
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Matahari Matahati (Bagian 9)

|
|
| |
Mata Ati mengikuti mobil kekasihnya hingga menghilang, setelah itu barulah dia melangkah memasuki teras depan.
Lampu ruang tamu rumahnya masih menyala terang benderang, padahal dia belum memberitahukan soal kepulangannya. Mungkin Bintang sedang nonton pra-Piala Eropa.
Dia mengetuk. Pada ketukan ketiga, Santo tampak tergopoh-gopoh membuka pintu.
Dari arah ruang tengah dia mendengar suara-suara lirih bercakap-cakap kurang akrab. Ati mengintip dan terkesima.
Bayu Laksmana duduk di hadapan pasangan Asmiranda-Hendrawan dengan kepala menunduk, dua belah tangannya saling meremas cemas. Siapa pun bisa merasakan udara dingin yang terembus karena kecanggungan yang mereka bangun.
“Ssst....”
Bintang muncul mendadak di samping adik perempuannya yang tengah mengendap-endap. Sambil mengisyaratkan agar tidak mengeluarkan suara, Bintang menarik lengan Ati menjauh.
“Kenapa Bayu ke sini?”
Bintang menutup pintu dapur di belakang mereka, khawatir mereka masih bisa terdengar dari ruang tamu saking sunyinya rumah malam itu. “Aku juga belum tahu kenapa dia ke sini.... Sepertinya, justru Bundalah yang mengundang Bayu kemari.”
“Mau apa Bunda?” alis wanita itu bertautan lagi.
Bayangan-bayangan mengerikan tentang reaksi Bunda setiap kali nama Bayu disebut di rumah saja, sudah membuatnya merinding ketakutan, apalagi membayangkan mereka berhadapan. Jika Bunda yang justru memanggil, alasan apa yang paling tepat beliau miliki? Selain memutilasi tubuh Bayu menjadi tiga puluh dua bagian, misalnya....
Mereka berdua terpaku diam.
“Masalahnya... aku pernah mendengar mereka diam-diam kembali mendiskusikan kalian berdua, setelah sekian lama,” kata Bintang.
“Mereka masih berpikir aku terpaku pada Bayu?” tebak Ati.
“Tidakkah kau?”
“Mas!” Ati menyalak tak percaya.
“Maaf.... Kalau aku....”
“Bukan berarti aku juga tidak bisa, kalau Mas Bintang nggak bisa, ‘kan? Aku sudah bukan Ati yang dulu, Mas! Aku sudah sembuh sejak lama! Tidakkah ada yang memercayaiku?”
“Aku sama sekali belum bisa melupakan Kiran...,” Bintang mendesis sedih. Ia duduk di salah satu kursi di meja makan, bersandar, kemudian matanya menerawang. “Aku mungkin sudah lupa bagaimana ia tertawa, bagaimana suaranya, bagaimana Ia mencintaiku....”
Menyesal Ati telah menguak kembali luka lama Bintang. Ati menghambur ke arah kakaknya, memeluknya untuk menunjukkan dukungan dan rasa sayangnya yang tak meluntur, meski jarak dan usia telah membentangkan kasih sayang mereka.
“Bintang yang bilang kamu datang semalam.”
Ati serta-merta terjaga, sensor matanya dikejutkan oleh cahaya matahari yang menyelinap menyilaukan dari celah tirai yang disingkap bundanya.
“Mandilah. Bunda dan Ayah mau bicara sambil kita sarapan.”
“Sejak kapan juga Bunda diam-diam menerima Bayu kembali di rumah ini?” Ati mengelak.
“Bunda pikir kamu justru suka?” tutur Bunda, enteng.
“Aku benar-benar nggak ngerti dengan maksud Bunda,” ujar Ati gemas. “Setiap tahun aku selalu pulang untuk ritual perjodohan yang konyol dan ketika aku menyanggupinya sekarang ini, apa lagi? Apa, sih, mau Bunda sebenarnya?”
Tidak ada jawaban dari mulut Bunda, tapi jelas terlukis keterpanaan atas pertanyaan putrinya. Beliau berdiri terpaku dengan sepasang mata menatap dingin, beradu dengan tatapan Ati yang siap menyerang.
“Mandi dan turunlah. Ayahmu yang akan bicara.”
Napas Ati terembus berat, sungguh wanita yang tak mempan diintimidasi. Bundanya itu....
Di meja makan, Bintang sedang menghabiskan sepiring besar nasi goreng.
“Bapak mana?” tanya Ati.
“Anggrek bulanmu ngembang. Bapak seperti tak punya kegiatan lain selain mengaguminya,” jawab Bintang.
Ati urung mengambil tempat di hadapan nasi goreng jatah sarapannya, “Anggrek bulanku?”
Raut wajah bapaknya menjadi cerah, ketika Ati mendekat. Tangan kanannya yang masih memegang peralatan berkebun, melebar, menyambut putrinya. Dalam dekapan sang bapak, Ati bersandar.
“Aku pikir, sudah tak mungkin tumbuh, Pak.”
“Bapak juga.”
“Ibu bilang, Bapak mau bilang sesuatu sama aku?”
“Ya.”
“Tentang apa? Bayu?”
Hendrawan, bapaknya, mengulas senyum lembut.
“Bayu melamarmu untuk menjadi istrinya.”
Lancang benar Bayu! Maki Ati, kesal sekali. Apa yang ada di otak pria itu? Dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Ati memperkenalkan Agung sebagai kekasihnya.
Tak kuasa menahan emosinya, Ati berlari masuk ke dalam rumah. Tanpa memedulikan Bintang dan Bunda, ia naik ke lantai dua, masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu.
Calling....
Bayu.
Telepon dijawab, suara Bayu yang masih terdengar baru bangun tidur menyapa, “Ti?”
“Brengsek kamu!” sembur Ati, seketika itu juga.
“Lho? Kenapa, Ti?”
“Aku sudah mencoba bersabar, Yu! Asal kamu tahu, aku nggak jawab pertanyaan kamu kapan lalu, karena aku respect sama kamu. Aku tak sangka kamu tega kayak gini, Yu!”
“Sabar dulu,” redam Bayu.
Ati tidak bisa diredam, dia melawan makin kuat. Sebaliknya, Bayu justru memilih untuk bungkam. Ati tidak pernah semarah itu.
“Bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan semua orang betapa sembuhnya aku. Tak ada seorang pun yang percaya bahwa kamu sudah tak lebih dari sekadar masa lalu! Sekarang, ketika aku mulai bisa mencintai kembali, kamu justru masuk ke dalam kehidupanku. Semua orang kini yakin mereka benar, Yu!”
“Ti...,” potong Bayu, mencoba menjelaskan.
Tapi, Ati yang terbakar emosi malah melempar ponsel ke dinding sampai baterainya terlempar ke sisi berlawanan.
“Ti....”
Ati cepat-cepat menghapus air matanya dengan ujung facial paper sebelum Tante Yun, penata rias pengantin yang juga adik bundanya, menemukannya di depan meja rias.
“Riasan pangantin itu cuma bedak dan gincu biasa, Sayang. Kalau kamu terus-menerus menangis, kamu nggak akan kelihatan cantik. Foundation terbaiknya adalah rasa bahagia; kamu pengantin pertama yang kelihatan paling menyedihkan selama Tante menjadi perias. Kamu kenapa?”
Ati menggeleng lemah. Ia mengenakan baju pengantin adat Solo berwarna hijau menyala untuk acara ijab dan resepsi, sesuai dengan asal orang tuanya. Dia kelihatan mencolok dan cantik sekali, berkali-kali Tante Yun berdecak mengagumi hasil karyanya.
“Bayu juga kelihatan luar biasa, Ti. Dia tidak tampak seperti duda,” ujar Tante Yun, setelah memberikan sentuhan terakhir berupa bros bunga berwarna senada.
“Jodoh memang tak akan bisa dikalahkan oleh kekhilafan semacam apa pun, ya? Kamu memang gadis berhati besar, Ti. Kalau Tante, Tante tak akan mungkin bisa memaafkan kesalahan sebesar itu. Sejak Sofie dibawa ke rumah kalian dulu, kamu sudah memperlihatkan kebesaran hatimu. Tante tak menyangka kamu masih bisa memuliakan Bayu dengan sebuah pernikahan.”
Bersambung
Penulis: Ratih Tri Widowati

Cerita Terkait :

» Matahari Matahati (Bagian 1)

» Matahari Matahati (Bagian 2)

» Matahari Matahati (Bagian 3)

» Matahari Matahati (Bagian 4)

» Matahari Matahati (Bagian 5)

» Matahari Matahati (Bagian 6)

» Matahari Matahati (Bagian 7)

» Matahari Matahati (Bagian 8)

» Matahari Matahati (Bagian 10)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|