Bookmark and Share


 
 



  Matahari Matahati (Bagian 10)

 
 


Tiba-tiba saja mata Ati terasa panas. Ia tidak bisa melupakan rasa cintanya pada Agung. Rasa cinta itu menggigit setiap kali dia memandang wajahnya di cermin. Dua minggu lalu mereka masih window shopping berdua, menunjuk-nunjuk kebaya Anne Avantie. Siapa yang menyangka ia justru bersanding dengan Bayu?

“Tapi, ini konyol, Ti!” Agung berteriak marah. “Lalu, apa artinya semua ini? Impian kita? Semuanya? Nggak ada artinya buat kamu?”

“Besar artinya buat aku, Gung! Aku cinta sama kamu. Aku tak cinta sama Bayu! Tapi, penting buat aku bersamanya sekarang ini.”

“Apa pentingnya?!”

Tangisan Ati yang menahan ledakan emosi membuat Agung iba.

“Menikahlah denganku, Ti.”

“Gung, ini seperti urusan di masa lalu yang harus kutuntaskan.”

“Aku jadi tak ngerti. Sebenarnya siapa yang tak punya perasaan di sini? Kamu atau Bayu? Sedingin ini kamu memutuskan hubungan untuk bisa menikahi pria lain atas dasar masa lalu? Kamu sadar sedalam apa sakit hatiku sekarang? Kalaupun kamu menarik keputusanmu menikahi Bayu dan kembali padaku, aku tak akan mungkin melupakan malam ini.”

“Gung... aku tak bermaksud...”

“Aku memang selalu kalah di matamu, ya? Aku bukan siapa-siapa,” kata Agung, semangatnya untuk meyakinkan sudah pupus. Ia kelihatan patah arang. “Aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu di masa lalu. Wanita selalu mengagung-agungkan masa lalu. Mereka pikir, orang-orang yang mereka kenal sejak mereka bukan apa-apa adalah teman terbaik untuk seumur hidup. Mereka pikir, jika seorang pria pernah melihat mereka mandi di kali bertelanjang dada ketika mereka anak-anak, pasti pria itulah jodoh mereka. Ti, aku bukan pria yang percaya mengenai jodoh. Jika bukan kamu, pasti ada orang lain buat aku.”

Sejak itu Ati tak lagi pernah melihat Agung. Bintang pernah bilang, Agung mungkin mengurus agen propertinya di Jepara. Yang jelas, hubungan baik antara orang tua kedua belah pihak sudah hancur berantakan. Ibunda Agung marah bukan main, beliau bahkan keluar dari kelompok arisan Bunda.

Paling tidak, pikir Ati, kini apa yang mereka yakin benar memang benar adanya. Ati tak pernah bisa beranjak dari bayang-bayang Bayu Laksmana.

“Ti....”

Ati melirik dengan ekor matanya, cukup menyulitkan baginya untuk memutar kepala dengan gundukan rambut palsu di sana.

Bunda, dalam kebaya anggun membalut tubuhnya yang masih ramping, berjalan berirama mendekati putrinya.

“Bunda harus apa lagi, Ti?”

“Sejak awal seharusnya Bunda tak perlu ngelakuin apa-apa.”

Mereka duduk berhadapan.

Ada rasa sakit mengalir di hati Asmiranda melihat putrinya tak kuasa menahan tangis, di hari yang paling membahagiakan buatnya.

“Bunda nggak ngerti sama kamu.”

“Bunda juga tak perlu ngerti. Bunda cuma perlu dukung aku sejak awal.

Kini wanita tua itu sama menangisnya dengan putrinya. “Bunda harus apa? Bunda selalu salah, Ti. Selama ini Bunda selalu melawan satu hal yang menurut bapakmu selalu benar, bahwa Bayu adalah takdirmu. Kamu juga sepertinya selalu menentang sikap bertahan Bunda terhadap semua hal yang berhubungan dengan Bayu dan keluarganya. Padahal, Bunda sayang banget sama adikmu. Waktu Agung datang dan kamu menerima cintanya, Bunda makin takut. Apakah semua ini benar? Apakah kamu menerima Agung karena mencintainya? Bunda cuma takut kamu tak bahagia, Ti. Bunda takut kamu menerima Agung karena kamu tak ingin terus-menerus kami anggap tak bisa beranjak dari Bayu.”

Hati Ati makin perih mengingat Agung, cinta pertamanya setelah lama ia kehilangan kemampuannya untuk mencintai seorang pria.

“Batalkan saja, Ti. Batalkan saja, ya?” isak Bunda, meski ketidakberdayaan menggantung dalam serak suara tangisnya.

Ketika Ati dan bundanya tenggelam dalam kesedihan yang tak terbendung, pintu kamar pengantin itu tiba-tiba saja menjeblak terbuka. Lebih mengejutkannya, Agung berdiri di sana.

“Agung.”

“Bayu memberiku izin untuk bicara berdua denganmu.”

Asmiranda bangkit dari duduknya, sebelum meninggalkan putrinya berdua saja dengan Agung, dibisikkannya, “Bunda cuma mau kamu bahagia, Ti. Bahagiakanlah dirimu, ya?”

