
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Kepak Sayap Merpati (Bagian 9)

|
|
| |
Sesampainya di markas, Alex sudah memberinya isyarat untuk masuk ke ruang pimpinan. ”Selamat pagi, Komisaris Reinhard,” sapanya, kepada pria yang sedang mengamati dua layar komputer.
“Silakan masuk, Ben, duduk. Ke mana saja kamu pagi ini? Kau bahkan tidak memberi tahu partnermu. Bukan tindakan bijaksana untuk melakukan hal-hal pribadi saat jam dinas.”
“Maaf, ada sesuatu yang harus aku selesaikan, tidak akan terjadi lagi,“ jawab Ben. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia mengunjungi Katrin di rumah sakit. Ia tahu atasannya tidak bisa bertoleransi pada keperluan pribadi yang dilakukan pada jam dinas.
“Kau terlihat kacau, kapan terakhir kali tidur?” tanya Reinhard.
“Jangan khawatir, Bos. Saya baik-baik saja. Boleh saya pergi?” tanya Ben. Dengan anggukan kepala ia mempersilakan Ben keluar dari ruangannya.
“Oh, ya Ben, pengacara cerai Schmidt sudah menghubungiku sejak tadi pagi. Ia memerlukan berkas kasus Homberg bulan lalu. Bisakah kau menyerahkannya hari ini?”
“Ya, tentu saja,” Ben menepuk keningnya. Kasus Homberg, kasus kekerasan dalam rumah tangga. Siapa yang bisa melupakan Anna Homberg? Wanita dengan buah dada berukuran minimum 38B itu telah memukuli suaminya dengan hak sepatu.
“Ben, ada yang mencarimu. Pesawat 2,” kata Alex. Ben bergegas kembali ke kursinya dan meraih gagang telpon.
“Benhard Hiller, markas besar kepolisian Dortmund. Ada yang bisa saya bantu?“
“Halo, Ben. Ini Katrin, maaf mengganggu,” suara gadis itu kedengaran seperti dari dunia lain.
“Ya, ehm, tentu saja tidak...,“ Ben berusaha supaya nada suaranya terdengar formal.
“Aku baru saja teringat ucapanmu di atas gedung itu. Persisnya aku sudah lupa. Kurang lebih kau mengatakan pasti ada orang yang cemas kalau melihatku bergelantungan di gedung itu. Gadis itu terdiam beberapa saat, seperti sedang mengumpulkan keberanian. “Ben, apakah kau bersedia menyertaiku menemui orang itu?” suaranya tersendat-sendat.
“Tentu saja, katakan siapa dan di mana alamatnya,“ jawab Ben cepat, sambil meletakan jemarinya di komputer untuk mencari data orang yang dicari.
“Ben, aku sendiri tidak yakin. Aku harap orang itu masih tinggal di Indonesia,“ kata gadis itu. Ben menopang dahi dengan tangannya. Alex menatapnya dan memberi isyarat apakah semuanya baik-baik saja. Ben mengangguk. Tentu saja orang yang dimaksudkan Katrin adalah ibunya, pikir Ben.
“Apakah kau masih ingat alamat kalian dulu pernah tinggal?” tanya Ben.
“Aku sudah lupa,” gadis itu baru sadar bahwa ia tidak pernah tahu alamat lengkap semasa ia tinggal di Karimunjawa. “Tunggu dulu, kalau tidak salah, pamanku memiliki penginapan terapung, namanya Karimun indah.”
Kalau tidak salah? pikir Ben. Ia membutuhkan informasi yang menyakinkan, bukan informasi yang kemungkinan salah. Ia meminta Katrin untuk kembali menghubunginya esok hari pada jam yang sama. Ben sudah meletakkan gagang telepon sebelum menyadari kebodohannya. Bukankah akan jauh lebih baik, jika ia yang menghubungi gadis itu? Ia mencari alamat dan nomor Katrin di komputer. Selain nomor pembayar pajak dan asuransi sosial, ia tidak menemukan informasi yang ia butuhkan. Ia harus melakukan sesuatu.
“Ada apa lagi, Ben?” tanya Komisaris Reinhard, ketika ia melihat Ben berdiri di depan pintu ruangannya.
“Saya mau minta izin untuk cuti,” kata Ben.
“Begitu mendadak?” tanya Reinhard.
“Mulai besok. Minggu ini saja. Hari Senin depan saya sudah berada di markas,” jawab Ben.
“Mulai besok? Apakah ada hal yang mendesak Ben?“
“Ya, bisa dikatakan begitu. Urusan keluarga. Lagi pula, saya tidak mau melewatkan pertandingan Borussia Dortmund hari Sabtu minggu depan. Sesuai permintaan, saya akan tetap menyerahkan laporan yang Anda minta hari ini juga,” kata Ben. Atasannya menatapnya dengan kening berkerut. Sebelum mendengar pertanyaan lebih lanjut, Ben sudah mengucapkan kata permisi dan berlalu dari hadapannya.
”Apakah semua baik-baik saja, Ben?” tanya Alex. Tidak ada jawaban.
“Ben!” panggil Alex sekali lagi. Kali ini dengan nada yang lebih keras. Ia melihat wajah partnernya yang setengah tersembunyi di balik layar komputer.
“Aku tidak mau ikut campur. Aku tidak bisa menganggap dirimu sebagai orang yang normal. Sejak kejadian Jumat malam kemarin, tingkah lakumu makin aneh. Kenapa tidak pulang saja, biar aku yang mengerjakan laporan itu. Oh, ya, istriku biasa memakai irisan timun. Coba saja, mungkin bisa membantu.”
“Irisan timun? Buat apa?” bisik Ben.
“Buat kantung dan lingkaran hitam di matamu. Kalau saat ini anakku melihat wajahmu, ia pasti tidak mengenal lagi Paman Ben,” jawab Alex. Ben tersenyum masam.
“Aku utang laporan berikut, oke?“
“Tidak usah dipikir, selamat berlibur,” sahut Alex.
Ben menghabiskan malam pertama liburannya dengan mencari jejak losmen paman Katrin di Karimunjawa. Setelah beberapa jam duduk di depan layar komputer, ia melihat di sebuah situs pribadi yang memuat sebuah nama penginapan terapung di Pulau Karimunjawa. Bilik-bilik terbuat dari kayu berjejer di atas permukaan air laut. Nama penginapan itu sama seperti yang disebutkan Katrin, lengkap dengan nomor telepon. Ia kemudian mencari informasi tentang transportasi dan akomodasi.
Di Karimunjawa, ia memilih untuk mereservasi sebuah resor bernama Kura-Kura yang terletak di Pulau Menyawakan. Alasannya praktis: resor itu menyediakan transportasi udara pulang-pergi ke Semarang. Ben tidak ingin naik ferry. Bukan pilihan yang mudah, apalagi setelah melihat harganya. Ia harus merogoh koceknya sebanyak sekitar 400 dolar untuk menginap empat hari tiga malam. Hanya empat hari setelah itu tamat riwayatnya, harapnya diam-diam.
Persoalan berikut adalah bagaimana mendapatkan tiket pesawat ke Indonesia dalam waktu kurang dari 36 jam. Ben memutuskan untuk pergi ke salah satu biro wisata dan menggunakan statusnya sebagai polisi untuk mempermudah jalannya transaksi. Ia sebenarnya agak menyesal karena telah menyalahgunakan nama kepolisian. Yang pasti, bukan kasus pertama di jajaran kepolisian Dortmund, hiburnya dalam hati. Hari berikutnya Ben sudah menyambangi markas kepolisian dari pukul delapan pagi. Ia tidak bergerak dari tempat duduknya sampai telepon di mejanya berdering.
Bersambung
Penulis: Budi Pratiwi Sossdorf

Cerita Terkait :

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 1)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 2)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 3)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 4)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 5)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 6)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 7)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 8)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 10)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 11)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 12)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|