
Bagian 1
Aura Bidadari
Setelah melewati tanah persawahan dan menyeberangi hulu Kali Brantas menggunakan perahu kecil, kami sampai di tempat tujuan. Sebuah sendang yang tidak ada di dalam peta Kabupaten Kediri. Juga tidak pernah dilirik para pelaku pariwisata. Mungkin karena tempatnya terpencil, jauh dari jalan raya, berada di kaki Gunung Kelud. Sendang Pamotan!
Udara pegunungan yang sejuk segera mengeringkan keringat dan membuat napas kembali normal. Maklum, kami kurang olahraga dan jarang jalan kaki sampai 2.000 meter lebih. Tiga orang dalam kondisi sama, napas ngos-ngosan.
“Mirip seperti yang hadir dalam mimpiku,” celetuk Nisa. “Tidak begitu luas dan berada di bawah pohon beringin yang sudah tua. Lihat akar-akar pohon itu, seolah ingin mencumbu air sendang.”
Luas Sendang Pamotan mungkin tidak ada setengah hektare. Persis Telaga Ngebel di lereng Gunung Wilis, dikelilingi pohon-pohon yang sudah tua umurnya. Yang membedakan, Telaga Ngebel jauh lebih luas dan dalam. Jadi tampak lebih misterius kesannya. Sementara Sendang Pamotan dikelilingi enam pohon beringin yang berjauhan letaknya. Jadi, meski siang hari, sendang itu tidak memperlihatkan kecantikannya. Daun-daun beringin yang jatuh memenuhi permukaan air sendang. Jika angin bertiup kencang, daun-daun itu terbawa arus ke pinggir, lalu tenggelam.
“Berapa bulan sekali sendang ini dibersihkan?” tanyaku kepada Pak Lolo, warga Desa Jenggala yang jadi pemandu kami.
“Biasanya tiga bulan sekali saya dan beberapa tetangga yang peduli pada kelestarian sendang ini membersihkan sampah berupa dedaunan itu. Sejak saya masih kecil air sendang itu tidak berubah. Tetap sama,” jawab Pak Lolo.
“Maksudnya?” potong Nisa.
“Ya, seperti ini terus sepanjang tahun. Tidak pernah luber airnya di musim hujan, namun juga tidak berkurang di musim kemarau.”
Aku mengangguk-angguk. Membayangkan keberadaan sendang ini kira-kira 900 tahun yang lalu. Ada dua kemungkinan. Pertama, sendang ini berada di tengah hutan lebat. Kedua, sendang ini berada tidak jauh dari permukiman kaum ningrat pada masa itu. “Apa sejak dulu Jenggala merupakan desa terakhir sebelum orang sampai di sendang ini, Pak Lolo?” tanyaku.
“Menurut penuturan para leluhur memang begitu. Dulu katanya ada tiga dusun jauh di selatan Jenggala. Namun, ketiganya musnah karena diterjang lahar Gunung Kelud. Rumah dan semua penghuninya musnah. Tidak ada yang tersisa.”
“Tahun berapa peristiwa itu terjadi?” potong Nisa.
“Persisnya saya tidak tahu. Tapi sudah lama sekali, mungkin 200 tahun yang lalu, ketika Gunung Kelud meletus hebat,” jawab Pak Lolo. “Waktu itu semua warga Desa Jenggala pergi menyelamatkan diri. Selama hampir lima hari langit tampak gelap karena tertutup abu. Mereka baru berani kembali ke rumah setelah langit tampak cerah. Tebal abu yang jatuh di tanah konon lebih dari setengah meter. Setinggi lutut orang dewasa.”
Nisa lalu mengambil handycam dari tas dan mengambil gambar sendang dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Baginya, bisa menemukan sendang yang berhari-hari muncul di dalam mimpinya itu sudah merupakan surprise.
Semula aku menertawakan ketika ia meyakini bahwa sendang itu dulu merupakan bagian dari sebuah taman sari, tempat raja atau pangeran melepas lelah sambil bercengkerama dengan istri serta dayang-dayangnya. Terakhir ia malah meyakini bahwa di sendang itulah dulu Ken Dedes membasuh kaki dan tampak cahaya kebiru-biruan memancar keluar dari ujung pahanya. Cahaya yang menyilaukan mata Ken Arok dan membuat hatinya resah berhari-hari. Karena muncul keinginan hatinya untuk memperistri wanita cantik yang memiliki aura bidadari!
“Biasanya pada hari-hari apa sendang ini dikunjungi para peziarah?” tanyaku lagi. Nisa mengelilingi sendang sendirian.
“Tidak tentu,” jawab Pak Lolo.
“Kalau pada malam Jumat Legi?”
“Ya, sering ada dua atau tiga orang yang datang.”
“Mereka suami-istri?”
Pak Lolo menggeleng sambil tersenyum. “Saya tidak pernah menanyakan status para peziarah. Bukankah sekarang saya juga tidak bertanya, apakah Mas Sam suami Mbak Nisa, he…he…he….”
Benar juga! Sebuah pertanyaan yang naif dan malah menyodok ulu hatiku.
“Tapi tidak tampak bekas tempat orang membakar kemenyan?”
Pak Lolo menggeleng lagi. “Untuk apa membakar kemenyan? Bukankah tujuan para peziarah datang ke tempat ini tidak untuk memanggil roh halus?”
Lagi-lagi aku dibuat knock out! Jawaban Pak Lolo seperti pukulan hook yang langsung menghantam ulu hati.
“Biasanya peziarah berharap aura Ken Dedes bisa ikut merasuki tubuhnya. Dengan begitu, ia tampak makin cantik, bercahaya, dan tentu saja makin disayang suami atau kekasih,” ujar Pak Lolo.
“Mereka mandi atau sekadar cuci muka?”
“Ada yang mandi, ada yang cukup hanya mencuci muka saja.”
“Emmm.”
Tidak salah. Para wanita peziarah itu ingin memperoleh kecantikan dari dalam, bukan cantik polesan. Aku lebih setuju mereka berharap memperoleh aura Ken Dedes yang masih tertinggal di sendang daripada mereka melakukan operasi plastik! Soal aura itu sebenarnya ada atau tidak, tidak perlu dipersoalkan. Juga apakah di Sendang Pamotan ini dulu Ken Dedes mandi lalu memancar cahaya kebiru-biruan keluar dari pangkal pahanya, itu pun masih bisa diperdebatkan.
Sejarah tidak tertarik mencatat hal-hal yang remeh-temeh macam itu. Para pujangga keraton lebih tertarik menulis kisah perjalanan nasib seorang Ken Arok daripada sebuah sendang. Bagaimana tidak menarik. Dari anak muda berandalan bisa menjadi penguasa sebuah kerajaan. Bukankah ini jauh lebih menarik ditulis dan dibicarakan?
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dari arah puncak Gunung Kelud. Pertanda mau hujan?
Pak Lolo memberi isyarat agar Nisa segera kembali ke tempat kami berdiri.
“Sepertinya mau hujan,” ucap lelaki itu sambil mendongak melihat langit di balik rimbunnya dedaunan.
Aku mengangguk tanda setuju. “Nis, ayo sudahi dulu pekerjaanmu. Mau hujan!” teriakku.
“Kalau di hulu hujan deras nanti repot menyeberangnya. Saya tidak berani. Karena arus Kali Brantas sangat deras,” Pak Lolo menimpali.
Dari seberang sendang Nisa memberi isyarat bahwa ia tahu maksud kami. Langit memang tiba-tiba menjadi agak gelap. Hal yang biasa, di daerah pegunungan cuaca berubah mendadak, meski belum tentu hujan akan turun.
“Aura mistisnya tertangkap kamera,” bisik Nisa. “Jadi dugaanku tidak meleset. Aku makin yakin di sendang inilah dulu Ken Dedes mandi dan membuat Ken Arok jadi panas dingin berhari-hari.”
Untuk hal-hal yang berbau supranatural, Nisa lebih menguasai dan paham karena sejak kecil ia mengaku jadi anak indigo. Pada umur lima tahun ia biasa tidur menjelang subuh. Ketika kedua orang tuanya sudah pulas, ia justru terbangun dan bermain-main dengan makhluk astral berupa pocong dan wanita cantik berambut panjang. Ia tidak takut, sebab menurutnya pocong dan wanita cantik itu tampak lucu.
“Ini malam Jumat Pon,” celetuk Nisa, dalam perjalanan menuju Kali Brantas. “Menurut penuturan para sesepuh yang kuperoleh, Ken Dedes lahir dan meninggal dunia pada hari yang sama, yakni Jumat Pon.”
“Apakah pada masa itu sudah dikenal hitungan penanggalan Jawa?” tanya Pak Lolo.
Aku gelagapan tidak bisa menjawab. Untunglah dengan sigap Nisa menjawab, “Sudah. Pada prasasti Sukabumi tercantum lengkap tahun, bulan, hari dan weton. Prasasti bertanda tahun 726 Masehi itu sudah menyebut Wage. Nah, Ken Dedes lahir kira-kira pada abad ke-12, jadi penanggalan Jawa pasti sudah dipakai di mana-mana.”
Pak Lolo melongo mendengar jawaban yang tangkas dari Nisa. Mungkin ia tidak mengira perempuan yang berjalan di depannya itu suka mempelajari sejarah dan dunia supranatural.
“Tahun berapa persisnya Ken Dedes lahir?” kejar Pak Lolo penasaran.
Nisa tertawa. “Tidak ada yang tahu secara persis, Pak Lolo. Kitab Pararaton juga tidak mencatat. Namun, ketika Kerajaan Kadiri diperintah oleh Raja Kertajaya dari tahun 1185 sampai 1222, Tumapel masih di bawah kekuasaan Kadiri. Anggap saja Tunggul Ametung hidup di antara tahun-tahun tersebut, kemungkinan besar Ken Dedes lahir di sekitar tahun 1150. Bukankah ketika ia dilarikan Tunggul Ametung masih gadis murni?”
“Ya, ya, menurut cerita para leluhur memang begitu. Tunggul Ametung tidak sabar menunggu Mpu Parwa, ayah Ken Dedes, menyelesaikan tapanya. Lalu ia nekat membawa lari gadis asli Desa Panawijen itu ke Tumapel untuk dijadikan permaisurinya,” sahut Pak Lolo.
“Karena itulah, Mpu Parwa lalu mengeluarkan kutukan, siapa saja yang membawa lari anak gadisnya akan mati ditusuk keris. Namun, ia tidak mengutuk anak gadisnya. Justru ia berharap anak gadisnya memperoleh keselamatan dan panjang umur. Semua terbukti. Tunggul Ametung meninggal ditusuk keris oleh Ken Arok, sementara Ken Dedes hidup sampai tua. Namanya harum, bahkan ia disejajarkan dengan Dewi Prajnaparamita.”
Aku menghela napas. Langit tampak makin gelap. Beberapa kali terdengar suara halilintar menggelegar. Tepi Kali Brantas tinggal beberapa puluh meter saja di depan kami. Pak Lolo tadi menambatkan perahu di bawah pohon cangkring yang sedang berbunga. Banyak yang tidak tahu bahwa daun cangkring sebenarnya obat mujarab untuk mereka yang terserang cacar air. Daun cangkring dihaluskan dengan cara ditumbuk, lalu dioleskan di sekujur tubuh yang sakit. Biasanya, tidak sampai empat hari cacar air menghilang dengan sendirinya.
Perbincangan tentang sejarah selalu menarik. Karena ternyata ada beberapa versi jika seseorang bicara tentang sejarah. Termasuk sejarah Ken Dedes, Ken Arok, Tunggul Ametung dan anak turunannya yang melahirkan dinasti besar penguasa Kerajaan Majapahit!
