re, tak mau kalah.
“Pikirkan saja kakimu itu sekarang.” Telunjuk lelaki itu mendorong lembut dahi Re hingga rambutnya turut berayun.
Tercetus sebuah ide konyol di benak Re. Dia bisa menghindari penyelaman besok. “Kupikir ini bisa jadi alasan yang bagus. Terima kasih sudah membuatku terjatuh.”

Lelaki itu mengerutkan kening, heran dengan pernyataan Re barusan. “Kau menghindari sesuatu. Apa itu?” cecarnya penasaran.
“Ini rahasia.” Re tersenyum penuh kemenangan.
“Aku tahu.”
Re menggeleng cepat. “Kau tak mungkin tahu.”
“Kau ingin menghindar dari tugasmu yang baru, iya, ‘kan?”
“Sembarangan! Aku ini pekerja yang loyal, asal kau tahu saja.” Re mencibirkan bibir.
“Jinan yang bilang. Katanya, kau benci menyelam dan ingin mengakali instruktur selam yang datang besok.”
Re mendelik. Dasar Jinan! Kenapa dia gampang sekali buka mulut di hadapan lelaki ini?
“Kenapa kau benci menyelam? Padahal kudengar kau punya lisensi scuba diving.”
Pertanyaan barusan membuat Re gagap.

“Apa mungkin ada sesuatu yang membuatmu trauma?” lelaki itu mengubah intonasi suaranya menjadi lebih rendah. “Maaf... mungkin pertanyaanku terlalu pribadi.”
Untuk sesaat tubuh Re menegang. Otaknya mendadak kacau dan tak tahu harus menjawab apa. Perlahan, dia merasakan pipinya memanas. Tidak. Ia tidak boleh menangis, apalagi di hadapan lelaki ini.
“Aku terdengar lancang, ya? Sekali lagi, maaf.” Lelaki itu terlihat menyesali ucapannya.
“Kau lupa dengan kakiku, ya?” Re mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya hingga Re dapat menghirup sepuasnya aroma men’s cologne yang dirindukannya itu.
“Oh, ya. Kau tunggu di sini. Aku akan mencari sepeda.”
Lelaki itu menepati janjinya. Hanya beberapa menit dan ia sudah menuntun sebuah sepeda ontel yang lumayan tua.
Re tak tahu apakah ia harus tersenyum atau menangis. Itu sepeda yang sering digunakan Mailo bila berkeliling pulau mengitari paving block sepanjang ratusan meter, menyusuri kawasan konservasi mangrove.

Lelaki itu membantunya berdiri dan sekali lagi mereka kembali bersentuhan dalam hawa yang mulai melubangi pori-pori. Re duduk di boncengan yang besinya sudah berkarat. Punggung di depannya membuat dirinya seakan terlontar dalam pusaran waktu. Mula-mula sepeda itu oleng ke sana kemari. Lalu lama-kelamaan stabil dengan sendirinya. Re merasakan tempat duduk yang dingin dan keras.

“Apa ini masih terlalu romantis juga?” canda lelaki itu membuat kekakuan mulai mencair di antara mereka.
Mau tak mau Re tertawa geli. Di balik punggungnya, lelaki itu mendengar Re terkekeh.
“Bagaimana kalau begini….” Lelaki itu menggenggam sebelah tangan Re dan melingkarkannya di pinggang.
Re berhenti terkekeh. Itu kebiasaan Mailo yang tak pernah luput dia lakukan bila mereka sedang berboncengan. Ini gila!
***
 
Dulu, ketika Re pertama kali diajari menyelam, ia tak bisa melupakan perasaan bernapas yang dingin mencekik, ketika air bermain-main dan berputar di depan matanya. Perasaan panik dan takut yang mendadak menyerbu –mungkinkah ia akan pingsan, meliputi sekujur tubuhnya justru pada saat jari-jari tangannya akan menyentuh kima di dasar laut. Juga berbagai rasa ngeri lainnya ketika tubuhnya seakan terseret arus bawah. Belum lagi, memikirkan bagaimana harus bermanuver di antara terumbu karang yang bergerigi dan rapat seolah ia terjebak dalam labirin di planet lain.

Tapi sekarang nyeri dan ngilu di hatinya bukan lantaran terkenang akan hal itu, tapi karena lelaki ini. Seseorang yang  makin ia berusaha lupakan,  makin tajam otaknya mengingat. Lebih mengerikannya, lelaki ini mulai menggeser Mailo dan mengikisnya sedikit demi sedikit.
Lamunannya terputus. Seremonial dengan para perwakilan dari NGO asing akan segera dimulai. Pidato yang membosankan dan biasanya sukses membuat ia mengantuk itu, tak terjadi. Di luar dugaannya, Re mendadak melotot dan tersedak.

Bagaimana tidak. Lelaki itu yang menyelamatkannya dari badai, ada di sana, di antara jajaran para penyelam berwajah orang asing. Dia tampak sangat menonjol karena satu-satunya yang berwajah Asia. Re hampir saja jatuh terjengkang. Pantas saja lelaki itu begitu ingin tahu mengapa ia enggan menyelam. Rupanya dia salah satu di antara penyelam yang dikirim NGO asing itu. Saat ini Re lebih memilih menjadi burung unta agar ia bisa membenamkan kepalanya dalam pasir daripada nanti harus bertatapan muka dengannya. Memalukan saja.

Beberapa jam kemudian mereka sudah berdesakan menaiki kapal motor untuk menuju ke sebelah timur pulau. Re melirik heran pada wetsuit yang dikenakan lelaki ini. Merek dan warnanya sama persis dengan yang biasa dipakai Mailo. Siapa menyangka, kalau lelaki ini juga seorang master scuba diver. Kenapa semua kebetulan ini bisa terjadi? Batin Re bingung.

“Aku tak akan memaksamu menyelam hari ini atau besok. Aku akan menunggu sampai kau bisa menyelam. Dan maaf mengejutkan...,” sapa lelaki itu setelah bermenit- menit dalam kebisuan.
Re enggan menjawab. Ia merasa dipermainkan. Sebal rasanya, namun dia cuma bisa pasrah sambil menahan malu.
“Kau masih marah?” tanya lelaki itu lirih.
Tentu saja, siapa yang tidak jengkel dipermainkan seperti ini. Gerutu Re dalam hati.
“Aku tak bermaksud konyol hanya…,” lelaki itu menggantung kalimatnya. “Apalagi mempermainkanmu.”

Sebenarnya Re ingin mencoba tersenyum, meski kecut, agar membuatnya tak terlihat jauh lebih konyol. Namun, ia tak bisa menahan diri lagi. Re menyentakkan kepala ke belakang dengan gusar. “Kenapa kau tak bilang sejak awal kalau kau salah satu penyelam yang bekerja sama dengan kami?”
“Kupikir lebih baik aku mengenalmu secara pribadi sebelum kita melakukan penyelaman,” jelasnya.

“Apa bagimu aku begitu lucu? Apa aku seperti orang yang bisa dipermainkan?” protes Re.
Lelaki itu menggeleng cepat. “Itu karena aku peduli,” jawab lelaki itu tegas. Tak ada keraguan di sorot matanya.
Re memalingkan wajah dan segera sibuk mengatur detak jantungnya yang tak keruan. Mendadak ia merasa telah mengkhianati Mailo ketika menyadari jauh di dalam hatinya, ia bahagia dengan jawaban lelaki itu.

Hari itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Dan tentu saja, lebih melelahkan bagi Re yang cuma duduk membatu di atas kapal dengan gelisah.
Lelaki itu bersama para penyelam lain berdiri di salah satu sisi kapal, melakukan giantstep–melangkahkan sebelah kakinya lebar-lebar dan menenggelamkan diri. Tabung oksigen menggantung di rompi BCD yang seolah menyatu dengan punggung mereka.

Air di kawasan itu jernih dan biru. Bila air laut sedang tenang, maka orang bisa melihat dengan jelas sampai ke dasarnya. Tampak berbagai bentuk terumbu karang tersaput lumut laut yang seperti terapung-apung dekat permukaan air. Padahal, sesungguhnya lumut-lumut itu berada di bagian yang paling dalam. Laut yang seolah tak bosan bergerak melemparkan bayang-bayang batu karang dan berhias buih putih. Kemudian ombak besar datang bergulung dan menyeretnya hingga bibir pantai, menimbulkan gema yang seakan-akan membanjiri seluruh pantai dan menenggelamkan para penyelam.    

Penyelaman hari pertama usai. Mereka muncul dengan rambut basah yang kusut, sedikit gimbal karena garam laut sehingga sulit memisahkannya. Kulit mereka tampak menyeramkan di bawah sinar matahari, menggelap dengan kombinasi pucat. Dalam perjalanan pulang, Re merasa dirinya seperti mayat yang baru saja mati tenggelam. 
***
Lahan pembibitan mangrove itu terletak bersebelahan dengan beberapa petak tanah yang biasa digunakan sebagai areal pembelajaran bagi masyarakat setempat, mulai dari kandang sehat, reaktor biogas, hingga penjernihan air.

Jinan memasukkan bibit mangrove dengan hati-hati agar akarnya tidak rusak ke dalam polybag. Sebelumnya ia sudah membuat lubang kecil sebanyak sepuluh di kantong hitam itu. Semua penyemaian dilakukannya di bawah naungan yang terlindung dari sinar matahari. Ia masih serius memisahkan bibit mangrove yang berumur antara empat sampai enam bulan, ditandai dengan tiga hingga empat helai daun yang bermunculan, ketika Re datang dengan menyeret kaki.
“Kau cerita apa padanya?” sembur Re, begitu mereka berhadapan.

