Bookmark and Share


 
 



  Ana de Sousa (Bagian 7)

 
 


Ia tersenyum sambil mengusap keringat yang menetes di wajahnya, dengan tangannya.

”Aku melakukannya pertama kali ketika tangan kiriku tertembak dalam peristiwa Santa Cruz, dan kini aku sudah terbiasa,” katanya, sambil memperlihatkan bekas luka di tangan kirinya.

Ia memintaku untuk membungkus pahanya dengan kaus yang tadi dipakainya. Setelah itu, aku memberinya kaus yang pernah kupakai ketika itu. Mario tersenyum, kemudian memakainya.

Melihat sikapnya yang sudah tenang, aku memberanikan diri bertanya tentang dirinya. Mengapa ia bisa tertembak, dan apa sesungguhnya yang ia lakukan selama ini.

”Apakah ini penting untukmu, Nona? Siapa diriku bukan sesuatu yang penting untukmu,” ia menjawab sendiri pertanyaannya.

Sepertinya ia tak senang aku mengorek–ngorek kehidupan pribadinya. Aku tak berani bertanya lagi.  

”Kukira setelah kejadian itu kau sudah terbang ke Jakarta. Tetapi, dugaanku salah. Kau benar–benar wanita nekat dan keras kepala. Aku tidak suka melihatmu berlama–lama di sini. Aku menyesal mengapa tak  membiarkanmu tergeletak ketika itu.”

”Kau menyesal rupanya telah menolongku, aku tidak pernah memintamu untuk menolongku,”  kataku, penuh emosi.

”Aku akan membantumu. Tetapi, kau harus berjanji, setelah menemukan orang yang kau cari, kau akan segera ke Jakarta.”

”Aku tak perlu bantuanmu, aku bisa mencarinya sendiri. Kau jangan mengaturku,” ucapku, ketus.

Ia terdiam mengatur napas.

”Aku terkejut saat melihatmu,” katanya, dengan suara lirih.

Sikapnya terlihat melunak.

”Kau mengingatkanku pada seseorang yang luput kujaga. Ia sama sepertimu, nekat dan keras kepala. Hari itu, tak biasanya, ia memaksaku mengantarnya pulang, tapi aku tak bisa. Keesokan harinya, mayatnya ditemukan di pinggir jalan. Aku sangat menyesal. Perjuangan sering kali membuat kita mengabaikan orang–orang yang kita kasihi,” katanya, dengan nada sendu. Wajahnya terlihat muram.

”Maafkan aku,” kataku, menyesali kata–kataku.

”Tak apa, aku harus menganggap itu sebagai peristiwa hari–hari, bagian dari sejarah yang tak tercatatkan,” katanya, seolah sedang menghibur dirinya sendiri.

”Siapa orang yang kau cari?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

”Ana de Sousa.”

Ia mengulang–ulang nama itu.

“Aku akan mengabarimu sesegera mungkin, jika sudah mendapatkan informasi. Tetapi, berjanjilah, kau akan segera pulang setelah menemukannya. Situasi di sini tidak akan membaik dalam waktu sebentar, masa depanmu masih panjang. Kau harus percaya padaku,” katanya, menegaskan.

Aku menjawab dengan anggukan kepala.

Setelah meminum sesuatu yang diambil dari saku celananya, ia tertidur. Wajahnya terlihat lelah. Sesekali ia mengigau, menyebut nama seorang wanita dan badannya demam. Aku tak tidur semalaman mengompres keningnya.

Mario masih tertidur saat aku pergi ke restoran hotel, mengambilkan sarapan untuknya. Televisi lokal memberitakan peristiwa kemarin. Suasana Kota Dili pagi ini mencekam, pemerintah memberlakukan jam malam dan menuding kelompok pemberontak anti-pemerintah yang menjadi dalang di balik kerusuhan. Korban tewas diperkirakan mencapai lebih dari lima orang dan puluhan lainnya luka–luka. Aku membungkus beberapa roti bakar dengan tisu, lalu membawanya ke kamar.

Mario sudah tidak ada di kamar. Di meja, aku melihat sebutir peluru tergeletak, peluru yang menembus pahanya kemarin. Sepertinya, ia sengaja meninggalkan peluru itu untukku.

Dua hari setelah kerusuhan, suasana Kota Dili masih mencekam. Pasukan keamanan berjaga di setiap sudut jalan. Tak ada yang kulakukan selain duduk di lobi hotel menyaksikan berita dan kembali ke kamar, sementara Mario seperti hilang ditelan bumi. Siaran televisi memberitakan tentang upaya pemerintah untuk menangkap pemberontak dan dalang kerusuhan. Aku teringat Mario dan tiba–tiba mulai mengkhawatirkannya.