* * * *
Kediri bagiku sangat menarik. Sebagai kota tua, ia masih lestari sampai sekarang, tidak menjadi bagian kota yang hilang. Bisa kita bandingkan dengan kota-kota lain yang dulu pernah mengalami masa kejayaan, namun sekarang surut tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Kita bisa memaklumi jika kota itu hilang akibat bencana alam yang dahsyat. Tapi, bagaimana jika jejak kejayaan sebuah kota hilang akibat dendam kesumat lawan? Bangunan-bangunan bersejarah yang megah dibakar atau sengaja dimusnahkan agar generasi penerus terputus mata rantainya dengan masa lalu yang gemilang!
Hmm.
Desa Jenggala tidak beda jauh dibanding desa-desa yang lain. Suasananya sepi begitu malam mulai merambat. Warganya diam di rumah masing-masing, menghangatkan diri sambil menonton televisi atau bercengkerama bersama keluarga.
“Ketika listrik belum sampai di dusun kami, begitu senja tiba, suasananya mirip kuburan,” seloroh Pak Lolo malam itu.
Aku dan Nisa sengaja menginap di rumahnya yang besar. Nisa tidur di kamar belakang, sedangkan aku di kamar depan berdampingan dengan ruang tamu. Semula kami diberi satu kamar. Namun, setelah kujelaskan bahwa kami belum terikat secara resmi sebagai suami-istri, tuan rumah mengalah. Kami lalu diberi kamar terpisah dan agak berjauhan.
Usai makan malam, kami berkumpul di ruang tamu. Aku, Nisa, Pak Lolo bersama istri dan seorang anak gadisnya yang sedang mekar. Sesaat aku terkesima melihat kecantikan istri tuan rumah. Sungguh, jauh dari gambaran wanita desa yang selama ini merasuki benak lelaki yang mengaku tinggal di kota. Pak Lolo mempersilakan kami memanggil istrinya Mbak Sekar. Usianya tampak jauh lebih muda dibanding suaminya. Kecantikannya alamiah, tanpa polesan. Sorot kedua matanya bercahaya, penuh wibawa dan rasa percaya diri yang tinggi.
“Desa Panawijen itu letaknya di timur Gunung Kawi. Ken Dedes lalu dibawa lari ke Tumapel. Cukup jauh. Pada masa itu satu-satunya sarana transportasi yang lazim dan masuk akal adalah kuda. Berarti Ken Dedes diajak naik kuda oleh Tunggul Ametung. Namun, tidak tertutup kemungkinan dia naik kuda sendiri. Bagaimanapun juga, Ken Dedes putri seorang pendeta Buddha. Dia pasti dihormati oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Pak Lolo, membuka pembicaraan.
Nisa segera membuka fotokopi peta kuno yang diperoleh dari temannya di Leiden. “Panawijen kira-kira berada di sini,” katanya sambil menunjuk dengan jari telunjuknya, “lalu Tumapel di sini. Sekarang kira-kira berada di utara Malang. Sedang Panawijen di timur Gunung Kawi berarti di selatan Malang. Sebenarnya tidak begitu jauh, Pak Lolo.”
“Untuk ukuran masa itu?”
Nisa tersenyum.
“Untuk sampai Tumapel, pasti harus melewati hutan lebat. Mungkin sudah ada jalan setapak yang hanya bisa dilewati kuda.”
“Ya, ya, masa itu belum dikenal angkutan berupa kereta. Apalagi semacam kereta kencana. Tradisi pembuatan kereta kencana karena pengaruh kerajaan di Eropa yang dibawa oleh Belanda,” sahut Nisa.
“Bukankah di pewayangan sudah digambarkan bahwa para kesatria dan raja-raja biasa naik kereta?” selaku.
Nisa tertawa. “Pada masa itu cerita pewayangan belum populer, Mas Sam. Jangan dibandingkan dengan zaman sekarang. Apalagi pada masa itu belum banyak terjadi kunjungan budaya antarbangsa. Tamu kerajaan yang datang justru dari Tiongkok. Tapi, mereka tidak mau membagikan kemajuan peradaban di sana, justru malah rajin mencatat berbagai macam jenis rempah yang dihasilkan bumi Nusantara. Rempah-rempah itu mereka bawa pulang ke negeri Tiongkok dan di sana diolah jadi obat yang mujarab. Nanti Tiongkok kembali mengirim para tabib sekalian mengenalkan obat-obat hasil olahan mereka,” ujarnya.
Pak Lolo mengangguk-angguk, begitu juga Mbak Sekar. Mereka seperti mendapat tamu seorang guru sejarah.
“Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin Sendang Pamotan bisa ada di dekat Desa Jenggala? Ini sangat jauh!” tukasku sok tahu. Kulirik Mbak Sekar yang tetap diam, namun selalu menyungging senyum di bibirnya.
“Mudah jawabnya,” sahut Pak Lolo. Lelaki itu seolah tidak mau kalah wawasannya dibanding tamunya. “Kemungkinan besar setelah memperistri Ken Dedes, sebagai akuwu, kalau sekarang setingkat camat, ia harus sowan raja untuk memperkenalkan istrinya. Nah, dalam perjalanan itulah rombongan mampir di Sendang Pamotan. Lalu terjadi peristiwa yang menghebohkan dan tercatat di dalam sejarah, ternyata Ken Dedes seorang nariswari!”
Perempuan nariswari artinya perempuan utama. Dari rahimnya bakal lahir raja dan keturunannya pun kelak juga akan menjadi raja. Hal itu nanti terbukti bahwa para penguasa Majapahit masih punya hubungan darah dengan Ken Dedes!
“Apakah para perempuan Desa Jenggala dan sekitarnya memercayai mitos Sendang Pamotan?” tanya Nisa.
“Ya, ya!” jawab Pak Lolo cepat. “Besok Mas Sam dan Mbak Nisa bisa melihat sendiri paras ayu para perempuan Desa Jenggala dan sekitarnya. Meski lahir dari keluarga petani, wajah anak-anak perempuan di sini cantik-cantik. Lihat saja wajah istriku, ha... ha… ha…,” seloroh laki-laki itu sambil menunjuk istri dan anak gadisnya. “Cantik, bukan?”
“Cantik!” jawabku spontan. Nisa langsung memonyongkan bibirnya tanda mencibirku.
“Setelah memperoleh haid yang pertama, biasanya anak gadis Desa Jenggala akan diminta berendam di Sendang Pamotan. Ritual itu kami beri nama Luru Ayu, atau berburu kecantikan. Hal itu sudah terjadi puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun. Semua keluarga yang punya anak gadis pasti melakukan ritual Luru Ayu,” tutur Pak Lolo.
“Baru sekarang aku tahu ada ritual Luru Ayu. Biasanya pada bulan apa hal itu dilakukan masyarakat Desa Jenggala?” tanya Nisa.
“Bulannya tidak tentu. Tergantung keluarga yang mau mengadakan ritual tersebut. Yang penting setelah anak gadis dari keluarga tersebut selesai dari haid pertamanya,” jawab Pak Lolo.
“Mbak Sekar dulu juga pernah melakukan ritual Luru Ayu?” tanyaku sambil menatap wajah ibu muda itu.
Mbak Sekar tidak segera menjawab. Ia malah tampak tersipu-sipu. Sesaat kemudian ia memandang suaminya, lalu memandang anak gadisnya yang sudah tampak mengantuk.
“Ceritakan saja, Ma,” pinta Pak Lolo.
Nisa menoleh ke arahku. Matanya terbelalak. Mungkin kaget dan nyaris tidak percaya, ternyata panggilan Mama untuk mengganti Ibu bukan monopoli orang kota! Para perempuan di pelosok Kediri ini pun tidak mau ketinggalan mengikuti budaya masyarakat modern di kota-kota besar!
“Waktu itu saya baru berumur 14 tahun, baru saja lulus sekolah dasar. Setelah haid yang pertama rampung, seminggu kemudian keluarga menggelar upacara Luru Ayu,” cerita Mbak Sekar. “Saya tidak sendiri, ada tiga teman yang juga sama-sama mengikuti upacara itu.”
Aku dan Nisa mengangguk-angguk mendengar cerita istri tuan rumah.
“Apa yang terjadi ketika Mbak Sekar berendam di Sendang Pamotan?” tanyaku.
“Tidak terjadi apa-apa. Cuma kedinginan.”
“Berapa lama berendamnya?”
“Kira-kira dua jam. Mulai dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh.”
“Kami memercayai bahwa Ken Dedes waktu mandi di sendang itu juga antara jam delapan sampai jam sepuluh pagi. Sinar matahari belum tertutup kabut. Meski di sekeliling sendang banyak pohon, masih ada celah-celah diterobos hangatnya matahari pagi,” potong Pak Lolo.
“Ooo, ya, ya, tidak begitu dingin jadinya,” celetuk Nisa.
“Hanya begitu ritualnya?” kataku.
“Malam harinya saya bermimpi didatangi wanita cantik. Ia hanya mengenakan kemben, rambutnya terurai panjang hampir sampai di ujung kaki. Wanita itu tersenyum lalu menyelipkan bunga mawar di telinga saya. Ternyata tiga teman saya juga mengalami mimpi yang sama,” tutur Mbak Sekar.
“Apakah ada cerita bahwa Ken Dedes dulu suka bunga mawar?” tanyaku.
“Mungkin sekali. Karena di sini pohon mawar tumbuh di mana-mana. Warnanya pun tidak hanya merah, ada putih, kuning, dan pink,” sahut Nisa.
Pak Lolo mengangguk-angguk. “Kadang-kadang wanita yang hadir dalam mimpi itu juga memberi bunga anggrek, bunga matahari, dan bunga lain yang tumbuh di Desa Jenggala dan sekitarnya. Kami percaya bahwa dia itu Ken Dedes yang sedang menularkan kecantikannya untuk anak-anak gadis desa kami. Nyatanya, Mas Sam lihat sendiri.”
“Ya, ya. Bagaimana kamu Nis, mau berendam di Sendang Pamotan?” godaku sambil tertawa.
“Ah, mana mau Ken Dedes bagi-bagi kecantikan dengan janda dua anak? Sudah kasep!” jawabnya, sambil tertawa.
“Lho, Mbak Nisa ini...,” Mbak Sekar tidak melanjutkan kalimatnya.
“Janda, Mbak, ha... ha… ha… dua anak lagi. Ken Dedes sudah tidak mau membagikan kecantikannya untukku.”
“Siapa bilang?” tukas Pak Kolo.
“Nah, dengar itu!” aku menimpali.
“Lho, Adek sudah ngantuk?” sapaku, kepada putri tuan rumah yang kelihatan matanya sudah mengantuk berat.
“Okta tidur dulu sama Mama. Papa masih menemani Mas Sam dan Mbak Nisa,” kata Pak Lolo kemudian. “Nanti Papa menyusul.”
Mbak Sekar lalu menarik tangan anaknya dan digandeng menuju kamar tidur di belakang. “Maaf, kami tidur duluan,” katanya sembari melempar senyum.
“Aku juga mau menyusul Mbak Sekar. Capek, ingin meluruskan badan,” kata Nisa kemudian.
“Lha monggo, selamat menikmati udara dingin lereng Gunung Kelud,” ucap Pak Lolo.
Nisa melempar senyum padaku, lalu melambaikan tangan. Ia membiarkan fotokopi peta kuno tergeletak di atas meja.
“Mas Sam juga mau masuk kamar?” tanya Pak Lolo.
“Kalau aku ingin jalan-jalan sendiri di luar, bagaimana?”
“Oh, silakan. Aman, aman. Kalau nanti ada yang bertanya, jawab saja Mas Sam tamu saya.”
“Terima kasih, Pak Lolo,” sahutku sambil merapatkan jaket.
Udara terasa makin dingin. Tapi, karena belum ngantuk, aku ingin merasakan suasana Desa Jenggla malam hari. (Bersambung)
Baca juga:
Arus Kali Brantas [2]
Arus Kali Brantas [3]
Aura Bidadari
Setelah melewati tanah persawahan dan menyeberangi hulu Kali Brantas menggunakan perahu kecil, kami sampai di tempat tujuan. Sebuah sendang yang tidak ada di dalam peta Kabupaten Kediri. Juga tidak pernah dilirik para pelaku pariwisata. Mungkin karena tempatnya terpencil, jauh dari jalan raya, berada di kaki Gunung Kelud. Sendang Pamotan!
Udara pegunungan yang sejuk segera mengeringkan keringat dan membuat napas kembali normal. Maklum, kami kurang olahraga dan jarang jalan kaki sampai 2.000 meter lebih. Tiga orang dalam kondisi sama, napas ngos-ngosan.
“Mirip seperti yang hadir dalam mimpiku,” celetuk Nisa. “Tidak begitu luas dan berada di bawah pohon beringin yang sudah tua. Lihat akar-akar pohon itu, seolah ingin mencumbu air sendang.”
Luas Sendang Pamotan mungkin tidak ada setengah hektare. Persis Telaga Ngebel di lereng Gunung Wilis, dikelilingi pohon-pohon yang sudah tua umurnya. Yang membedakan, Telaga Ngebel jauh lebih luas dan dalam. Jadi tampak lebih misterius kesannya. Sementara Sendang Pamotan dikelilingi enam pohon beringin yang berjauhan letaknya. Jadi, meski siang hari, sendang itu tidak memperlihatkan kecantikannya. Daun-daun beringin yang jatuh memenuhi permukaan air sendang. Jika angin bertiup kencang, daun-daun itu terbawa arus ke pinggir, lalu tenggelam.
“Berapa bulan sekali sendang ini dibersihkan?” tanyaku kepada Pak Lolo, warga Desa Jenggala yang jadi pemandu kami.
“Biasanya tiga bulan sekali saya dan beberapa tetangga yang peduli pada kelestarian sendang ini membersihkan sampah berupa dedaunan itu. Sejak saya masih kecil air sendang itu tidak berubah. Tetap sama,” jawab Pak Lolo.
“Maksudnya?” potong Nisa.
“Ya, seperti ini terus sepanjang tahun. Tidak pernah luber airnya di musim hujan, namun juga tidak berkurang di musim kemarau.”
Aku mengangguk-angguk. Membayangkan keberadaan sendang ini kira-kira 900 tahun yang lalu. Ada dua kemungkinan. Pertama, sendang ini berada di tengah hutan lebat. Kedua, sendang ini berada tidak jauh dari permukiman kaum ningrat pada masa itu. “Apa sejak dulu Jenggala merupakan desa terakhir sebelum orang sampai di sendang ini, Pak Lolo?” tanyaku.
“Menurut penuturan para leluhur memang begitu. Dulu katanya ada tiga dusun jauh di selatan Jenggala. Namun, ketiganya musnah karena diterjang lahar Gunung Kelud. Rumah dan semua penghuninya musnah. Tidak ada yang tersisa.”
“Tahun berapa peristiwa itu terjadi?” potong Nisa.
“Persisnya saya tidak tahu. Tapi sudah lama sekali, mungkin 200 tahun yang lalu, ketika Gunung Kelud meletus hebat,” jawab Pak Lolo. “Waktu itu semua warga Desa Jenggala pergi menyelamatkan diri. Selama hampir lima hari langit tampak gelap karena tertutup abu. Mereka baru berani kembali ke rumah setelah langit tampak cerah. Tebal abu yang jatuh di tanah konon lebih dari setengah meter. Setinggi lutut orang dewasa.”
Nisa lalu mengambil handycam dari tas dan mengambil gambar sendang dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Baginya, bisa menemukan sendang yang berhari-hari muncul di dalam mimpinya itu sudah merupakan surprise.
Semula aku menertawakan ketika ia meyakini bahwa sendang itu dulu merupakan bagian dari sebuah taman sari, tempat raja atau pangeran melepas lelah sambil bercengkerama dengan istri serta dayang-dayangnya. Terakhir ia malah meyakini bahwa di sendang itulah dulu Ken Dedes membasuh kaki dan tampak cahaya kebiru-biruan memancar keluar dari ujung pahanya. Cahaya yang menyilaukan mata Ken Arok dan membuat hatinya resah berhari-hari. Karena muncul keinginan hatinya untuk memperistri wanita cantik yang memiliki aura bidadari!
“Biasanya pada hari-hari apa sendang ini dikunjungi para peziarah?” tanyaku lagi. Nisa mengelilingi sendang sendirian.
“Tidak tentu,” jawab Pak Lolo.
“Kalau pada malam Jumat Legi?”
“Ya, sering ada dua atau tiga orang yang datang.”
“Mereka suami-istri?”
Pak Lolo menggeleng sambil tersenyum. “Saya tidak pernah menanyakan status para peziarah. Bukankah sekarang saya juga tidak bertanya, apakah Mas Sam suami Mbak Nisa, he…he…he….”
Benar juga! Sebuah pertanyaan yang naif dan malah menyodok ulu hatiku.
“Tapi tidak tampak bekas tempat orang membakar kemenyan?”
Pak Lolo menggeleng lagi. “Untuk apa membakar kemenyan? Bukankah tujuan para peziarah datang ke tempat ini tidak untuk memanggil roh halus?”
Lagi-lagi aku dibuat knock out! Jawaban Pak Lolo seperti pukulan hook yang langsung menghantam ulu hati.
“Biasanya peziarah berharap aura Ken Dedes bisa ikut merasuki tubuhnya. Dengan begitu, ia tampak makin cantik, bercahaya, dan tentu saja makin disayang suami atau kekasih,” ujar Pak Lolo.
“Mereka mandi atau sekadar cuci muka?”
“Ada yang mandi, ada yang cukup hanya mencuci muka saja.”
“Emmm.”
