
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Ana de Sousa (Bagian 4)

|
|
| |
Venesa memperkenalkanku pada seorang wanita, hampir seusia dengan ibuku, bernama Beatrice. Sebelumnya ia mengingatkan bahwa Suster Beatrice senang bercerita, terkadang sampai lupa waktu. Setelah itu Venesa berpamitan karena harus bekerja. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
Aku menyampaikan maksud kedatanganku sama seperti kepada Venesa tadi dan menjelaskan tahun perkiraan Ana bekerja. Ia mencopot kacamatanya dan mencoba mengingat sesuatu. Kemudian mengulang–ulang nama itu.
”Tahun 1976,” ucapnya, meyakinkanku.
Aku menjawab dengan anggukan kepala.
”Berarti setahun setelah tentara Indonesia datang,” katanya.
Ia bercerita, suatu malam di bulan Desember tahun 1975, ia melihat sebuah benda mirip helikopter beterbangan di udara, suaranya sangat bising. Bersamaan dengan itu, benda–benda berjatuhan dari helikopter dan melayang di udara. Esoknya, banyak tentara di Kota Dili.
”Mirip dengan keadaan sekarang. Kalau dulu tentaranya berkulit cokelat, kini berkulit putih,” katanya, sambil tersenyum.
Apa yang dikatakan Venesa tentang Suster Beatrice benar. Aku kesulitan mencari celah untuk memotong pembicaraannya. Dengan menanyakan tahun berapa ia bekerja di rumah sakit ini, lalu mencoba menyangkut-pautkan dengan Ana. Aku lega saat ia mulai mengalihkan ceritanya.
”Memang pernah ada perawat bernama Ana, tetapi dua orang dan aku tidak ingat nama belakangnya. Sekarang keduanya sudah tidak bekerja di sini lagi,” katanya.
Kemudian aku bertanya apakah ia memiliki alamat keduanya. Mungkin, di antara kedua nama itu adalah nama Ana yang aku cari. Ia menelepon seseorang, kemudian berbicara dalam bahasa Tetun, bahasa setempat.
”Kembalilah besok,” katanya, sambil menutup telepon
Setelah mengucapkan terima kasih dan berjanji akan kembali esok, aku meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke hotel.
Pagi–pagi sekali, aku sudah berada di rumah sakit Dili. Suster Beatrice bahkan belum tiba di ruangannya.
”Sudah lama menunggu?” tanya Suster Beatrice.
Suaranya mengagetkanku. Aku segera berdiri. Ia memberiku isyarat agar masuk ke ruangannya. Aku mengikutinya. Kami duduk berhadapan di depan meja kerjanya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, lalu menyerahkannya padaku. Di kertas itu tertera dua alamat yang ditulis dengan nama Ana satu dan dan Ana dua menggunakan angka Romawi. Setelah mengucapkan terima kasih padanya, aku bergegas meninggalkan rumah sakit Dili.
Aku meminta kepada sopir yang mengantarku tadi untuk mencari alamat Ana yang pertama.
Di beberapa sudut jalan yang aku lewati, beberapa bangunan rusak dan hancur karena terbakar, dibiarkan begitu saja. Suasananya terlihat cukup menyeramkan. Tak lama kemudian, di sebuah rumah, taksi yang kutumpangi berhenti, lalu memberitahukan bahwa ini adalah rumah Ana yang pertama.
Seorang wanita setengah baya keluar, saat aku mengetuk pintu rumahnya. Ia menatapku curiga dan tak mempersilakanku masuk. Aku mencoba tetap bersikap ramah, dan mengatakan padanya, bahwa aku mencari Ana de Sousa.
”Betul, nama saya Ana. Ana da Costa,” katanya, dengan nada agak ketus.
Aku bertanya lagi, apakah ia pernah bekerja di rumah sakit Dili dan mengenal Ana de Sousa.
”Saya memang pernah bekerja di rumah sakit Dili, tetapi tidak kenal dengan orang yang kau cari,” katanya, masih dengan nada ketus.
Ia menutup pintu rumahnya, kemudian menguncinya dari dalam. Aku meninggalkan rumah itu, dan berharap pada Ana yang kedua. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah rumah, yang cukup jauh dari jalan raya. Sopir taksi memberitahukan bahwa ini rumah Ana yang kedua.
