
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Kepak Sayap Merpati (Bagian 2)

|
|
| |
Malam sudah sepenuhnya menghampiri hari. Angin dingin akhir bulan Oktober masih membawa tetesan gerimis. Lampu-lampu neon penerang jalan mulai menyala. Terangnya tidak sampai ke atas gedung.
Gadis itu menggigil kedinginan. Tubuhnya gemetar dari kepala sampai ujung kaki. Ia lupa di mana terakhir kali meletakkan mantelnya. Ia sebenarnya merasa sayang, kalau mantel itu hilang. Ia membelinya dengan gaji pertamanya. Pasti tertinggal di kereta api bawah tanah, pikirnya. Ia berniat untuk mengecek di tempat penitipan barang yang hilang. Ia menertawakan kebodohannya. Mengapa harus merasa sayang dengan mantel itu dan bersusah payah mencarinya kembali? Bukankah mulai malam ini ia tidak lagi membutuhkan mantel atau pakaian?
Ia membayangkan bagaimana rasanya terjun dari gedung, ketika tubuhnya melayang di udara dan menghantam trotoar. Kehadiran seorang pria di ambang jendela galeri membuyarkan imajinasinya. Gadis itu merasa terganggu dengan kehadirannya. Ia sedang tidak ingin ditemani.
“Nona, tempat ini basah dan dingin. Apakah Anda menginginkan sesuatu yang hangat?” pria itu memegang sebuah jaket berwarna hitam. “Kalau Anda mau, saya bisa menyediakan secangkir susu cokelat hangat,“ katanya lagi, sambil menjulurkan tubuh.
”Jangan mendekat!“ desis gadis itu.
”Nama saya Ben. Saya akan tinggal di sini sampai Anda berubah pendapat. Saya tidak tahu persis apa yang sedang Anda hadapi. Yang pasti, Anda bisa bicara.”
Gadis itu makin merapatkan tubuhnya ke tembok. Pria itu berbicara dengan nada yang tenang, tapi membujuk. Ayahnya dulu sering berbicara dengan nada seperti itu.
“Nona, Anda kelihatan sangat kedinginan. Dengarkan baik-baik. Saya akan keluar dan menyerahkan jaket ini.” Tanpa memedulikan tatapan protes gadis itu, pria itu keluar dari jendela. Gadis itu ingin mengusirnya, tapi bibirnya sudah mati rasa karena kedinginan. Pria itu meletakkan jaket di sebelah kakinya. Ia melihat kerumunan orang-orang di bawah gedung.
“Lihat orang-orang di bawah situ. Mereka pasti penasaran mengapa Anda bisa sampai ke tempat ini. Masalahnya, tidak semua orang peduli apakah Anda memutuskan untuk melompat atau tidak. Kejadian malam ini, bagaimanapun akhirnya hanya akan dimuat satu hari di satu sudut koran kota, untuk dilupakan,” kata pria itu. Ia berusaha membuat kontak mata dengan gadis itu. Gadis itu menatap jaket yang tergeletak lemas di lantai balkon. Pria itu terus berbicara, seperti bisa membaca pikirannya.
“Suhu di luar hanya 5 derajat. Paling tidak, pakailah jaket itu sebelum basah. Kata orang, pria bukan pendengar yang baik. Cuma isapan jempol. Anda bisa bicara tentang apa saja. Saya tidak akan tertidur, paling akan sedikit mengantuk,” pria itu tersenyum. Seperti geli sendiri mendengar perkataannya.
“Nona, dari sejuta alasan untuk mati, tetap ada satu alasan untuk hidup. Tolong pikirkan sekali lagi. Bagaimana dengan orang-orang yang mencintai Anda? Kalau mereka melihat Anda bergelantungan di tempat ini, pasti mereka sangat cemas.”
“Tidak ada yang peduli,” sergah gadis itu.
“Anda yakin? Coba tolong pikirkan sekali lagi. Mungkin mereka salah satu dari kerumunan itu. Atau di tempat lain? Bagaimana dengan saya? Menurut Anda, saya juga tidak peduli? Percayalah, Nona, saya akan patah hati kalau Anda memutuskan terjun dari gedung ini. Kalau saya tidak sanggup menolong, pasti masih ada orang lain yang sanggup.” Ben yakin gadis itu mendengarkannya.
“Kau berjanji akan menolongku?” tanya gadis itu seperti bergumam pada dirinya sendiri.
“Ya, tentu saja. Tapi, bagaimana saya bisa menolong, kalau Anda masih berdiri di situ? Ulurkan tangan dan jangan lihat ke bawah,” kata Ben, sambil mengulurkan tangan.
Ben tidak menyangka gadis itu berubah pikiran secepat itu. Ia masih melihat keraguan di matanya, sebelum ia mengangkat lengannya. Jari-jemari mereka hampir bersentuhan, ketika seekor burung merpati melesat dari atas atap gedung melintasi mereka. Kepakan sayapnya membawa deru angin dan hawa dingin yang membangkitkan bulu kuduk. Gadis itu menjerit. Suaranya mengejutkan ratusan burung merpati yang bertengger di atap gedung. Mereka terbang berhamburan. Gadis itu berjongkok, sambil mendekap kepalanya dengan tangan. Ia tetap tidak mengubah posisinya, walaupun burung-burung merpati itu sudah kembali bertengger di atap gedung.
“Ayo, Nona, saya tidak mau melihat isi otak terburai di atas trotoar. Percayalah, di bawah sana bukan tempat yang baik untuk mengakhiri hidup,” kata Ben.
Gadis itu perlahan-lahan menurunkan tangannya dari atas kepala. Ben menatap sepasang bola mata yang bergerak liar ke sana-kemari. Seperti mata seekor anak kucing yang sedang ditenggelamkan ke dalam air. Ironis, gadis ini berniat mendatangi kematian, tetapi ketika maut menggoda, ia memberontak.
Pria itu mencari pegangan supaya bisa lebih menjangkau gadis itu. Ia meraih lengan yang kaku seperti sepotong kayu. Ketika menariknya untuk berdiri, tubuh gadis itu gemetar tidak terkontrol. Ia merengkuh dan mendekapnya erat. Gadis itu membenamkan kepalanya dalam-dalam di bahunya. Ben merasa jaketnya mulai basah. Ia tidak tahu apakah karena gerimis atau karena tetesan air mata.
Dari bawah gedung terdengar suara tepuk tangan. Orang-orang yang tadinya bergerombol seperti koloni lebah, mulai memisahkan diri. Satu per satu mereka meninggalkan tempat itu. Lalu lintas mulai bergerak. Semuanya berjalan kembali seperti semula, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ben menyerahkan gadis itu ke tenaga medis yang sudah menanti di dalam gedung. Ia menatap punggung dengan jaket hitam kebesaran, sampai bahunya ditepuk oleh seseorang.
“Pekerjaan yang baik, Ben,” kata Alex, partner kerjanya. Ben mengangguk. Satu malam yang panjang kembali berlalu.
Bersambung
Penulis: Budi Pratiwi Sossdorf

Cerita Terkait :

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 1)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 3)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 4)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 5)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 6)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 7)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 8)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 9)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 10)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 11)

» Kepak Sayap Merpati (Bagian 12)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|