Tidak salah. Para wanita peziarah itu ingin memperoleh kecantikan dari dalam, bukan cantik polesan. Aku lebih setuju mereka berharap memperoleh aura Ken Dedes yang masih tertinggal di sendang daripada mereka melakukan operasi plastik! Soal aura itu sebenarnya ada atau tidak, tidak perlu dipersoalkan. Juga apakah di Sendang Pamotan ini dulu Ken Dedes mandi lalu memancar cahaya kebiru-biruan keluar dari pangkal pahanya, itu pun masih bisa diperdebatkan.
Sejarah tidak tertarik mencatat hal-hal yang remeh-temeh macam itu. Para pujangga keraton lebih tertarik menulis kisah perjalanan nasib seorang Ken Arok daripada sebuah sendang. Bagaimana tidak menarik. Dari anak muda berandalan bisa menjadi penguasa sebuah kerajaan. Bukankah ini jauh lebih menarik ditulis dan dibicarakan?
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dari arah puncak Gunung Kelud. Pertanda mau hujan?
Pak Lolo memberi isyarat agar Nisa segera kembali ke tempat kami berdiri.
“Sepertinya mau hujan,” ucap lelaki itu sambil mendongak melihat langit di balik rimbunnya dedaunan.
Aku mengangguk tanda setuju. “Nis, ayo sudahi dulu pekerjaanmu. Mau hujan!” teriakku.
“Kalau di hulu hujan deras nanti repot menyeberangnya. Saya tidak berani. Karena arus Kali Brantas sangat deras,” Pak Lolo menimpali.
Dari seberang sendang Nisa memberi isyarat bahwa ia tahu maksud kami. Langit memang tiba-tiba menjadi agak gelap. Hal yang biasa, di daerah pegunungan cuaca berubah mendadak, meski belum tentu hujan akan turun.
“Aura mistisnya tertangkap kamera,” bisik Nisa. “Jadi dugaanku tidak meleset. Aku makin yakin di sendang inilah dulu Ken Dedes mandi dan membuat Ken Arok jadi panas dingin berhari-hari.”
Untuk hal-hal yang berbau supranatural, Nisa lebih menguasai dan paham karena sejak kecil ia mengaku jadi anak indigo. Pada umur lima tahun ia biasa tidur menjelang subuh. Ketika kedua orang tuanya sudah pulas, ia justru terbangun dan bermain-main dengan makhluk astral berupa pocong dan wanita cantik berambut panjang. Ia tidak takut, sebab menurutnya pocong dan wanita cantik itu tampak lucu.
“Ini malam Jumat Pon,” celetuk Nisa, dalam perjalanan menuju Kali Brantas. “Menurut penuturan para sesepuh yang kuperoleh, Ken Dedes lahir dan meninggal dunia pada hari yang sama, yakni Jumat Pon.”
“Apakah pada masa itu sudah dikenal hitungan penanggalan Jawa?” tanya Pak Lolo.
Aku gelagapan tidak bisa menjawab. Untunglah dengan sigap Nisa menjawab, “Sudah. Pada prasasti Sukabumi tercantum lengkap tahun, bulan, hari dan weton. Prasasti bertanda tahun 726 Masehi itu sudah menyebut Wage. Nah, Ken Dedes lahir kira-kira pada abad ke-12, jadi penanggalan Jawa pasti sudah dipakai di mana-mana.”
Pak Lolo melongo mendengar jawaban yang tangkas dari Nisa. Mungkin ia tidak mengira perempuan yang berjalan di depannya itu suka mempelajari sejarah dan dunia supranatural.
“Tahun berapa persisnya Ken Dedes lahir?” kejar Pak Lolo penasaran.
Nisa tertawa. “Tidak ada yang tahu secara persis, Pak Lolo. Kitab Pararaton juga tidak mencatat. Namun, ketika Kerajaan Kadiri diperintah oleh Raja Kertajaya dari tahun 1185 sampai 1222, Tumapel masih di bawah kekuasaan Kadiri. Anggap saja Tunggul Ametung hidup di antara tahun-tahun tersebut, kemungkinan besar Ken Dedes lahir di sekitar tahun 1150. Bukankah ketika ia dilarikan Tunggul Ametung masih gadis murni?”
“Ya, ya, menurut cerita para leluhur memang begitu. Tunggul Ametung tidak sabar menunggu Mpu Parwa, ayah Ken Dedes, menyelesaikan tapanya. Lalu ia nekat membawa lari gadis asli Desa Panawijen itu ke Tumapel untuk dijadikan permaisurinya,” sahut Pak Lolo.
“Karena itulah, Mpu Parwa lalu mengeluarkan kutukan, siapa saja yang membawa lari anak gadisnya akan mati ditusuk keris. Namun, ia tidak mengutuk anak gadisnya. Justru ia berharap anak gadisnya memperoleh keselamatan dan panjang umur. Semua terbukti. Tunggul Ametung meninggal ditusuk keris oleh Ken Arok, sementara Ken Dedes hidup sampai tua. Namanya harum, bahkan ia disejajarkan dengan Dewi Prajnaparamita.”
Aku menghela napas. Langit tampak makin gelap. Beberapa kali terdengar suara halilintar menggelegar. Tepi Kali Brantas tinggal beberapa puluh meter saja di depan kami. Pak Lolo tadi menambatkan perahu di bawah pohon cangkring yang sedang berbunga. Banyak yang tidak tahu bahwa daun cangkring sebenarnya obat mujarab untuk mereka yang terserang cacar air. Daun cangkring dihaluskan dengan cara ditumbuk, lalu dioleskan di sekujur tubuh yang sakit. Biasanya, tidak sampai empat hari cacar air menghilang dengan sendirinya.
Perbincangan tentang sejarah selalu menarik. Karena ternyata ada beberapa versi jika seseorang bicara tentang sejarah. Termasuk sejarah Ken Dedes, Ken Arok, Tunggul Ametung dan anak turunannya yang melahirkan dinasti besar penguasa Kerajaan Majapahit!
