
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Matahari Matahati (Bagian 3)

|
|
| |
Sofie menangis.
Ati mengalihkan pandangan ke arah lain. Ketika jendela kaca yang terbuka seperti membingkai lukisan gelap dengan serabut ranting pohon yang meranggas, wanita itu tahu bahwa dia harus meninggalkan kehidupannya dan mencari yang lain di tempat yang berbeda. Di bawah langit yang berbeda, ketika jendela kaca membingkai lukisan yang tak sama.
Wanita itu menjinjing tasnya dan berjalan dengan tegar sampai ke dalam mobilnya. Di sana, ketika tak seorang pun melihat, ia menangis juga akhirnya. Luka itu ternyata dalam dan obatnya sangatlah mahal.
“Ti! Ati!”
Ati terjaga dari lamunannya dan kembali menyadari bahwa orang yang sama tengah menatap lurus pada matanya sekarang. Tujuh tahun lebih tua dengan kerutan di sekitar mata yang memperlihatkan guratan kedewasaan.
“Kamu melamun, Ti,” Bayu tersenyum. “Langsung dari Jakarta?”
“Ya.”
“Tumben kamu pulang bukan pas hari raya. Ada apa? Jangan-jangan Bunda sudah merancang pernikahanmu di rumah?” olok-olok Bayu.
Tersenyum, Ati mengangkat bahu.
Ibundanya sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang maksudnya memerintahkan Ati pulang. Setiap kali ditanya, yang keluar dari mulutnya hanya bahwa ada sesuatu yang penting yang tak lagi bisa ditunda.
Olok-olok Bayu sama sekali bukan sesuatu yang lucu. Hal terpenting bagi ibundanya saat ini, menurut Mas Bintang, adalah melihatnya bersanding dengan seorang pria.
Hijau.
Mata Ati mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan dinding berdominasi warna hijau lembut dan beraroma apel. Tak ada yang dilakukannya selama beberapa saat, tepat setelah bangun tidur kecuali memutar mata ke setiap sudut ruangan. Mempelajari, sekaligus meyakinkan diri bahwa dia benar-benar kembali berada dalam ruangan hijau yang akan membawanya menjadi seseorang yang tak memiliki otoritas penuh terhadap dirinya sendiri, bersama orang tuanya.
Tiba-tiba, di tengah usahanya mengumpulkan kesadaran, pintu kamarnya dibuka tanpa ketukan. Sesuatu yang ia jaga sangat ketat dalam disiplin hidupnya. Tak ada ketukan, tak ada pintu yang terbuka dengan ramah tamah.
“Selamat pagi. Sudah bangun?” seseorang yang tanpa mengetuk pintu itu sudah mendekat ke ranjangnya ketika menyapa.
Ati hanya menoleh dan tersenyum. Tak mungkin ia memarahi bundanya, apalagi meminta beliau mengubah pilihannya sebagai penguasa tunggal di bagian mana pun di dalam rumah dengan memaksa mengetuk pintu dulu. “Pagi, Bunda.”
“Ayo, mandi sana,” Bunda memulai satu lagi kebiasaan menegakkan disiplin dengan jalan pintas yang menurutnya paling efisien. Termasuk, memaksa anak-anaknya buru-buru bangun dan mandi dengan menyibakkan selimut mereka.
“Bunda...,” Ati melenguh mempertahankan selimutnya. “Aku belum mau mandi. Baru aja bangun tidur. Aku mau sarapan dulu.”
“Sejak kapan kamu sarapan dulu baru mandi? Dasar jorok,” balas bundanya, berusaha menarik selimut lebih lebar lagi.
Tapi, sambil tetap menahan selimut agar tetap menyelimuti tubuhnya, Ati bersikeras, “Aku biasa gitu. Lagi pula, memang yang lebih baik sarapan dulu. Baru mandi dan gosok gigi. Bunda tahu berapa juta kuman yang akan bersarang di mulut kita, kalau kita tidak sikat gigi setelah makan?”
Bunda melotot dan bersiap-siap untuk marah. “Ya, sudah!” katanya, namun pegangannya pada ujung selimut makin erat. “Mandi tanpa sikat gigi.”
“Aku nggak biasa, Bunda...,” Ati membantah.
“Harus dibiasakan!” paksa Bunda.
“Enggak!” bantah Ati, dengan segenap kekuatan ditariknya selimut yang ujungnya ada di tangan Bunda sampai wanita tua itu tak lagi memegang apa-apa. “Bunda tidak bisa memaksa aku melakukan seperti yang Bunda mau. Aku sudah bukan anak kecil lagi.”
Tak ada yang diucapkan Bunda kemudian. Gertakan anak gadis yang pernah meninggalkannya itu membuatnya mengingat masa lalu menyakitkan yang tidak pernah ingin ia alami kembali.
Masih tanpa sepatah kata, wanita itu beranjak dari pinggir ranjang dan berjalan ke arah pintu.
“Bunda...,” panggil Ati saat tangan bundanya meraih handle pintu. Wanita hampir enam puluh itu berhenti dan menoleh, mendapatkan Ati memeluk bahunya erat namun lembut begitu tubuhnya sepenuhnya berbalik. “Aku sayang Bunda,” bisiknya hangat.
Bunda membalas pelukannya.
“Mandi, ya?” katanya.
Ati tersenyum geli. Bundanya sama sekali tidak berubah.
Memang benar kasih ibu itu panjang sepanjang jalan. Bagaimanapun seorang anak telah membuat kebahagiaan dan kebanggaan mereka sebagai seorang wanita nyaris lenyap, mereka terus-menerus menetap di suatu tempat untuk memaafkan anak-anak yang kembali itu.
Bersambung
Penulis: Ratih Tri Widowati

Cerita Terkait :

» Matahari Matahati (Bagian 1)

» Matahari Matahati (Bagian 2)

» Matahari Matahati (Bagian 4)

» Matahari Matahati (Bagian 5)

» Matahari Matahati (Bagian 6)

» Matahari Matahati (Bagian 7)

» Matahari Matahati (Bagian 8)

» Matahari Matahati (Bagian 9)

» Matahari Matahati (Bagian 10)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|