Bookmark and Share


 
 



  Ana de Sousa (Bagian 5)

 
 


Seharian aku menunggu kabar, tapi hingga keesokan harinya, ia tak juga memberi kabar. Aku sampai pada kesimpulan, bahwa ia menipuku. Baru pada malam harinya, ia mengirim pesan yang berisi sebuah alamat entah melalui ponsel siapa. Sebab, ketika kuhubungi, ponsel itu mati. Kusalin alamat itu pada secarik kertas.

Setelah berkeliling menggunakan taksi selama hampir tiga jam lebih, aku tak menemukan rumah yang tertera dalam alamat itu. Meski menemukan nama jalannya, nomor rumahnya tidak dikenal. Beberapa orang yang kutanyai mengatakan tak ada nomor rumah yang aku maksudkan.

Aku mencoba berpikir positif, mungkin ia salah menuliskan nomor rumah. Akhirnya, aku mengetuk hampir semua pintu rumah yang kulalui sepanjang jalan. Tetapi, semua mengatakan tidak mengenal Ana de Sousa, bahkan beberapa di antaranya tidak mau membukakan pintu, seolah ketakukan.

Sopir taksi mengingatkanku bahwa hari sudah mulai gelap, tetapi aku memaksanya untuk terus menelusuri jalan di daerah itu. Untuk itu, aku berjanji akan membayarnya lebih. Ternyata, makin lama makin jarang ada rumah. Jarak antara satu rumah dengan rumah lain berjauhan. Beberapa di antaranya bahkan sudah tinggal puing-puing, sekalipun ada, sudah ditinggalkan penghuninya.

Di persimpangan jalan, tiba–tiba dua orang pria menghentikan taksiku. Salah seorang mengancam sopir taksi itu dengan sepucuk pistol dan menyeretnya keluar. Sopir taksi mengeluarkan dompetnya, yang langsung direbut. Sambil menodongkan senjata, ia menyuruh sopir taksi itu pergi. Aku bertambah lemas, ketika sopir taksi itu benar-benar ngacir.

Sedangkan yang seorang lagi membuka paksa pintu taksi, memaksaku keluar. Setelah berhasil, ia mendorongku dengan keras hingga aku terjatuh, lalu mengambil paksa tas selempangku. Aku mencoba menahannya, tetapi ia makin beringas. Sekelebat pisau melayang mengenai bahu dan lenganku. Aku mendekap tasku. Darah mulai mengucur di bajuku, bersama rasa perih di bahu dan lenganku.

Aku berteriak minta tolong. Meski hanya sebuah usaha sia–sia. Jalanan itu begitu sepi, tak ada orang yang melintas. Satu orang berhasil mengambil tasku. Tubuhku terasa lemas, tas itu berisi sejumlah uang, ponsel, kartu ATM, paspor, KTP, dan yang paling berharga adalah surat Ana de Sousa.

Tiba–tiba terdengar suara tembakan dari kejauhan. Dua orang itu lari dan melempar tas yang tadi diambilnya. Setelah itu, aku tak ingat lagi.

Ketika tersadar, aku menemukan diriku terbaring di sebuah dipan yang mirip bangku panjang. Perlahan aku mencoba menatap sekelilingku. Seperti sebuah gubuk, dengan atap rumbia diterangi lampu dari minyak tanah yang terbuat dari kaleng susu bekas. Di luar sepertinya gelap gulita, dan sunyi, hanya suara–suara binatang malam yang terdengar.

Aku merasakan sakit yang amat sangat pada bahu dan lenganku yang tenyata sudah dibungkus dengan kain seadanya. Dengan susah payah, aku mencoba bangun. Saat mendapati baju yang kukenakan tadi telah berganti dengan kaus berwarna hitam, aku terkejut. Baju yang kukenakan rupanya dijadikan bantal kepalaku. Seseorang telah mengobati dan mengganti bajuku. Aku mulai berpikir yang tidak–tidak.

Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi denganku dan teringat akan tasku yang tak ada di dekatku. Dengan tertatih–tatih, aku berjalan menuju pintu. Seseorang menyambutku di pintu, saat aku hampir terjatuh.

”Kau mau ke mana? Hari sudah malam,” katanya, sambil memapahku kembali ke tempatku semula.

”Aku mencari tasku,” kataku, sambil menahan sakit.

“Mencari ini?” tanyanya, sambil melemparkan tas ke pangkuanku.

Tergesa–gesa aku memeriksa tas dan merasa lega setelah tak ada barang yang hilang atau berkurang, termasuk surat dan puisi Ana. Susana yang remang–remang membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Seandainya orang jahat, tentu ia tidak akan menolongku. Ia bisa saja mengambil tasku, dan meninggalkanku di jalan.

”Kau yang mengganti bajuku?”  tanyaku, dengan perasaan takut.

”Aku tak sejahat yang kau pikirkan. Kau dalam keadaan pingsan ketika kubawa dan bahumu terluka,” katanya, seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.

Setelah itu ia berjalan menuju pintu.

”Hai,” panggilku. Ia menghentikan langkahnya.

”Aku bahkan tidak tahu namamu.”

”Mario,” jawabnya singkat.

”Terima kasih kau telah menolongku,” kataku, sambil tersenyum.

Ia tak menjawab, lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya dari luar.

Aku terbangun ketika hari sudah pagi. Kondisiku sedikit lebih baik dari semalam dan sakitku mulai berkurang. Aku melangkah keluar. Mario sedang berdiri bersama beberapa orang. Mereka sedang memperbincangkan sesuatu.

Aku bisa melihat wajah Mario dengan jelas. Wajah yang muram dan dingin, kedua pipinya dipenuhi cambang. Kulitnya gelap dengan rambut ikal. Ia mengenakan celana loreng dengan kaus berwarna hitam dan sepatu boot warna hitam. Penampilannya mirip tentara.

Aku menatap sekeliling yang rimbun oleh pepohonan tinggi. Sinar matahari masuk di antara sela–sela rimbun pepohonan.

”Bagaimana kondisimu?”

”Sedikit lebih baik, terima kasih kau telah mengobati lukaku.”

”Dalam beberapa hari saja lukamu sudah akan kering.”

Orang–orang yang tadi bersamanya meninggalkan kami berdua. Aku melihat mereka menenteng senjata laras panjang.

”Tempat apa ini?” tanyaku, sambil menatap sekeliling, sepertinya aku berada sangat jauh.

”Sedikit di luar kota.”

”Aku mengira kau seorang wartawan, tetapi aku tak menemukan kartu pers di tasmu. Apa sebetulnya yang kau lakukan di tempat seperti ini?”

”Aku sedang mencari seseorang.”

“Seorang wanita muda, datang jauh–jauh dari Jakarta, seorang diri dan menantang bahaya demi mencari seseorang di tempat ini,” katanya.

“Seorang remaja memberiku alamat, yang akhirnya membawaku ke sini,” kataku.

“Ia meminta uang?”

Aku menjawab dengan anggukan kepala.

”Kau sadar telah dia tipu? Tetapi, kau harus memakluminya. Terkadang keadaan memaksa seseorang melakukan hal yang bisa dilakukan hanya untuk menyelamatkan hidup mereka. Pemuda–pemuda tanpa pekerjaan dan masa depan,” desahnya. Wajahnya terlihat risau. Matanya menatap jauh ke arah rerimbunan pohon.

”Dia pasti seseorang yang sangat spesial untukmu. Jika tidak, mana mungkin kau mencarinya sampai sejauh ini,” katanya, sinis.

”Aku bahkan tidak tahu siapa dia sesungguhnya,” kataku.

Ia makin terheran dengan jawabanku. Lalu aku bercerita tentang Ana de Sousa, secara detail dan perjalananku mencarinya. Tetapi, aku tidak memperlihatkan surat Ana kepadanya.

”Kau terlalu nekat, Nona, mencari seseorang dengan informasi tak lengkap ke daerah seperti ini pula. Aku belum pernah melihat orang senekat ini. Perlu kau ketahui, Nona. Di sini kehilangan orang yang kita kasihi adalah hal biasa, bahkan ada anak yang dilahirkan tanpa diketahui siapa ayahnya. Anak kehilangan orang tuanya. Orang tua kehilangan anak–anak yang mereka besarkan. Di sini itu semua hanyalah cerita sehari–hari. Cerita yang tak dibesar–besarkan. Kau hanya buang–buang waktu. Beruntunglah, karena kami menemukanmu. Jika tidak, mungkin namamu pun tak akan tercatat di koran,” katanya, menegaskan.

Aku terdiam mendengar ucapannya.

”Temanku akan mengantarmu pulang, tetapi kau tak boleh bercerita pada siapa pun bahwa kau telah bertemu denganku dan kau tidak boleh memberitahukan tentang tempat ini,” katanya memperingatkanku, setengah mengancam.

Dengan takut aku mengangguk dan tak berani berkata lagi.


Bersambung

Penulis: Dwi Ratnawati

Cerita Terkait :

» Ana de Sousa (Bagian 1)

» Ana de Sousa (Bagian 2)

» Ana de Sousa (Bagian 3)

» Ana de Sousa (Bagian 4)

» Ana de Sousa (Bagian 6)

» Ana de Sousa (Bagian 7)

» Ana de Sousa (Bagian 8)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :