Bookmark and Share


 
 



  Pelabuhan Hati (Bagian 7)

 
 


Entah mengapa, sudah dua minggu sejak pertemuan pertamaku dengan Nauval itu, aku menjadi sulit untuk menghubungi Bang Iral. Ponselnya selalu tak aktif, pesan singkatku pun tak pernah dibalas. Ketika kuhubungi telepon kantornya, sekretarisnya selalu mengatakan pria Batak itu tak ada di tempat.

Aku tengah termenung sendiri di sebuah kamar hotel di tengah Kota Pare-Pare sore ini. Tiba-tiba ponselku berdering.

“Ya, Pak Jonathan. Ada apa?”

“Kamu di mana?”

“Pare-Pare, Pak.”

“Ya, ampun! Sabar, ya, Da. Sebentar lagi, akan datang anak buahmu untuk membantumu di sana. Ada tiga dokter hewan. Satu untuk Makassar. Satu untuk Pare-Pare dan sekitar. Satu untuk Manado. Lalu satu orang untuk pegawai administrasi kantor. Semua akan kami kirim ke Makassar dulu. Nanti, tugasmu mengantar, mencarikan tempat kos dan membimbing mereka satu per satu ke daerahnya masing-masing.”

“Finally.....”

“Kantor pusat kan tidak main-main membuka cabang di Sulawesi, Da.”

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, Pak, apa bisa juga dikirim tenaga seorang vaksinator untuk sementara waktu stand by di Makassar?” pintaku. “Masalahnya begini, Pak…, saya lihat beberapa peternakan masih banyak yang perlu mendapatkan bimbingan untuk mengetahui lebih dalam masalah proses persiapan dan cara vaksinasi yang benar. Mungkin kami perlu tenaga vaksinator untuk memberikan training pada peternakan di sini. Ya, kira-kira untuk tiga bulan saja, Pak. Bisa?”

Pak Jonathan tak menjawab.

“Please, Pak. Itu akan sangat membantu proses pemasaran produk kita di sini. Saya ingin membuktikan bahwa perusahaan kita tak hanya sekadar menjual produk, tetapi memberikan servis yang selangkah di muka dibandingkan perusahaan lain.”

“Okelah, saya akan bicarakan dengan Pak Julius. Tapi, yang pasti, saya setuju dengan ide ini, dan saya akan perjuangkan agar Pak Julius juga setuju.”

“Terima kasih, Pak. Satu lagi pertanyaan, berarti untuk yang di Manado, nanti saya yang mengantar ke sana, Pak?”

”Ya, kamu yang antar dan kamu yang mencari tempat kos untuk anak buahmu di sana, berikut memperkenalkan peternakan di sana.”

“Siap, Pak! Tapi, bagaimana dengan kendaraan operasional untuk orang yang bertugas di Manado, Pak?”

“Kita akan kirim kendaraan langsung dari Jakarta ke Manado, alamat tujuannya ke rumah kerabat Pak Julius. Jadi, nanti kamu tinggal ambil di sana. Karena itu, orang yang akan bertugas ke Manado mesti menunggu berita dari Jakarta, apakah kendaraan yang di Manado sudah dikirim ke sana atau belum. Selama kendaraan belum ada, stand by saja dulu di Makassar.”

“Tapi, nggak lama-lama, kan, Pak?”

“Kita usahakan secepatnya, Elda.”

“Baguslah. Karena kita juga butuh orang secepatnya untuk pegang Manado.”

“Saya mengerti, Elda.”

“Terima kasih, Pak.”

“You’re welcome. Take care, Da.”

Telepon kututup. Kutarik napas panjang. Lega.

Pagi-pagi sekali aku sudah check out dari hotel dan langsung kusetir mobilku ke Sidrap. Aku pergi ke peternakan Haji Aziz yang meneleponku semalam, mengabarkan ada masalah di peternakannya. Tiba di sana, kupasang masker dan langsung menuju kandang bersamanya.

Ternyata, ayam tiga belas minggunya memang benar terkena serangan wabah tetelo. Aku mendiagnosis dari perubahan fisik post mortem ayam-ayam mati yang kuperiksa, juga dari ayam sakit namun yang belum mati.

“Kematian sudah menurun, Dok, pagi ini.”

“Memang sudah berapa hari wabah terjadi, Pak Haji?”

“Sudah hari keempat sekarang, Dok. Awalnya mati ratusan, Dok!”

“Kenapa Pak Haji baru telepon saya kemarin?”

“Karena ayam ini kan pakai program saya sendiri, Dok. Saya hanya pesan vaksin campur-campur dari produk mana saja. Jadi, saya mau minta tolong sama dokter hewan segan begitu, ji.”

“Pak Haji Aziz… lain kali jangan begitu, telepon saja segera jika ada masalah. Oh, ya, boleh saya lihat program vaksinasi yang Pak Haji buat sendiri itu?”

Haji Aziz tersenyum malu.

“Tetapi, jangan Ibu Dokter Elda kritik program saya, ya?”

“Pak Haji, apa salah kalau kritik atau saran yang mungkin saya katakan untuk kebaikan peternakan Pak Haji? Daripada ayam banyak yang mati, kan Pak Haji sendiri yang rugi.”

Haji Aziz mengangguk-angguk, lalu mengambil program yang tergantung di tembok.

“Ini, Dokter Elda.”

Aku mencermati program yang ditulis tangan dalam kertas itu.

“Pak Haji, menurut saya, program vaksinasi ini kurang aman, terutama saat ayam usia dua belas minggu, semestinya Pak Haji sudah melakukan vaksinasi ulang, sementara Pak Haji baru jadwalkan pada nanti saat usia tiga belas minggu. Makanya, saat ayam usia tiga belas minggu, ayam ini sudah terinfeksi, sebelum Pak Haji beri vaksin, ’kan?”

Haji Aziz terbelalak.

“Benar, Dok! Saya baru mau vaksinasi, ayamnya sudah kena penyakit.”

“Itulah. Jadi, untuk vaksinasi tetelo sebaiknya memang ketat, Pak Haji.”

Pak Haji Aziz mengangguk-angguk.

“Sudahlah, besok-besok buatkan saya program yang ketat dan aman, ya, Dokter Elda.”

Aku mengangguk pasti. “Saya siap membantu, Pak Haji!”


Bersambung

Penulis: Dewi Tresnowati

Cerita Terkait :

» Pelabuhan Hati (Bagian 1)

» Pelabuhan Hati (Bagian 2)

» Pelabuhan Hati (Bagian 3)

» Pelabuhan Hati (Bagian 4)

» Pelabuhan Hati (Bagian 5)

» Pelabuhan Hati (Bagian 6)

» Pelabuhan Hati (Bagian 8)

» Pelabuhan Hati (Bagian 9)

» Pelabuhan Hati (Bagian 10)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :