
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|



| |
Namaku, Arimbi (Bagian 3)

|
|
| |
TIKUKUR
Dayu menginjak pedal gas mobilnya hampir sampai ke dasar. Kendaraan yang disewanya untuk seminggu itu melaju kencang di atas aspal hotmix, yang membelah pekatnya malam di perbukitan kebun teh di daerah Ciater yang berhawa sejuk. Jemarinya mencengkeram kemudi, sementara irama R&B dari cakram MP3 nyaris memenuhi seisi kabin mobil. Itulah satu-satunya cara Dayu mengusir sepi.
Kelebatan sosok hitam di kanan-kiri jalan seakan menjadi penanda betapa cepatnya mobil abu-abu metalik itu menembus kabut di seputaran kaki Gunung Tangkuban Perahu. Saat kendaraan membelok ke kiri di sebuah tikungan menanjak, jantung Dayu tiba-tiba nyaris keluar dari rongga dadanya, ketika ia harus menginjak pedal rem mendadak. Ban radial beradu dengan aspal hitam menghasilkan kepulan asap berbau sangit.
Hati Dayu merutuk. Insting Dayu mengatakan, ada sekelebatan sosok hitam menyeberangi jalan secara mendadak. Langsung saja gerak refleksnya beraksi, ketika kakinya menginjak pedal rem. Dayu kaget bukan main. Ia menyangka yang melintas adalah seseorang yang mencoba menyeberang jalan. Tahunya, seekor macan kumbang hitam yang tengah mencari mangsa di malam hari. Untunglah kendaraan tidak sampai terguling ke dalam jurang di tepi kanan jalan. Posisi kendaraan berputar menghadap kembali ke arah Subang. Bahkan, bagian depan sudah berada di tepi bibir jurang.
Lepas dari kekagetannya, Dayu bersyukur karena luput dari musibah. Macan kumbang yang nyaris mencelakainya, sempat menengokkan kepalanya ke arah kendaraan yang ditumpangi Dayu. Tak lama kemudian, hewan malam itu melangkah menuju kegelapan malam.
Setelah menghidupkan kembali mesin, Dayu memutar kembali arah kendaraan menuju Bandung. Mengikuti instingnya. Mencari tahu identitas wanita bernama Arimbi, seperti yang tercantum pada surat yang ditujukannya pada Bram Nataatmadja. Ayahnya.
Kepergian Dayu kembali ke Bandung, memang tidak bisa dihalang-halangi oleh semua orang. Bahkan oleh ibunya, yang kini harus duduk di kursi roda sejak terkena stroke setahun silam. Setelah tiga hari tinggal di rumah orang tuanya, langkah Dayu tidak bisa dikekang lagi.
”Dayu, kenapa harus buru-buru pulang? Sudah nggak sayang Ibu? Ibu kesepian, Nak, masih ingin kamu temani,” pinta ibunya. Tetapi, hati Dayu yang remuk redam bergeming dengan bujukan ibunya.
”Bukan begitu, Bu, Dayu ada urusan penting di Bandung malam ini juga. Jadi harus pamit pada Ibu,” ujarnya.
Dayu merasa sangat berat harus meninggalkan ibunya saat itu. Tetapi, kekecewaan yang membuncah dalam sanubarinya seakan menjadi tembok tebal yang nyaris tak tergoyahkan. Ia sadar harus berbohong kepada wanita yang telah melahirkannya, lebih tiga puluh tahun silam.
Sekali lagi, kekecewaan pada ayahnya, yang menjadi pangkal keputusannya meninggalkan kota yang telah membesarkannya. Terbayang ibunya yang kini sangat bergantung pada perhatian kakak sulungnya, yang kebetulan memutuskan pindah berdinas di Subang. Jadi, perawatan ibunya kini sepenuhnya dipegang oleh keluarga kakaknya yang tinggal tidak jauh dari rumah peninggalan mereka.
Sebelum melepas putri tunggalnya, ibunya mencium kedua pipi Dayu. Tak lupa membisikkan pesan di telinga.
”Nak, bila menghadapi masalah atau perlu bantuan, jangan sungkan-sungkan bicara dengan Ibu.”