Seseorang mengirimiku SMS, ”Aku sudah menemukan alamat Ana de Sousa. Datanglah ke tempat aku pernah menemukanmu.”

Mario pasti yang mengirim pesan itu.

Aku mencoba menghubungi nomor pengirim pesan, tetapi mati.

Aku menduga akan kesulitan mendapatkan kendaraan. Karena, hampir sebagian kendaraan tidak beroperasi selama dua hari ini. Tetapi, ternyata tidak, saat sebuah taksi datang menghampiriku.

Jalanan masih terlihat sepi dan mencekam. Sebagian besar pertokoan dan sekolah–sekolah tutup, beberapa bangunan yang dibakar menyisakan puing-puing.

Di persimpangan, aku berhenti dan meminta sopir taksi menunggu. Aku lalu berjalan sambil mengingat–ingat sebuah jalan yang ditutupi dengan rimbun pepohonan.

Dua orang pria muda muncul di antara rimbun pepohonan dengan senjata diselempangkan di dadanya. Ia menatapku penuh curiga. Matanya tampak awas menatap sekeliling. Setengah takut aku mengatakan padanya bahwa Mario memintaku datang ke tempat ini. Salah seorang di antara mereka mengenaliku, ternyata orang yang mengantarku pulang ke hotel.

Ia membawaku masuk ke rerimbunan pohon dan memintaku menunggu. Setelah cukup lama, Mario muncul, wajahnya tegang.  Ia memandangku dengan tatapan aneh.

”Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

”Bukankah kau yang mengirimiku pesan agar aku menjumpaimu di sini? Katanya kau sudah menemukan alamat Ana,” kataku, dengan nada takut.

”Ini jebakan!” teriak Mario.

Seiring dengan itu terdengar suara tembakan dari kejauhan.

Mario terjatuh tak jauh dari kakiku. Sebutir timah panas menembus punggungnya. Tubuhnya tak bergerak lagi, bersama dua orang yang tadi bersamanya.

Aku bersembunyi saat beberapa orang menggotong mayat–mayat itu. Mereka sepertinya melihatku, tapi tak memedulikanku. Di antara orang–orang itu, aku melihat sopir taksi yang tadi mengantarku.

Koran, radio, dan televisi memberitakan tentang tewasnya seorang pemberontak bernama Mario Jose bersama kedua temannya, dalam kontak senjata, lengkap dengan foto Mario ketika masih hidup. Tetapi, tak ada namaku di situ.

Hatiku diliputi pertanyaan, siapa sesungguhnya yang telah mengirim pesan itu dan mengapa aku langsung bisa memercayainya. Mungkinkah seseorang memanfaatkan pencarianku terhadap Ana untuk menjebak Mario? Mungkin seseorang yang melihatku saat menolong Mario. Aku takut orang–orang Mario mencariku dan menyalahkanku sebagai penyebab kematiannya.

Maafkan aku Mario, sungguh di luar yang kuperkirakan, desahku. Rasa bersalah sebagai penyebab kematiannya menyelimuti hatiku.

Kelelahan yang mendera dan rasa putus asa membuatku mengambil keputusan untuk menghentikan pencarian terhadap Ana de Sousa. Aku juga memutuskan segera kembali ke Jakarta.

Saat hendak keluar kamar, aku menemukan sepucuk surat di bawah pintu kamarku. Aku memungutnya. Di bagian depan surat itu tertera namaku yang ditulis menggunakan mesin komputer. Aku memeriksa bagian belakang amplop surat, ternyata tanpa pengirim. Perlahan–lahan aku membuka surat itu dan menemukan sebuah alamat ditulis dengan mesin komputer pada sehelai kertas ukuran kuarto. Berikut sebuah pesan yang isinya mengatakan bahwa Ana de Sousa tinggal di alamat ini. Aku bertanya–tanya, siapa sesungguhnya yang mengirimkan surat itu. Rasanya tidak mungkin Mario. Mungkinkah orang suruhan Mario? Mungkinkah polisi atau seseorang yang membaca iklanku? Bisa jadi itu adalah alamat palsu untuk mengecohku.

Rasa penasaran menggodaku untuk mendatangi alamat itu dan membuatku memutuskan mencari Ana de Sousa sekali lagi.

Bersambung

Penulis: Dwi Ratnawati

Cerita Terkait :

» Ana de Sousa (Bagian 1)

» Ana de Sousa (Bagian 2)

» Ana de Sousa (Bagian 3)

» Ana de Sousa (Bagian 4)

» Ana de Sousa (Bagian 5)

» Ana de Sousa (Bagian 6)

» Ana de Sousa (Bagian 8)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :