Family
Sudahkah Anda Memberi Pendidikan Seks dan Gender Pada Anak Di Rumah?

24 Jun 2016


Foto: Fotosearch

Budaya patriarkat yang memercayai bahwa kedudukan pria  di atas wanita dan apalagi jika sudah masuk unsur agama di dalamnya, membuat pola pandang masyarakat terhadap wanita menjadi sempit, terpaku pada stigma itu. Padahal pendidikan gender perlu ditanamkan sejak dini, bersamaan juga dengan pendidikan tentang seksualitas. Bagaimana para orang tua mengenalkan tentang gender dan pendidikan seks pada anaknya

Najelaa Shihab, 39, Penggiat Pendidikan & Pendiri Sekolah Cikal
Untuk usia anak-anak TK, kami mengajarkan tentang bagian pribadi mereka yang tidak boleh disentuh orang lain hingga underwear rule. Ketika di tingkat SD kelas 4, pembahasannya akan lebih kompleks, salah satunya seperti pubertas. Atau di SMP, kami  sudah membahas tentang perbedaan love dan attraction, atau apa itu bad secret dan good secret. Ini penting diajarkan karena banyak anak yang menjadi korban kekerasan seksual karena harus menutupi rahasia.
           
Pembahasan tentang pertemanan kami jelaskan kepada anak-anak yang sudah tergolong remaja. Kendati mereka sudah akrab dengan pacar-pacaran, kami ajari untuk berani berkata tidak untuk seks dalam sebuah hubungan, walaupun mereka suka sama suka.  Begitu juga untuk berani menolak atau mengatakan tidak, jika enggan dicium, bahkan oleh orang tua mereka sendiri. Ini mendorong anak-anak menghormati dan memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Selain itu, anak-anak perlu dilatih tentang kemampuan sederhana bagaimana masuk ke toilet di tempat umum, bagaimana berjalan di tempat yang sepi dan memercayai instingnya atas sesuatu yang mencurigakan.
           
Sebenarnya, menurut saya, yang penting bukan tentang pelajaran seksualitas dan relationship saja. Kami menerapkan sistem edukasi disiplin positif, sehingga anak tidak diancam, ditakut-takuti, atau diberi hukuman. Tanpa kita sadari hal itu berhubungan dengan kekerasan seksual. Para korban banyak yang terbiasa dengan kekerasan seksual karena takut diancam dan diberi hukuman. Dan tentunya, kami mengikutsertakan orang tua pada  tiap bimbingan yang kami berikan, bahwa mereka juga harus bisa memahami tentang pendidikan seks dan gender secara utuh serta diterapkan dalam keluarga mereka.
 
 
Nayu Novita, 37, Penulis Lepas
Proaktif Ajarkan di Rumah
Sejak terkuaknya kasus pelecehan seksual di sekolah internasional beberapa tahun lalu,   saya lebih waspada menjaga anak. Pendidikan tentang seks pun saya terapkan kepada kedua anak saya, Alika Maheswari (10) dan Narendra Sidrakamil (6). Misalnya, tentang underwear rule, yang mana orang lain tidak boleh melihat dan menyentuh bagian tubuh privatnya, kecuali orang tua dan kakek-nenek.

Kepada si kecil, penjelasannya tentu dengan bahasa kasual yang mudah dimengerti. Sementara kakaknya, yang sudah kelas 4 SD, pembahasannya lebih dalam. Misalnya saja tentang menstruasi yang dialami oleh anak berusia 10-12 tahun, bahwa ini adalah pertanda seorang wanita sudah bisa punya anak.
Sejak kecil   saya juga sudah biasakan anak untuk menyebut kemaluannya dengan nama yang sesungguhnya, bukannya dengan istilah ‘burung’ atau yang lainnya. Ini sengaja saya dan suami lakukan agar kami ingin nantinya pembahasan tentang seksualitas bukan menjadi hal yang tabu untuk dibahas.

Beruntung, sekolah swasta tempat anak saya sekolah juga membekali edukasi seks  pada murid-muridnya. Dari kelas satu, sudah diajarkan underwear rule. Begitu juga dengan bahasan pubertas, apa yang akan terjadi dan apa saja perubahan yang akan dirasakan. Nantinya, ketika mereka sudah sampai di kelas 5, materi pengajaran akan lebih dalam membahas tentang seksualitas secara lebih terperinci.

Selain edukasi seks, rasanya penting juga untuk menjelaskan kepada anak bahwa pria harus bisa menghargai wanita dan memandangnya sederajat. Karena, jika ingin dihormati, kita pun harus bisa memperlakukan orang lain dengan hormat tanpa pandang status ekonomi, gender, atau  agamanya.

Apa yang pernah saya amati dari orang tua saya, juga saya ajarkan kepada anak-anak. Kendati orang tua saya dulu tidak vokal dalam mengajarkan seks,   mereka tidak pernah membedakan peran dalam rumah tangga.   Misalnya, tidak membedakan mana pekerjaan wanita dan mana pekerjaan pria dalam rumah tangga. Buktinya saja, dulu ayah saya tetap pergi ke pasar, jika ibu tidak bisa. Ini ingin saya wariskan kepada kedua buah hati saya.
 
 
Utin Rustini, 52, Kepala Sekolah SDN Kotabaru 02 Bogor
Merasa Risi
Pernah, dalam sebuah buku LKS terdapat soal yang membahas tentang  pubertas. Namun ternyata, hal itu dipermasalahkan oleh beberapa orang tua murid yang melaporkan keluhannya kepada kami. Mereka menganggap bahwa itu belum tepat untuk diajarkan kepada anak-anak, dengan alasan terlalu vulgar dan belum dapat dimengerti mereka.

Rasanya memang terlalu dini jika mengajarkan tentang pendidikan seks kepada anak-anak SD. Jangankan tentang seksualitas secara terperinci, pelajaran IPA yang mengajarkan pubertas di kelas 6 saja, anak-anak sudah menanggapinya dengan tawa sambil bercanda-canda.

Tidak  dipungkiri, kebanyakan guru pun   risi  ketika mengajarkan hal-hal tersebut kepada anak-anak. Kami sungkan mengajarkannya, takut anak-anak akan mencoba hal-hal yang negatif setelah diajarkan. Bingung juga sebenarnya bagaimana cara menerangkan yang tepat, agar anak-anak tidak menanggapinya dengan salah, tapi kontennya juga tetap dipahami oleh mereka.

Dari Dinas Pendidikan pun tidak ada anjuran ke sekolah-sekolah negeri di Bogor untuk mengajarkan tentang pendidikan seks secara lebih detail dan luas. Dalam kurikulum kita sekarang saja, pembahasan tentang seks hanya ada di pelajaran IPA. Itu pun hanya diajarkan pada permukaannya saja, tentang ciri-ciri pubertas, sistem reproduksi wanita dan pria, hingga proses pembuahan terjadi. Sementara materi yang mengajarkan anak-anak bagaimana berperilaku, tidak ada sama sekali.

Namun,  makin banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak-anak dan juga dilakukan oleh anak di bawah umur, membuat kami resah. Hingga akhirnya, di sela-sela pelajaran, para guru berinisiatif sendiri untuk memberikan  imbauan kepada anak-anak untuk memperlakukan wanita dengan hormat dan tidak lancang. Para guru juga mengajarkan cara berpakaian yang sopan, misalnya jika mengenakan rok harus mengenakan legging juga di dalamnya. Kami juga khawatir, anak-anak didik kami akan menjadi korban pelecehan seksual. Karena itu, kami   antisipasi dengan memberitahukan mereka apa yang harus dilakukan.
 
Laras Sardiputri, 22, Mahasiswi
Pendidikan Seks dari Agama
Di sekolah, pendidikan seks saya dapatkan saat SMA. Namun, hanya sebatas ilmu tentang sistem reproduksi   dalam pelajaran biologi. Sesekali ada penyuluhan yang diadakan sekolah, membahas tentang menstruasi dan HIV/AIDS.

Kedua orang tua juga  tidak pernah secara frontal mengajarkan seks secara terperinci. Mungkin  bagi mereka hal ini masih dianggap tabu untuk dibahas secara gamblang. Sebagai gantinya, mereka memberikan amanat dari aspek agama. Misalnya, mereka akan memberikan ajaran   yang haram dan halal, seperti ada batasan bergaul dengan lawan jenis yang bukan muhrim, memakai pakaian yang sopan, hingga penjelasan bahwa seks bebas itu dilarang agama.

Ketika diajarkan tentang seks bebas yang dilarang oleh agama, saya menjadi penasaran mengapa tidak boleh. Sebab, saya tidak mengerti maksudnya apa. Orang tua tidak menjelaskan alasan mengapa seks tak boleh dilakukan. Saya pun mencari jawabannya di internet. Tidak jarang juga saling berbagi cerita di antara teman-teman yang lebih memahami tentang hal itu, atau mencari informasinya lewat buku-buku. Cukup kaget juga melihat banyaknya situs porno di internet ketika saya mencari tahu tentang seks ini.
           
Kendati kedua orang tua tidak terlalu terbuka mengajarkan seksualitas,  mereka cukup modern untuk mengajarkan saya tentang kesetaraan gender. Mereka memberi  tahu bahwa wanita itu harus sama dihargainya dengan pria, berani berkata tidak karena kita memiliki hak atas tubuh kita sendiri. Selain dari orang tua, pandangan tentang kesetaraan gender ini juga sering saya dapatkan dari buku, obrolan dengan teman-teman, atau dari  film yang sering saya saksikan. (f)  
 


Topic

#Kejahatanseksual

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?