
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Pelabuhan Hati (Bagian 8)

|
|
| |
Lama tak berjumpa dan bicara dengan Bang Iral membuatku sungguh rindu. Dalam kesibukanku yang nyaris tiada henti, siang ini kusempatkan mampir ke kantornya. Aku ingin menuntaskan rasa penasaranku atas ketakacuhan Bang Iral padaku akhir-akhir ini. Ia tak pernah mau menerima teleponku maupun meneleponku. Ia juga tak membalas SMS-ku maupun mengirim SMS padaku, apalagi mampir ke rumah kantorku. Ada apa dengan Bang Iral?
“Pak Admiral ada, Mbak?” tanyaku kepada resepsionis kantornya.
“Pak Admiral sudah dua hari tak masuk, sakit.”
Aku tersentak. “Sakit apa?”
“Saya kurang tahu.”
“Di rumah sakit atau di rumah?”
“Mungkin di rumah.”
“Oh, ya, sudah. Terima kasih, saya akan menengoknya di rumah kalau begitu.”
Aku segera melarikan mobilku ke rumah kontrakan Bang Iral. Tak lupa sebelumnya aku mampir ke toko buah untuk membawakan buah tangan untuknya. Tiba di sana, langsung kuketuk pintu rumahnya.
Aku terkaget-kaget ketika seorang wanita muda dan cantik membukakan pintu. Siapakah dia? Kekasihnyakah? Tapi, mengapa baru hari ini aku bertemu dengannya? Mungkinkah karena Bang Iral sakit, wanita ini datang untuk menemaninya?
“Selamat siang, ada Bang Iral?”
“Maaf, Bang Iral sakit dan sedang tidur. Anda siapa?” wanita itu tersenyum, menatapku tajam.
“Saya Elda, temannya. Kalau sedang tidur, saya titip ini saja untuknya. Katakan saja dari Elda, dan sampaikan salam saya, semoga Bang Iral cepat sembuh.”
Ragu-ragu wanita itu menerima keranjang buah yang kuulurkan padanya.
“Permisi, saya langsung pergi. Banyak yang harus saya kunjungi.”
Wanita itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Sesekali kuhapus air mata yang akhirnya menggelinding di pipiku ini, sambil menjalankan mobilku. Ah, betapa menyakitkan bertemu dengan wanita tadi. Pasti dia kekasih Bang Iral. Apa kubilang! Aku mengomeli diriku sendiri. Semestinya kamu tidak jatuh hati padanya, Elda! Kalau sudah begini, kamu mau lari ke mana lagi? Berharap kantor mau membuka cabang di Papua, dan meminta pindah ke sana untuk mencari suasana baru dan berharap bisa melupakan Bang Iral? Forget it! Di sini saja kau belum setahun, dan tugas masih menumpuk! Salahmu sendiri, mengapa menyukai pria itu! Pria yang santun dan baik hati, namun hanya menganggapmu seorang sahabat, tak lebih!
Kubelokkan mobilku menuju Pantai Losari. Entahlah, rasanya aku ingin menenangkan hatiku sesaat, setelah selama ini kuisi setiap hariku untuk bekerja dan hanya untuk bekerja.
Tiba-tiba ponselku berdering. Buru-buru aku meraihnya. Bang Iral! Tapi, aku tak lagi bernafsu untuk menjawabnya. Untuk apa? Dia, toh, sudah milik wanita tadi, wanita yang ada di rumahnya!
Kudiamkan saja ponsel yang berdering hingga meninggalkan missed calls 5 kali dari penelepon yang sama. Bang Iral! Inilah untuk pertama kalinya, kuhabiskan sisa hariku di tepi Pantai Losari hingga matahari ditelan sang samudra di ufuk barat sana. Sendiri, sunyi, sedih!
“Hai, Nauval!” sapaku sore ini, ketika aku tiba di kandang kompleks peternakan Haji Yusuf. “Ayam-ayam saya sehat, ’kan?”
Nauval tersenyum. Pria itu tengah berkeliling menengok ayam di kandang batere. Aku menyusulnya ke sini setelah tadi di halaman parkir diberi tahu pegawainya bahwa ia berada di sini, dan disuruh menyusulnya ke sini.
“Ayam-ayam Dokter Elda?” tanyanya, bingung.
“Maksud saya, ayam-ayam yang memakai program saya.”
“Sehat, Dok! Ayam yang lain juga sehat. Oh, ya, Dokter Elda dapat salam dari Kakek.”
“Oh… wa’alaikum salam. Kapan Kakek akan pulang ke Makassar?”
Nauval angkat bahu. “Selama beliau betah di sana, ya, akan terus di sana. Kalau sudah bosan, beliau akan pulang ke sini.”
Aku tersenyum. “Tanpa Kakek, saya percaya kamu juga bisa mengelola peternakan ini!” aku menyemangatinya.
“Amin. Dokter Elda mau menengok ayam yang memakai program dari Dokter Elda?”
Aku mengangguk. Kami lalu melangkah bersama menuju kandang lain.
Dibantu Wati, akhirnya pukul 11 malam aku selesai mengisi dua kamar tidur yang masih kosong dengan perabotan sederhana di rumah kontrakan ini. Lemari pakaian, tempat tidur beserta kasur dan bantal-gulingnya yang telah dilengkapi seprai dan sarung bantal guling, serta sebuah meja kerja beserta kursinya lengkap dengan alat tulis kantor seperlunya telah tertata rapi.
Tadi pagi, Pak Jonathan menelepon bahwa besok sore teman-teman yang akan membantu kantor cabang di sini akan datang. Untunglah, akhirnya selepas magrib tadi, toko furniture telah mengirim perabotan yang kupesan, lengkap dengan tukangnya untuk memasang perabotan pesananku.
Setelah semua urusan selesai, aku langsung membersihkan badan, lalu makan malam bersama Wati dan langsung masuk kamar. Kujatuhkan tubuhku di pembaringan, sementara di luar kudengar Wati tengah menonton televisi. Kutatap langit-langit kamar. Dalam kesendirianku seperti ini, tanpa kesibukan lagi, aku merasa sunyi. Aku merasa kosong.
Bersambung
Penulis: Dewi Tresnowati

Cerita Terkait :

» Pelabuhan Hati (Bagian 1)

» Pelabuhan Hati (Bagian 2)

» Pelabuhan Hati (Bagian 3)

» Pelabuhan Hati (Bagian 4)

» Pelabuhan Hati (Bagian 5)

» Pelabuhan Hati (Bagian 6)

» Pelabuhan Hati (Bagian 7)

» Pelabuhan Hati (Bagian 9)

» Pelabuhan Hati (Bagian 10)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|