Dayu menangkap gelagat kecurigaan Ibu atas sikapnya. Ku Ibu didoakeun, sing lungsur-langsar (Ibu doakan supaya dimudahkan dari segala masalah), pesan ini masih terngiang di gendang telinga Dayu, ketika melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Ada perang batin dalam diri Dayu sesaat setelah membaca surat yang terselip di dalam buku agenda ayahnya. Di satu sisi ia ingin menyampaikannya kepada ibundanya. Penasaran mencari jawaban atas pesan singkat yang ditulis Arimbi. Arimbi!
Tetapi, langkahnya surut saat melihat kondisi ibunya yang tampak tidak akan siap menghadapi kenyataan pahit ini. Jangan-jangan, bila disampaikan, malah akan memperburuk kondisi kesehatan Ibu.
Setelah stroke yang dialaminya, Ibu tidak boleh mendapat tekanan psikologis, agar tidak memperburuk kondisi fisik dan kejiwaannya. Bahkan, Dayu tidak berusaha menyampaikan masalah ini kepada saudara-saudaranya yang lain. Takut akhirnya berita ini sampai ke telinga ibunya. Bisa runyam nanti urusannya, pikir Dayu, seolah membenarkan argumennya.
Langkah Dayu menelusuri keberadaan wanita bernama Arimbi sudah mantap. Ia pikir, dengan mengetahui identitas wanita yang dipandangnya sebagai kerikil dalam hubungan Ayah dan Ibu, dan hubungannya dengan Ayah, mungkin akan mengurai teka-teki yang menggelayut dalam benaknya selama ini.
Tidak ada petunjuk lain selain sepucuk surat yang kini tersimpan dalam ransel laptop-nya. Bukti autentik affair ayahnya dengan wanita penggoda bernama Arimbi! Dayu geram memikirkan masalah yang sulit ditepis dari pikirannya. Geram terhadap kemunafikan ayahnya, yang selalu menunjukkan kehangatannya sebagai seorang suami di hadapan istri dan keempat anaknya. Jadi, selama ini ayahnya sempurna menyembunyikan perselingkuhannya dengan Arimbi. Wanita yang mengganggu keharmonisan keluarga Bram Nataatmadja.
Setibanya di Bandung, sudah hampir pukul sembilan. Perjalanan yang ditempuh lebih kurang satu jam lebih lima belas menit ini, membuat Dayu letih. Prosesi menjelang hingga setelah pemakam-an ayahnya telah menguras tenaganya. Ditambah lagi dengan beban pikiran yang mengaduk-aduk perasaannya.
Ia mencari tempat peristirahatan sementara. Dayu memilih sebuah butik hotel yang asri di Jalan Supratman. Tak jauh dari tempat ia dulu menimba ilmu antropologi. Meski bukan hotel berbintang empat, bangunan bergaya modern minimalis ini cukup nyaman. Perlu waktu untuk mendapatkan sebuah kamar dengan single bad, karena biasanya di tiap akhir pekan hunian hotel dan penginapan di Bandung selalu penuh. Tanpa kecuali di Hotel Le Caribian ini.
Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya Dayu mendapat kunci magnetic card, kamar bernomor 55 berada di lantai tiga. Diantar seorang bell boy berseragam hijau toska yang mencoba membantunya menarik troley berisi pakaian, langkah Dayu gontai menyusuri koridor hotel sebelum naik ke lantai tiga. Setelah memberi tip kepada pemuda yang mengaku lulusan sekolah menengah perhotelan yang senantiasa menunjukkan sikap ramah itu, Dayu memasuki kamar dengan kelopak mata yang berat.
Bersambung
Penulis: Hadi PM

Cerita Terkait :

» Namaku, Arimbi (Bagian 1)

» Namaku, Arimbi (Bagian 2)

» Namaku, Arimbi (Bagian 4)

» Namaku, Arimbi (Bagian 5)

» Namaku, Arimbi (Bagian 6)

» Namaku, Arimbi (Bagian 7)

» Namaku, Arimbi (Bagian 8)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|