Jinan cengengesan.
“Berhenti bercanda.” Re masih bersungut-sungut. “Kau dan Novan pasti sudah tahu sebelumnya kalau dia itu salah satu penyelam NGO asing itu! Kenapa kau sengaja menyembunyikannya dariku? Membuatku terlihat idiot di depannya kemarin.”
“Itu kulakukan karena sepertinya dia menaruh perhatian padamu,” jawab Jinan santai.
Sok tahu kau!” dengus Re.
“Aku yakin, kok. Dia serius sekali bertanya tentang alasan kau berhenti menyelam,” balas Jinan, tak mau kalah.
“Jangan-jangan kau juga bilang kalau....”  Wajah Re memucat.
“Ya,” Jinan segera memotong ucapan Re. “Maaf kalau kau tersinggung. Kubilang padanya kalau calon suamimu meninggal sewaktu diving dua bulan sebelum pernikahan kalian.”

“Apa?!” Re menjerit. Beberapa rekan kerja mereka sempat menoleh. “Kau... kau keterlaluan!” sentak Re emosi.
“Aku sengaja. Biar dia tahu kalau kau tak punya kekasih. Biar dia punya keberanian mendekatimu. Dengar, aku tak ingin kau sendirian lagi. Ini sudah hampir tiga tahun. Kau harus melanjutkan hidupmu,” cerocos Jinan panjang lebar.
“Jinan....” Hidung Re memerah dan mulai berair. “Kau tega melupakan Mailo.”
“Mailo memang sepupuku. Tapi, kau juga sahabatku. Sampai kapan kau akan mencumbui mangrove ini sendirian?” ujar Jinan berapi-api. “Kau harus melepas Mailo. Kau sendiri yang akan terluka bila begini terus-menerus.”
 
***
Yang paling menarik perhatian Re di pulau itu adalah sebuah mercusuar yang ditopang oleh tebing-tebing batu karang yang seolah muncul dari laut. Di kaki batu karang itu, arus menimbulkan bunyi gemuruh yang terus menerus. Pada hari-hari di mana angin bertiup, di situ penuh dengan pusaran air. Pantainya berbatu-batu dan terpencil. Sejauh mata memandang, tampak perahu-perahu kecil penangkap ikan yang tak terhitung banyaknya seakan-akan berhamburan.
            Jalan yang diikuti gadis itu menuju ke menara mercusuar terus menanjak. Tapi ia tetap mendaki. Sekali waktu, ia memandang ke bawah, ke laut melalui celah-celah pepohonan di mana puncak-puncak ombak yang memutih itu memecah.

            Ketika Re mengitari lereng bukit, angin mati sama sekali seakan-akan ia memasuki sebuah perangkap. Alam sekitar mercusuar juga begitu sepi dan tenang seperti tengah tertidur.
Melewati lereng, Re dapat melihat rumah kediaman pengawas mercusuar, semua jendelanya tertutup, begitu pula gordennya. Ia terus mendaki sampai ke anak tangga batu yang menuju ke mercusuar itu. Kondisinya sama, tak ada tanda-tanda orang di menara pengawas itu.

Ia melanjutkan pendakian ke bukit yang berada di belakang mercusuar itu. Bukit itu betul-betul sunyi. Tak seorang pun tampak. Bahkan tak ada seekor anjing yang tersesat. Tapi pemandangan yang menakjubkan di sekitar bukit telah membayar rasa penasarannya pada mercusuar tadi. Tampak jalan menurun di sebelah kanan, tertutup oleh semak dan ilalang. Rupanya sudah lama tak terjamah kaki manusia.

Di tempat itu, di bagian selatan pulau, angin tidak bertiup kencang karena dihalangi oleh perbukitan. Sinar matahari memantul ke lautan yang jauh membentang. Batu karang yang seakan-akan masuk ke laut dengan tiba-tiba, sesekali ujung-ujungnya yang runcing kecokelatan memunculkan diri di tengah laut yang biru kehijauan. Sementara ombak-ombak besar mengempaskan diri, membentuk kabut air raksasa.

Re ingin menenangkan diri dari kebimbangan yang menyergapnya sejak seminggu belakangan. Apakah kini saatnya untuk melepas Mailo? Pipinya memerah. Re meletakkan telapak tangan di pipinya untuk merasakannya. Timbul perasaan asing yang membuatnya terduduk tanpa bergerak dan merasakan dirinya dalam kegusaran yang meluap. (Bersambung)

Baca juga:
Cerber: More Than Blue [1]
Cerber: More Than Blue [3]
 
***

Peringga Ancala

Cek koleksi fiksi femina lainnya di:

http://www.femina.co.id/fiction/


Topic

#FIksiFemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?