* * * *
Kediri bagiku sangat menarik. Sebagai kota tua, ia masih lestari sampai sekarang, tidak menjadi bagian kota yang hilang. Bisa kita bandingkan dengan kota-kota lain yang dulu pernah mengalami masa kejayaan, namun sekarang surut tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Kita bisa memaklumi jika kota itu hilang akibat bencana alam yang dahsyat. Tapi, bagaimana jika jejak kejayaan sebuah kota hilang akibat dendam kesumat lawan? Bangunan-bangunan bersejarah yang megah dibakar atau sengaja dimusnahkan agar generasi penerus terputus mata rantainya dengan masa lalu yang gemilang!
Hmm.
Desa Jenggala tidak beda jauh dibanding desa-desa yang lain. Suasananya sepi begitu malam mulai merambat. Warganya diam di rumah masing-masing, menghangatkan diri sambil menonton televisi atau bercengkerama bersama keluarga.
“Ketika listrik belum sampai di dusun kami, begitu senja tiba, suasananya mirip kuburan,” seloroh Pak Lolo malam itu.
Aku dan Nisa sengaja menginap di rumahnya yang besar. Nisa tidur di kamar belakang, sedangkan aku di kamar depan berdampingan dengan ruang tamu. Semula kami diberi satu kamar. Namun, setelah kujelaskan bahwa kami belum terikat secara resmi sebagai suami-istri, tuan rumah mengalah. Kami lalu diberi kamar terpisah dan agak berjauhan.
Usai makan malam, kami berkumpul di ruang tamu. Aku, Nisa, Pak Lolo bersama istri dan seorang anak gadisnya yang sedang mekar. Sesaat aku terkesima melihat kecantikan istri tuan rumah. Sungguh, jauh dari gambaran wanita desa yang selama ini merasuki benak lelaki yang mengaku tinggal di kota. Pak Lolo mempersilakan kami memanggil istrinya Mbak Sekar. Usianya tampak jauh lebih muda dibanding suaminya. Kecantikannya alamiah, tanpa polesan. Sorot kedua matanya bercahaya, penuh wibawa dan rasa percaya diri yang tinggi.
“Desa Panawijen itu letaknya di timur Gunung Kawi. Ken Dedes lalu dibawa lari ke Tumapel. Cukup jauh. Pada masa itu satu-satunya sarana transportasi yang lazim dan masuk akal adalah kuda. Berarti Ken Dedes diajak naik kuda oleh Tunggul Ametung. Namun, tidak tertutup kemungkinan dia naik kuda sendiri. Bagaimanapun juga, Ken Dedes putri seorang pendeta Buddha. Dia pasti dihormati oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Pak Lolo, membuka pembicaraan.
Nisa segera membuka fotokopi peta kuno yang diperoleh dari temannya di Leiden. “Panawijen kira-kira berada di sini,” katanya sambil menunjuk dengan jari telunjuknya, “lalu Tumapel di sini. Sekarang kira-kira berada di utara Malang. Sedang Panawijen di timur Gunung Kawi berarti di selatan Malang. Sebenarnya tidak begitu jauh, Pak Lolo.”
“Untuk ukuran masa itu?”
Nisa tersenyum.
“Untuk sampai Tumapel, pasti harus melewati hutan lebat. Mungkin sudah ada jalan setapak yang hanya bisa dilewati kuda.”
“Ya, ya, masa itu belum dikenal angkutan berupa kereta. Apalagi semacam kereta kencana. Tradisi pembuatan kereta kencana karena pengaruh kerajaan di Eropa yang dibawa oleh Belanda,” sahut Nisa.
“Bukankah di pewayangan sudah digambarkan bahwa para kesatria dan raja-raja biasa naik kereta?” selaku.
Nisa tertawa. “Pada masa itu cerita pewayangan belum populer, Mas Sam. Jangan dibandingkan dengan zaman sekarang. Apalagi pada masa itu belum banyak terjadi kunjungan budaya antarbangsa. Tamu kerajaan yang datang justru dari Tiongkok. Tapi, mereka tidak mau membagikan kemajuan peradaban di sana, justru malah rajin mencatat berbagai macam jenis rempah yang dihasilkan bumi Nusantara. Rempah-rempah itu mereka bawa pulang ke negeri Tiongkok dan di sana diolah jadi obat yang mujarab. Nanti Tiongkok kembali mengirim para tabib sekalian mengenalkan obat-obat hasil olahan mereka,” ujarnya.
Pak Lolo mengangguk-angguk, begitu juga Mbak Sekar. Mereka seperti mendapat tamu seorang guru sejarah.
“Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin Sendang Pamotan bisa ada di dekat Desa Jenggala? Ini sangat jauh!” tukasku sok tahu. Kulirik Mbak Sekar yang tetap diam, namun selalu menyungging senyum di bibirnya.
“Mudah jawabnya,” sahut Pak Lolo. Lelaki itu seolah tidak mau kalah wawasannya dibanding tamunya. “Kemungkinan besar setelah memperistri Ken Dedes, sebagai akuwu, kalau sekarang setingkat camat, ia harus sowan raja untuk memperkenalkan istrinya. Nah, dalam perjalanan itulah rombongan mampir di Sendang Pamotan. Lalu terjadi peristiwa yang menghebohkan dan tercatat di dalam sejarah, ternyata Ken Dedes seorang nariswari!”
Perempuan nariswari artinya perempuan utama. Dari rahimnya bakal lahir raja dan keturunannya pun kelak juga akan menjadi raja. Hal itu nanti terbukti bahwa para penguasa Majapahit masih punya hubungan darah dengan Ken Dedes!
“Apakah para perempuan Desa Jenggala dan sekitarnya memercayai mitos Sendang Pamotan?” tanya Nisa.
“Ya, ya!” jawab Pak Lolo cepat. “Besok Mas Sam dan Mbak Nisa bisa melihat sendiri paras ayu para perempuan Desa Jenggala dan sekitarnya. Meski lahir dari keluarga petani, wajah anak-anak perempuan di sini cantik-cantik. Lihat saja wajah istriku, ha... ha… ha…,” seloroh laki-laki itu sambil menunjuk istri dan anak gadisnya. “Cantik, bukan?”
