Bookmark and Share


 
 



  Matahari Matahati (Bagian 6)

 
 


“Ati? Sudah pulang?”

Saat memasuki halaman rumah yang luas dan hijau, sederet mobil mewah yang terparkir di atas rerumputan tebal, menggoyahkan hati Ati. Pikiran bahwa bundanya telah merancang sesuatu di belakangnya seperti yang selama ini ia khawatirkan setiap kali pulang ke rumah, segera berkelebat memusingkan.

Seperti seorang paranoid yang mengkhawatirkan anak gadisnya akan mati dalam keadaan perawan, bundanya tak pernah patah semangat untuk mendaftar dan mengundang pria-pria muda dan mapan untuk diperkenalkan pada Ati. Hari ini pun seperti yang terduga, sebuah keluarga kecil dan anak laki-laki mereka yang mapan, pasti telah duduk dengan muka merah, setelah diagung-agungkan kehebatannya oleh para orang tua.

“Ati, ayo, Bunda kenalin dengan keluarga Laksana. Ini....”

“Bunda,” potong Ati, gusar. “Maaf, Tante, Om,” ia beralih pada tamu-tamu untuk memintakan bundanya waktu sebentar.

Pasangan seusia orang tuanya itu mengangguk.

“Jadi ini Matahari itu?”

Ati terperangah mendengar sebuah pertanyaan yang terdengar menyedot seluruh perhatian di sekitarnya itu. Refleksnya secara otomatis segera mencari siapa yang lantang menyuarakannya.

“Halo,” sapa seorang pria yang duduk tepat di samping ayah Ati. Kakinya yang panjang berbalut celana hitam Armani, menyilang menumpuki kakinya yang lain dengan pongah.

Penjepit dasi berkilau keperakan dan dagu bersih-segar itu membuyarkan konsentrasi wanita yang sedang mencoba memaksakan keinginan pada sang penguasa absolut di rumah itu.

Apa yang dilakukannya di sini? Ati menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang tak pernah hilang, jika ia mulai dilanda kecemasan.

Ati memandang lekat pada pria yang sedang menurunkan salah satu kakinya yang semula menyilang. Dia tidak mungkin salah mengenali. Pria itu memang pria yang sama yang telah menerima perkenalan dirinya sebagai seorang istri Bayu Laksmana di kedai kopi siang tadi. Ati bukan hanya mengenali penjepit dasi berkilau keperakan di dadanya, tapi juga senyuman dan tatapan matanya yang dalam.

“Sekilas begitu mirip dengan kawanku,” kata pria itu lagi. Seperti berbicara pada nyonya rumah, padahal pandangannya tak pernah luput dari Ati, dia berseloroh, “Tapi tidak mungkin. Temanku itu sudah punya suami dan seorang anak seusia Tasya, keponakanku, Tante.”

Ati menelan ludah. Yang dimaksud pria itu tentulah dia. Gurauan yang jelas-jelas memperlihatkan bahwa kelaki-lakiannya telah terluka. Namun, Ati bersikeras menarik lengan bundanya menjauhi kerumunan itu.

“Kenapa, sih, narik-narik Bunda begini, Ti?” Bunda akhirnya melawan, begitu sebuah dinding yang memisahkan antara ruang tengah dengan ruang depan melindungi mereka berdua.

Ati mendengus berat. Memperlihatkan keseriusannya.

Tujuh tahun lebih semua itu berlalu. Ketika tujuh kali hari yang paling menyakitkan itu terulang, Ati pun telah tujuh kali pula sembuh. Tak disangkanya, luka Bunda justru tujuh kali lipat lebih basah, dalam dan menyakitkan. Tapi, sungguh, dia tak sekali pun pernah membayangkan bahwa bundanya tega menyembunyikan hal sepenting itu darinya hanya gara-gara dendam.

“Sofie sudah meninggal,” Ati sengaja mengucapkannya tanpa tanda baca. Datar dan tidak emosional.
Bunda langsung memalingkan wajah ke samping. Sudah jelas beliau sebenarnya tahu tentang berita itu. Entah mengapa, dia memilih untuk bungkam.

Ati harus susah payah meredam perasaannya. Bunda memang keras hati dan kepala, berbicara dengan tenang saja seperti tidak pernah cukup untuk mengungkapkan kesungguh-sungguhan. Dengan mencoba menahan luapan emosi, dia memulai kalimatnya perlahan, “Bunda... Sofie sudah meninggal dan anaknya buta. Kenapa tak seorang pun di rumah yang mau ngasih tahu aku soal ini? Demi Tuhan, Bunda, kejadian itu sudah berlalu bertahun-tahun. Aku saja sudah lupa.”

“Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal ini, Ti,” Bunda berkata, tegas dan kaku. “Bunda sedang ada tamu. Kalau kamu tidak keberatan, sebenarnya Bunda memang sama sekali enggan membicarakannya!”

“Bunda... apakah aku sudah begitu menyakiti Bunda selama ini?” suara Ati makin pelan. Sesal berkecamuk dalam dadanya seketika. Tiba-tiba dia menyadari, apa yang terjadi terhadapnya di masa lalu bukan mustahil telah membekas pula di hati orang-orang di sekitarnya. Dan, ketika dia dengan tenang melenggang keluar dari lingkaran orang-orang yang mencintainya, mereka makin tersayat hatinya.

Bunda diam. Dengan anggun beliau merapikan kain yang melilit pahanya. “Anak memang dilahirkan untuk belajar dari kesalahan,” katanya, ketika sebuah kaca yang terbingkai di dinding menangkap bayangan wajah tuanya yang masih kelihatan segar. Sambil menata rambutnya yang tersasak ke belakang, ia melanjutkan, “Dan orang tua tak bisa berbuat banyak selain maklum dan memaafkan, Ti. Pada akhirnya, mereka cuma berharap bisa membantu sedikit. Itu pun kalau anak-anak mereka masih memanusiakan orang tua.”

Bunda memang kejam. Seolah selalu tahu bagaimana menyakiti seseorang, wanita tua berhati baja itu tak pernah kehabisan akal dalam memilih kata. Ati mengagumi bagaimana dalam sekejap Bunda bisa tahu titik kelemahan seseorang dan mengarahkan pelurunya tepat ke titik tersebut.

Tak pernah luput.

“Sekarang, kalau kau tak mau Bunda malu, berganti pakaian dan temuilah Surya.”

“Surya?” bukankah namanya Agung?

“Ya. Agung Surya Laksana. Nama tengahnya memiliki arti yang serupa dengan namamu. Bunda yakin itu pertanda bagus.”

Ya, ampun, Bunda.... Ati lemas.

Bersambung

Penulis: Ratih Tri Widowati

Cerita Terkait :

» Matahari Matahati (Bagian 1)

» Matahari Matahati (Bagian 2)

» Matahari Matahati (Bagian 3)

» Matahari Matahati (Bagian 4)

» Matahari Matahati (Bagian 5)

» Matahari Matahati (Bagian 7)

» Matahari Matahati (Bagian 8)

» Matahari Matahati (Bagian 9)

» Matahari Matahati (Bagian 10)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :