
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Namaku, Arimbi (Bagian 4)

|
|
| |
Keesokan paginya, Dayu tersadar, ia tergolek di atas matras dengan pakaian seperti saat menyopir. Artinya, ia tidak sempat berganti pakaian saat membaringkan badannya tadi malam. Barangkali kelelahan yang teramat sangat membuatnya terlelap begitu cepat.
Alarm reguler dari telepon seluler membangunkan Dayu dari tidur yang nyaris tanpa mimpi. Jam biologis sedikit terganggu, terutama setelah mengalami jetlag setibanya dari perjalanan lintas benua empat hari silam. Telepon dari ibunya tempo hari, memaksanya untuk segera berkemas meninggalkan aktivitasnya sebagai mahasiswa program doktoral di Inggris.
Nalurinya sebagai anak membawanya untuk segera kembali sementara ke tanah leluhur. Dayu harus meminta izin kepada para promotornya, dan petugas administrasi di fakultas pascasarjana, departemen antropologi budaya. Untunglah mereka bisa memahami situasi yang tengah dihadapi Dayu. Bahkan, tidak sedikit yang menunjukkan simpatinya, seraya menguatkan Dayu agar tabah menghadapi cobaan.
Tetapi, efeknya sangat memengaruhi jam biologisnya. Perbedaan waktu lebih dari 7 jam, mau tidak mau berdampak pada metabolisme hormonal. Lengkingan alarm menyadarkannya, bahwa ia harus bersiap menghadapi aktivitas hari baru.
Setelah mandi dan salat Subuh, Dayu sempat membuka agenda harian di ponselnya. Ada sejumlah kegiatan yang ia coba batalkan. Bahkan, hampir semua kegiatan yang telah teragenda dengan baik, terpaksa harus dihapusnya.
”Sekarang aku harus fokus memecahkan teka-teki surat ini,” ujarnya dalam hati. Digenggamnya surat yang sudah puluhan tahun tersimpan rapat di balik lembaran agenda tua itu. Makin dibaca berulang kali, Dayu makin penasaran. Ia mulai mereka-reka hubungan antara Bram Nataatmadja dengan Arimbi.
”Tante Arimbi,” bisiknya lirih, menyebut nama wanita yang diselimuti misteri.
Pagi ini, Dayu bertekad akan mulai menyusuri jejak langkah ayahnya hingga akhirnya puzzle Arimbi setahap demi setahap bisa terhimpun menjadi sebuah mozaik utuh. Tetapi, harus dari mana ia melangkah? Siapa yang akan dijadikan sebagai penunjuk jalan? Serta, berapa lama waktu yang diperlukan untuk memecahkan misteri terbesar dalam hidupnya?
Makin tenggelam dalam kubangan pertanyaan, makin rumit masalah yang ia hadapi. Dayu me&rasa tengah memasuki sebuah labirin besar yang tak jelas ujung pangkalnya. Ke mana ia harus masuk, di mana pula ia harus mencari jalan keluarnya. Tetapi, di dalam dadanya sudah terpatri tekad untuk menemukan keberadaan Arimbi. Apa pun risiko yang harus ditempuh.
Setelah menyantap sarapan paginya, sepiring nasi goreng tidak pedas kesukaannya, telur mata sapi setengah matang, dan tentu saja segelas teh hangat, Dayu berkemas menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya nanti. Pakaian resminya tak lain adalah jins belel dipadu polo shirt putih. Kesan feminin terpancar kuat.
Sebelum turun ke lobi hotel, Dayu sudah menyusun rencana untuk hari itu. Dari ruang kerja ayahnya ia sengaja membawa beberapa buku dan catatan yang sekiranya diperlukan dalam memecahkan misteri ’Tante Arimbi’. Ada sejumlah nama, sahabat, mungkin kerabat almarhum ayahnya, yang boleh jadi akan menuntunnya menemukan wanita misterius itu. Nama dan alamat penting telah di-input ke dalam ponselnya. Syukurlah ia menggunakan provider telepon seluler yang menawarkan layanan GPS, sehingga memudahkannya melacak lokasi yang belum dikenalnya.
Terkadang ia terkagum-kagum pada terobosan dalam teknologi telekomunikasi dan media komunikasi massa saat ini. Betul kata pakar komunikasi yang mengisyaratkan masyarakat informasi sekarang menjadi sebuah desa global. Bahkan, internet yang dulu hanya jadi imajinasi futurolog, sekarang berubah menjadi tulang punggung informasi global yang nyaris tidak ada tandingannya. Hampir semua aktivitas Dayu tak terpisahkan dari teknologi cyber yang satu ini.
Termasuk tadi pagi, ia sudah surfing di dunia maya, mencari informasi termutakhir, mencoba kontak dengan sahabat-sahabat mayanya lewat facebook, atau sekadar mengecek e-mail yang masuk hari itu. Bahkan, ia sempat teleconference dengan promotornya di Inggris, sekadar berkonsultasi perbaikan disertasinya di beberapa bab.
Dididik di tengah kehangatan keluarga, namun dengan ketegasan sikap. Warisan inilah yang mengalir dalam darah Dayu. Ia tumbuh menjadi wanita yang mandiri, tidak lembek saat masalah menghadang. Termasuk, ketika sekarang harus menghadapi masalah terpelik dalam hidupnya.
Jalan Tikukur menjadi tujuan pertama. Butuh waktu hampir setengah jam menuju lokasi yang tertera dalam surat misterius itu. Sebenarnya kurang pas menyebutnya jalan, karena panjangnya tidak lebih dari seratus meter! Mungkin lebih cocok disebut gang, walaupun ruas Jalan Tikukur jauh lebih lebar dari gang.
Jalan dua arah ini berada di pinggir jalan protokol yang lalu lintasnya cukup padat. Tapi, saat memasuki kawasan Jalan Tikukur, suasananya tidak menunjukkan dekat sebuah jalan besar. Di kiri-kanan jalan berjejer rapi rumah berarsitektur kolonial. Cirinya terlihat dari atap yang tinggi, agar sirkulasi udara bisa lebih leluasa. Hanya satu-dua rumah yang terlihat sudah direnovasi dengan gaya arsitektur modern. Sayangnya, malah tampak asing dan tidak serasi dengan lingkungan sekitar.
Seorang petugas satpam tampak memperhatikan gerak-gerik Dayu dari kejauhan. Dari tatapannya tebersit kecurigaan bila melihat kehadiran orang asing yang masuk di daerah sekitar situ. Barangkali itu menjadi naluri sekaligus tanggung jawab baginya sebagai seorang petugas yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban. Lagi pula, bahasa tubuh wanita ini pantas menimbulkan kecurigaan. Setiap rumah yang dilewatinya selalu ia tatap baik-baik, seakan ingin menelisik ke balik setiap dindingnya.
”Selamat pagi, Neng!” sapa pria separuh baya tertuju ke Dayu. ”Ada yang bisa dibantu? Atau Eneng sedang nyari siapa?” ujar Pak Satpam, seakan tak puas dengan pertanyaan pertamanya.
Dayu terenyak atas kehadiran satpam yang berseragam putih biru ini.
”Eh, tidak, Pak!” jawabnya agak tersipu. ”Pak, punten, bisa tanya, mungkin Bapak tahu ada penghuni salah satu rumah di sini bernama Bu Arimbi?”
Satpam yang kini balik ditanya, sejenak terdiam. Otaknya sedang bekerja keras mencari jawabannya.
”Aduh Neng, maaf! Bapak nggak tahu kalau di sini ada yang namanya Bu Arimbi,” jawab Pak Satpam, masih dengan wajah diliputi kebingungan. ”Soalnya, Bapak juga baru lima tahun kerja di sini. Jadi tidak semua orang yang tinggal di jalan ini saya kenal,” ujarnya, polos.
Dayu tentu saja kecewa dengan jawaban tadi. Sedianya, ia akan mendapat jawaban yang bisa dijadikan keping pertama puzzle yang akan merangkai mozaik misteri besar yang tengah dihadapinya.
”Betul Bapak tidak kenal Bu Arimbi? Atau, mungkin Bapak lupa?” desaknya kembali. Satpam setengah baya tadi sambil menggaruk kepala berusaha berpikir lebih keras.
”Wah, nyerah, deh, Neng! Bapak betul-betul nggak tahu!” jawabnya, dengan nada pasrah. ”Mungkin ada nama lengkapnya? Soalnya, setahu Bapak di sini tidak ada yang bernama Bu Arimbi,” katanya, sambil tersenyum kecut.
”Ya, sudah, nggak apa-apa! Nuhun, ya, Pak!”
Potongan pertama puzzle itu ternyata sulit ditemukan. Dayu melanjutkan langkahnya ke ujung Jalan Tikukur. Sebelum meninggalkan kawasan itu, sekali lagi menengok jalan lengang yang penuh misteri.
Bersambung
Penulis: Hadi PM

Cerita Terkait :

» Namaku, Arimbi (Bagian 1)

» Namaku, Arimbi (Bagian 2)

» Namaku, Arimbi (Bagian 3)

» Namaku, Arimbi (Bagian 5)

» Namaku, Arimbi (Bagian 6)

» Namaku, Arimbi (Bagian 7)

» Namaku, Arimbi (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|