“Cantik!” jawabku spontan. Nisa langsung memonyongkan bibirnya tanda mencibirku.
“Setelah memperoleh haid yang pertama, biasanya anak gadis Desa Jenggala akan diminta berendam di Sendang Pamotan. Ritual itu kami beri nama Luru Ayu, atau berburu kecantikan. Hal itu sudah terjadi puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun. Semua keluarga yang punya anak gadis pasti melakukan ritual Luru Ayu,” tutur Pak Lolo.
“Baru sekarang aku tahu ada ritual Luru Ayu. Biasanya pada bulan apa hal itu dilakukan masyarakat Desa Jenggala?” tanya Nisa.
“Bulannya tidak tentu. Tergantung keluarga yang mau mengadakan ritual tersebut. Yang penting setelah anak gadis dari keluarga tersebut selesai dari haid pertamanya,” jawab Pak Lolo.
“Mbak Sekar dulu juga pernah melakukan ritual Luru Ayu?” tanyaku sambil menatap wajah ibu muda itu.
Mbak Sekar tidak segera menjawab. Ia malah tampak tersipu-sipu. Sesaat kemudian ia memandang suaminya, lalu memandang anak gadisnya yang sudah tampak mengantuk.
“Ceritakan saja, Ma,” pinta Pak Lolo.
Nisa menoleh ke arahku. Matanya terbelalak. Mungkin kaget dan nyaris tidak percaya, ternyata panggilan Mama untuk mengganti Ibu bukan monopoli orang kota! Para perempuan di pelosok Kediri ini pun tidak mau ketinggalan mengikuti budaya masyarakat modern di kota-kota besar!
“Waktu itu saya baru berumur 14 tahun, baru saja lulus sekolah dasar. Setelah haid yang pertama rampung, seminggu kemudian keluarga menggelar upacara Luru Ayu,” cerita Mbak Sekar. “Saya tidak sendiri, ada tiga teman yang juga sama-sama mengikuti upacara itu.”
Aku dan Nisa mengangguk-angguk mendengar cerita istri tuan rumah.
“Apa yang terjadi ketika Mbak Sekar berendam di Sendang Pamotan?” tanyaku.
“Tidak terjadi apa-apa. Cuma kedinginan.”
“Berapa lama berendamnya?”
“Kira-kira dua jam. Mulai dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh.”
“Kami memercayai bahwa Ken Dedes waktu mandi di sendang itu juga antara jam delapan sampai jam sepuluh pagi. Sinar matahari belum tertutup kabut. Meski di sekeliling sendang banyak pohon, masih ada celah-celah diterobos hangatnya matahari pagi,” potong Pak Lolo.
“Ooo, ya, ya, tidak begitu dingin jadinya,” celetuk Nisa.
“Hanya begitu ritualnya?” kataku.
“Malam harinya saya bermimpi didatangi wanita cantik. Ia hanya mengenakan kemben, rambutnya terurai panjang hampir sampai di ujung kaki. Wanita itu tersenyum lalu menyelipkan bunga mawar di telinga saya. Ternyata tiga teman saya juga mengalami mimpi yang sama,” tutur Mbak Sekar.
“Apakah ada cerita bahwa Ken Dedes dulu suka bunga mawar?” tanyaku.
“Mungkin sekali. Karena di sini pohon mawar tumbuh di mana-mana. Warnanya pun tidak hanya merah, ada putih, kuning, dan pink,” sahut Nisa.
Pak Lolo mengangguk-angguk. “Kadang-kadang wanita yang hadir dalam mimpi itu juga memberi bunga anggrek, bunga matahari, dan bunga lain yang tumbuh di Desa Jenggala dan sekitarnya. Kami percaya bahwa dia itu Ken Dedes yang sedang menularkan kecantikannya untuk anak-anak gadis desa kami. Nyatanya, Mas Sam lihat sendiri.”
“Ya, ya. Bagaimana kamu Nis, mau berendam di Sendang Pamotan?” godaku sambil tertawa.
“Ah, mana mau Ken Dedes bagi-bagi kecantikan dengan janda dua anak? Sudah kasep!” jawabnya, sambil tertawa.
“Lho, Mbak Nisa ini...,” Mbak Sekar tidak melanjutkan kalimatnya.
“Janda, Mbak, ha... ha… ha… dua anak lagi. Ken Dedes sudah tidak mau membagikan kecantikannya untukku.”
“Siapa bilang?” tukas Pak Kolo.
“Nah, dengar itu!” aku menimpali.
“Lho, Adek sudah ngantuk?” sapaku, kepada putri tuan rumah yang kelihatan matanya sudah mengantuk berat.
“Okta tidur dulu sama Mama. Papa masih menemani Mas Sam dan Mbak Nisa,” kata Pak Lolo kemudian. “Nanti Papa menyusul.”
Mbak Sekar lalu menarik tangan anaknya dan digandeng menuju kamar tidur di belakang. “Maaf, kami tidur duluan,” katanya sembari melempar senyum.
“Aku juga mau menyusul Mbak Sekar. Capek, ingin meluruskan badan,” kata Nisa kemudian.
“Lha monggo, selamat menikmati udara dingin lereng Gunung Kelud,” ucap Pak Lolo.
Nisa melempar senyum padaku, lalu melambaikan tangan. Ia membiarkan fotokopi peta kuno tergeletak di atas meja.
“Mas Sam juga mau masuk kamar?” tanya Pak Lolo.
“Kalau aku ingin jalan-jalan sendiri di luar, bagaimana?”
“Oh, silakan. Aman, aman. Kalau nanti ada yang bertanya, jawab saja Mas Sam tamu saya.”
“Terima kasih, Pak Lolo,” sahutku sambil merapatkan jaket.
Udara terasa makin dingin. Tapi, karena belum ngantuk, aku ingin merasakan suasana Desa Jenggla malam hari. (Bersambung)
Baca juga:
Arus Kali Brantas [2]
Arus Kali Brantas [3]
Topic
#FiksiFemina


