
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Pulang (Bagian 6)

|
|
| |
Vero menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap suara sekecil apa pun di pagi buta itu. Tak lama terdengar suara kunci diputar perlahan dan derit pintu dibuka dari arah kamar Meiska. Pelan-pelan ia beranjak turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya sendiri. Mengintip.
Dari kamar yang lain muncul Meiska dengan dandanan lengkap dan baju yang dipakainya sejak semalam. Terlihat Meiska berjingkat, menapak pelan-pelan menyusuri lorong menuju dapur, memutar kuncinya, membuka pintu dapur, menutupnya kembali dan keluar menembus dingin pagi.
Vero mendesah. Seperti perintah Bari, ia harus mengawasi Meiska dan mencegahnya melakukan hal-hal yang tidak perlu. Tidak hanya itu, ia juga harus melaporkan gerak-geriknya yang aneh kapan saja. Vero tahu, tidak biasanya Meiska kelayapan di pagi buta. Seperti juga dirinya, subuh adalah awal tidur sebagian besar penghuni kompleks.
Vero menguap menutup pintu kamarnya dan membaringkan diri kembali ke tempat tidur. Sebelum jatuh ke alam tidur, Vero menggumam sebal, “Orang mo pacaran saja tra boleh. Aneh.”
Kabut pagi menyelimuti seluruh permukaan danau, membuat bumi terasa basah dan segar. Di ufuk timur semburat pertama sinar mentari mulai muncul ke alam raya. Sinarnya membentuk seleret panjang cahaya jingga sampai ke angkasa.
Meiska membeliakkan mata. Inilah kabut pagi yang coba dicarinya selama ribuan hari di waktu-waktu yang salah. Kini seluruh jagat raya menyajikan keindahannya sendiri, putih, kelabu, dingin sekaligus menenteramkan. Meiska bernapas dalam-dalam, mencoba merasai kesegaran pagi. Di sebelahnya duduk Anton yang mencakung dengan canggung.
Meiska menyapu wajah pemuda itu. Tampak olehnya keseluruhan sosok Anton. Begitu muda, tampan, tegas sekaligus lembut. Belum pernah dalam hidupnya ia merasakan kerinduan yang memabukkan seperti saat ini. ”Mas sedang mikir apa?”
Anton menunduk. Diamatinya wajah Meiska yang tengah bersandar di bahunya. Rasa letih yang sangat terekam pada matanya. Anton tahu betul, demi saat ini, gadis muda ini rela memundurkan waktu tidurnya. Pagi adalah malam yang kelewat larut bagi Meiska.
“Ndak kangen rumah, Meis?”
Meiska mendesah. Ingatannya segera melayang pulang dan mendarat pada sepetak kebun apel milik bapak dan simbok-nya. Saat kedua orang tuanya belum terjerat utang, kebun apel itu terlihat hijau sempurna. Itu menggambarkan optimisme dan keriangan keluarga sederhana ini. Meiska suka memandangi buah-buah apel bergelantungan di cabang-cabang pohon. Air liurnya keluar saat mengingat gerumbul buah apel Ana yang berwarna merah cerah, tapi rasanya luar biasa asam.
Rasa rindu memenuhi dadanya. Rindu akan kampung halaman dan seluruh isinya. ”Kangen tentu.”
Anton menguatkan hati. Sejak awal kedatangannya ke tempat ini, ingin ia menyampaikan yang satu ini. Puluhan hari telah berlalu. Ia belum mendapatkan kesempatan. Kini kesempatan itu datang tiba-tiba. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Ndak pingin pulang?”
Meiska terkesiap. Ditegakkannya tubuhnya. Ditatapnya wajah Anton lekat-lekat. Ada kesungguhan dalam kata-katanya. Meiska segera memalingkan wajah. Disapunya seluruh danau. Kabut pelan-pelan naik membuat bukit di seberang menjadi terlihat hijau kekuningan.
“Pulang?”
”Ya. Pulang.”
”Entahlah, Mas,” jawab Meiska gagap.
”Ini persoalan niat, Meis. Kalau kamu sungguh-sungguh menginginkannya, kamu pasti bisa pulang.”
Rasa ngeri menjalari dada gadis ini. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek untuk dilalui. Entah kenapa, setelah sekian waktu Meiska mulai mencintai tempat ini. Meiska merenung dalam-dalam.
Vero heran melihat hasil kerja Meiska terhadap cakalang asap yang tengah disuwir-suwirnya. Cakalang yang telah diasap itu seharusnya disuwir-suwir, disobek-sobek, kasar, sebesar kelingking orang dewasa. Seharusnya Meiska tahu itu. Tapi, lihatlah hasil kerjanya kali ini. Meiska terus menyuwir lagi, lagi, dan lagi sampai suwiran itu menjadi luar biasa halusnya. Meski tidak berkenan, Vero membiarkan saja kerja amburadul itu. Vero tahu benar, bila sedang gundah, segala sesuatunya berakhir dengan chaos bagi Meiska.
“Ver....”
“He-em.”
“Pernah terpikir untuk pulang?”
Vero menatap sahabatnya penuh kasih. Tujuh tahun bersama, sejak dari Sorong dulu, membuat keduanya bagai dua saudara sejiwa. Pulang, bagi wanita seperti mereka, bisa bermakna ganda. Pulang bisa berarti benar-benar pulang ke rumah orang tua di kampung halaman. Tapi, pulang pun bisa berarti berhenti dari pekerjaan maksiat ini.
Vero mencoba menebak maksud pertanyaan Meiska dengan makna yang kedua. Dalam kasus dirinya, ia
belum nenemukan cantelan yang tepat untuk ’pulang’.
“Kenapa? Ada yang su ajak ko untuk kawinkah?”
Meiska menengadah, menatap langit-langit dapur yang menghitam karena jelaga. Pikirannya kembali menerawang ke pinggir danau. Kalau saja Anton menanyakan itu, dengan senang hati ia akan pulang, apa pun risikonya. Tapi, Anton, seingat Meiska, hanya membicarakan pulang, pulang yang sebenar-benarnya pulang alias kembali ke rumah bapak dan simbok-nya.
Meiska menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maksudnya apa? Bolom (belum) ada yang ajak ko kawin?”
Meiska menengadahkan kepala, menatap Vero dengan wajah lugu. Kemudian, jawabnya lirih, “Sa tra tau.”
”Bagaimana tra tau mo bicara pulang?”
Meiska kembali menggelengkan kepala. Kesedihan kini memenuhi dadanya.
Vero berpikir keras. Bila demikian faktanya, pulang yang semacam ini sungguh berisiko. Pulang berarti menjadi pengangguran yang punya potensi kembali ke kehidupan miskin melarat di kampung halaman. Tapi, pikiran terakhir ini tak hendak dibaginya dengan Meiska. Melihat wajah berantakan sahabatnya, realitas
sekecil apa pun yang coba didesakkan padanya akan membuat hati gadis ini hancur berkeping-keping.
“Sudah… tra usah pikir macam-macam. Bawa sini itu cakalang... eee… ko su bikin cakalang jadi bubur.”
Bagai robot Meiska mengangkat wadah berisi suwiran cakalang dan mengangsurkannya kepada Vero. Setelahnya ia kembali duduk di depan pintu masuk ke dunianya yang lain. Vero hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat itu.
Bersambung
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana Pemenang I sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Cerita Terkait :

» Pulang (Bagian 1)

» Pulang (Bagian 2)

» Pulang (Bagian 3)

» Pulang (Bagian 4)

» Pulang (Bagian 5)

» Pulang (Bagian 7)

» Pulang (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|