Rumah itu sepi, tak ada penghuni. Aku mengintip ke jendela kaca yang ujungnya tidak tertutup tirai. Aku melihat ruang tamu lengkap dengan meja dan kursi tamu. Untuk sementara aku merasa lega, berarti rumah ini ada penghuninya.
Aku mencoba membuka pintunya, ternyata dikunci. Akhirnya aku hanya bisa mengintip keadaan rumah itu. Beberapa orang yang tinggal di sekitar rumah itu, datang menghampiri.
Ketika aku bertanya tentang Ana de Sousa, mereka menjelaskan bahwa keluarga Ana de Sousa memang pernah tinggal di sini, tetapi sudah lama sekali mereka pindah, dan tak diketahui ke mana pindahnya. Kemudian rumah ini dijual. Oleh pemilik baru, sempat disewakan kepada orang asing, sekarang sudah tidak lagi. Mereka tak mengenal pemilik baru, karena jarang datang.
Esoknya aku kembali ke rumah itu, berharap pemilik rumah baru datang. Aku menemukan pemandangan yang sama seperti kemarin. Rumah itu tetap sepi tanpa penghuni. Beberapa orang yang melihatku dan menyapaku kemarin, kini mulai bersikap curiga. Merasa tak nyaman, akhirnya aku meninggalkan rumah itu.
Seperti orang yang tersesat, aku menyusuri Kota Dili yang panas dan berdebu, tanpa tujuan. Sesekali aku bertanya pada orang yang kujumpai. Beberapa ada yang kembali bertanya Ana yang mana? Tinggal di mana? Siapa nama ayahnya? Ada pula yang langsung menjawab ’tidak tahu’.
Seorang anak kecil berbaju kumal menengadahkan tangannya padaku. Aku memberinya selembar uang seribu rupiah.
”Dolar Indonesia!” teriaknya
Mungkin maksudnya uang rupiah, aku tersenyum geli. Sesaat setelah ia pergi, serombongan anak datang menghampiriku, sambil menengadahkan tangannya padaku, membuatku kerepotan. Seorang anak laki–laki usia remaja datang dan mengusir anak–anak itu. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Lalu meneruskan langkahku.
”Kakak mencari Ana de Sousakah?” tanyanya.
Aku menghentikan langkahku. Ia menghampiriku.
”Saya punya informasi penting tentang orang yang Kakak cari,” katanya.
Ia membawaku ke sebuah restoran, memesan beberapa jenis makanan, lalu makan dengan lahap, seolah tak makan beberapa hari. Ia bertanya mengapa aku tidak makan, aku menjawab sudah kenyang. Dengan sabar aku menunggunya menyelesaikan makan. Setelah selesai makan, tanpa rasa sungkan ia memintaku membayar makanannya. Dan, seperti kerbau dicocok hidungnya, aku menuruti permintaannya.
”Informasi apa yang kau punya?” tanyaku, mulai tak sabar.
“Tentu tidak bisa gratis begitu saja,” lanjutnya lagi.
Aku memberinya beberapa lembar uang dolar, yang langsung ia hitung dengan wajah setengah mengejek, kemudian menengadahkan tangannya. Aku memberinya beberapa lembar lagi. Ia mengambil dengan cepat, tanpa menghitung. Setelah itu, meminta nomor ponselku. Aku mencatatnya pada secuil kertas dan memberikan padanya. Ketika aku balik meminta nomor ponselnya, ia mengatakan tak punya ponsel.
”Tunggulah beberapa hari,” katanya.
”Bagaimana aku bisa menghubungimu,” kataku setengah berteriak, kesal karena ia mempermainkanku.
”Sabarlah, Kakak, aku pasti menghubungimu,” katanya, sambil berlari meninggalkanku sendiri.
Aku menarik napas dalam–dalam, lalu mengembuskannya perlahan, berulang kali, menahan rasa kesal. Dalam hati aku menyesal mengapa begitu mudah mempercayai anak itu, bahkan namanya pun aku tak tahu.
Bersambung
Penulis: Dwi Ratnawati

Cerita Terkait :

» Ana de Sousa (Bagian 1)

» Ana de Sousa (Bagian 2)

» Ana de Sousa (Bagian 3)

» Ana de Sousa (Bagian 5)

» Ana de Sousa (Bagian 6)

» Ana de Sousa (Bagian 7)

» Ana de Sousa (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|