Ati membalas pelukan bundanya.

“Gung.”

Agung tidak peduli pada kesopanan lagi. Begitu tertinggal hanya berdua, ia membenamkan kekasihnya dalam pelukan, meciuminya seolah pengantin itu miliknya. Ia tak peduli apa-apa lagi, bahkan pada riasan pengantin wanita yang kini berpindah dari wajah Ati ke wajahnya.

“Ikutlah denganku,” pintanya tegas, seperti memerintah. “Bayu sudah bilang aku boleh membawamu, kalau kau mau.”

“Bayu bilang begitu?” Ati ragu-ragu.

“Ya.”

“Putrinya?”

“Putrinya?” Agung mengulang tak mengerti.

“Ya, Aik,” jelas Ati. “Bayu melamarku sebagai ibu putrinya. Bagaimana dengannya?”

“Ada apa dengannya?” Agung makin kebingungan melihat kepanikan yang tiba-tiba di wajah Ati.

“Aku mau sekali bersamamu, Gung....”

“Ya, sudah. Ayo, pergi denganku.”

“Tapi, Bapak? Bunda?”

“Sudahlah. Ibumu sudah bilang, ‘kan? Dia merelakan kebahagiaanmu.” Agung mengecupi buku-buku jemari Ati dalam genggamannya. “Sekali saja dalam hidupmu, lakukanlah yang menurutmu benar.”

Tangan Ati perlahan membalas genggaman Agung.

Agung tersenyum sebelum merengkuh pergelangan tangan Ati dan membawa lari kekasih dalam balutan baju pengantin itu sampai hampir terbang. Mereka berlarian menuruni tangga dan berhenti menghadapi hamparan sanak-keluarga dalam busana resmi dan riasan wajah.

“Ti...,” Bapaknya maju selangkah, air mata membuat pipinya yang berkerut, basah.

Ati memeluknya dan terisak lagi, “Maafkan Ati, kalau kebahagiaan buat putri Bapak demikian mahalnya.”

“Kebahagiaanmu tak pernah mahal, Nduk.... Tak akan sebanding dengan apa pun,” jawab bapaknya, sebelum melepaskan bahu Ati dan memberikan jemari putrinya pada Agung.

Namun, Ati belum akan pergi sebelum menemui Bayu, yang saat itu berdiri kokoh dengan Matahari Sekar Ayu Putri dalam gendongannya.

“Aku....”

“Buatku... kamu adalah matahati yang paling berharga.”

Bayu Laksmana memeluk bahunya sendiri, tangis yang tak tumpah tujuh tahun lalu karena tertimbun perasaan malu dan bersalah, kini seperti membuka sumbatannya. Entah apa yang membuatnya menyanggupi permintaan ayah dan bunda Ati untuk mengambil Ati sebagai istrinya, padahal dia tahu benar hati Ati bukan lagi punyanya. “Yu...,” Asmiranda muncul dari pintu di balik punggung Bayu.

“Aik sudah tidur?” katanya sambil buru-buru berdiri, “Biar saya angkat sekarang ke mobil.”

“Biarkan dia tidur di sini dulu,” jawab Asmiranda.

Ada desah napas lega terembus dari mulut Bayu.

“Maaf,” katanya terbata-bata.

“Bukan kamu yang seharusnya minta maaf, Yu. Kami yang seharusnya meminta maaf kepadamu dan Ati. Setelah bertahun-tahun kami menolak kehadiranmu, kini kami menyeretmu kembali dan menyakiti hati kalian semua.”

Bayu memeluk tubuh rapuh wanita di hadapannya, erat namun tak menyakiti. Menunjukkan betapa ia tak pernah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ketika Bayu mengurai pelukannya terhadap Asmiranda, wanita itu seolah kaku dalam berdirinya. Bahkan, ketika kedua tangan Bayu yang mampu meraup seluruh tempurung bahunya mengguncang dengan cukup tenaga, ekspresi tegang di wajahnya tetap enggan lenyap.
Barulah Bayu sadar ada yang tengah terjadi di balik punggungnya.

Ati berdiri tepat di pintu masuk ruang tengah, mengejutkan Bayu sama dahsyatnya dengan Asmiranda. Ati masih mengenakan kebaya Solo, meski sudah tampak berantakan.

Bayu mendekatinya.

Dalam langkah ketiga, mereka seperti sudah menyusunnya seperti sebuah skenario, saling menghampiri dan memeluk.

“Kenapa kembali?”

“Tak ada yang pernah menyebutku matahati sepertimu baru saja. Tidak juga kau yang dulu.”

“Hanya karena itu kamu kembali?”

“Aku tidak tahu sisanya.”


Tamat

Penulis: Ratih Tri Widowati

Cerita Terkait :

» Matahari Matahati (Bagian 1)

» Matahari Matahati (Bagian 2)

» Matahari Matahati (Bagian 3)

» Matahari Matahati (Bagian 4)

» Matahari Matahati (Bagian 5)

» Matahari Matahati (Bagian 6)

» Matahari Matahati (Bagian 7)

» Matahari Matahati (Bagian 8)

» Matahari Matahati (Bagian 9)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :