
Foto: screengrab Youtube/ Jihad Selfie
Sebuah film dokumenter terbaru yang berjudul Jihad Selfie, menjadi perbincangan di media sosial. Film ini dibuat oleh Noor Huda Ismail, pria lulusan Pondok Pesantren Ngruki, Sukoharjo, yang kini tengah menempuh pendidikan PhD di Universitas Monash, Australia. Mengikuti kehidupan seorang remaja asal Aceh yang mendapat beasiswa sekolah di Turki, bernama Teuku Akbar Maulana (17).
Akbar menceritakan kegelisahannya, setelah dua temannya bergabung dalam kelompok radikal ISIS. Keduanya lalu mengajak Akbar bergabung, via Facebook Messenger.
"Tiba-tiba dia nongol di status FB-nya, Mas. Selfie! Gagah dan keren banget Mas dengan pakaian militer dan bawa AK 47. Dia 'berjihad' di Suriah," ujar Akbar pada Noor Huda.
"Lewat FB Messenger, dia mengajak saya ke sana. Katanya asyik banget. Bisa makan kebab setiap hari, naik kuda, dan benar-benar bisa menembak," ujar Akbar.
Film berdurasi 49 menit tersebut berisi fakta perekrutan kelompok radikal negara Islam Irak dan Suriah. Kelompok ini menggunakan media sosial untuk merekrut anggota baru, terutama dari kalangan muda. Film ini seolah mengingatkan kembali akan bahaya radikalisme yang dengan mudah bisa memengaruhi para remaja, yang hidupnya sangat akrab dengan dunia online.
Berikut adalah lima pelajaran dari film Jihad Selfie, yang perlu diwaspadai para orang tua, agar anak-anak kita tidak mudah terjerat kampanye rekrutmen radikalisme di dunia maya.
1/ Image 'cool' yang dibangun kelompok radikal di mata kalangan para remaja. Tersebarnya foto-foto selfie para anggota ISIS yang sengaja disebarkan. Mereka seolah menciptakan image foto memegang senjata, mengenakan seragam militer, penutup kepala, dan penutup wajah, sebagai sesuatu yang keren dan layak ditiru. “Bagi saya, daya tariknya seperti bergabung dengan tentara dan polisi. Cuma, bedanya ini pake seruan “Allahu Akbar”. Imajinasi membawa senapan, berseragam, dan dilihat banyak orang, itu dianggap keren,” ujar Noor Huda.
2/ Kelompok radikal ISIS gencar berkampanye di media sosial dan memang menyasar untuk merekrut kaum muda. Sebagaimana layaknya kampanye digital, ISIS juga menggunakan hashtag dan strategi branding dalam perekrutannya. Mereka juga aktif menyebarkan video eksekusi, pidato propaganda, selfie, bahkan komunikasi secara personal via internet messenger dengan orang-orang yang akan direkrut. Salah satu video propaganda yang beredar adalah video Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi yang diunggah ke Youtube, mengatakan, “Saya mengajak para pemuda muslim dari seluruh dunia untuk bergabung dengan pilar kekhalifahan Islam dan melancarkan jihad.” Kampanye dalam bahasa Arab ini juga disertai terjemahan bahasa Inggris-nya. Selain Youtube, kampanye serupa juga dilakukan di Twitter, Facebook, dan Instagram, dari akun para anggota ISIS. Hingga saat ini, jumlah mereka mencapai lebih dari 20.000-an orang yang berasal dari 80-an negara. Menurut situs Aljazeera, ada sekitar 1.000 orang dari Asia tenggara yang bergabung dalam ISIS. Paling banyak berasal dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina.
3/ Kuatnya pengaruh ajakan dari peer influencer. “Kenapa anak muda gampang tergoda masuk jaringan terorisme? Selain kegagalan pola asuh, faktor pertemanan juga turut memengaruhi seorang remaja bergabung ke kelompok radikal,” tutur Noor Huda, dalam siaran Ruang Publik Radio 68H, akhir Juli lalu. Seperti juga yang terjadi pada Akbar, yang hampir memutuskan bergabung dengan ISIS setelah menerima ajakan dari kedua teman mainnya. Lewat internet, Akbar menemukan sosok lain bernama Wildan Mukhallad, remaja asal Lamongan seusianya yang melakukan bom bunuh diri di Irak tahun 2014. Wildan menjadi inspirasi baginya untuk membulatkan tekad berjihad bersama ISIS.
4/ Gerakan radikal memainkan sisi rentan anak muda yang labil, mudah terpengaruh, serta dalam masa pencarian identitas dan jati diri. Seperti juga yang ditulis oleh Noor Huda, yang mengutip dari penulis Inggris, George Orwell, yang pernah me-review buku Mein Kampf Adolf Hitler. "Hitler menemukan bahwa manusia itu tidak hanya ingin perdamaian, keamanan, kenyamanan, dan kebebasan. Mereka juga ingin petualangan, kejayaan, dan pengorbanan diri." Tawaran untuk mendapatkan petualangan dan pengorbanan diri, itulah yang ditawarkan oleh kelompok radikal.
5/ Pentingnya menjaga kedekatan, kehangatan, dan bonding dengan anak, adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menepis anak terjerat radikalisme. Dalam sebuah wawancara, Akbar berkata, akhirnya ia tidak jadi bergabung dalam ISIS. Kedekatan dengan orang tuanya lah yang pada akhirnya menyadarkan dirinya. Terutama sosok ibunya, membuat dirinya menangis di hadapan guru hafalan Qur’an di Turki. Ia pun membatalkan niatnya bergabung dengan ISIS.
“Pesan utama yang ingin disampaikan dalam film ini, bahwa radikalisme adalah isu kompleks, tetapi dapat dicegah melalui peran keluarga, membangun hubungan serta komunikasi yang sehat dan hangat dengan anak-anaknya,” ujar Noor Huda. (f)
Baca juga:
Fenomena Karin 'Awkarin' Novilda dan Generasi Swag, Inilah 7 Alasan Kenapa Para Orang Tua Perlu Cemas
Topic
#Radikalisme




