Celebrity
Bunga Citra Lestari, Tara Basro, dan Chelsea Islan Menghidupkan 3 Srikandi

14 Aug 2016


Foto: Nicky Gunawan

Tidak mudah bagi tiga wanita ini: Bunga Citra Lestari, Tara Basro, dan Chelsea Islan memerankan sosok tiga Srikandi—tiga atlet putri panahan peraih medali olimpiade pertama bagi Indonesia—yang menjadi legenda dalam sejarah olahraga. Bukan hanya latihan fisik dan teknik memanah, ketiga aktris itu juga harus menyelami kehidupan Nurfitriyana, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani demi menghidupkan karakter mereka.
 
Bagaimana awal keterlibatan Anda di 3 Srikandi?
Tara (T): Tawaran datang langsung ke saya. Sebelum mengiyakan, saya sempat mencari tahu banyak hal tentang Mbak Kusuma, tokoh yang akan saya perankan. Saya baca naskahnya, cerita, dan karakter yang diangkat. Ketika tahu bahwa film ini mengangkat kisah para atlet panahan yang telah mengharumkan nama bangsa, saya  makin bersemangat.
Bunga (B): Saya ditawari memerankan tokoh Mbak Nurfitriyana oleh Mas Iman Brotoseno (sutradara) untuk menggantikan pemeran sebelumnya, Dian Sastrowardoyo. Saya sempat ragu karena setelah Habibie & Ainun niatnya tidak ingin main film dulu. Apalagi persiapannya mepet. Saya baru ditawari peran ini dua minggu sebelum syuting. Saya juga tidak terpikir bahwa film ini tentang atlet karena judulnya berbau laga atau kolosal. Setelah bertanya kepada ibu saya, ternyata mereka memang legend pada masa itu. Saya langsung tertarik, apalagi karena belum pernah memerankan karakter atlet.
Chelsea (C): Ya, saat ditawari untuk memerankan tokoh Mbak Lilies, saya langsung semangat. Setelah membaca naskahnya, saya yakin film ini bisa menginspirasi banyak orang, sekaligus mengapresiasi kerja keras para atlet dan mengangkat sejarah Indonesia. Saya selalu tertarik pada sejarah bangsa.
 
Chelsea, sebagai yang termuda, mengapa sangat tertarik pada sejarah?
Justru saat masih muda inilah kesempatan saya untuk menambah banyak wawasan. Banyak hal bisa dikulik dan dijadikan pelajaran hidup dari sejarah. Film jadi salah satu sarana saya untuk mempelajari sejarah. Misalnya, dari bermain di film ini, saya jadi tahu bahwa Indonesia pernah berjaya di Olimpiade 1988 dengan segala keterbatasan di masa itu. Waktu main di film Rudy, saya jadi mengerti proses perjuangan beliau dalam menciptakan pesawat. Di film sebelumnya, Di Balik 98, saya jadi bisa mendapat gambaran peristiwa Mei 1998.
 
Kesulitan utama memainkan film ini?
B: Latihan fisik karena saya bukan tipe orang yang gemar olahraga. Mungkin beda dari Tara yang terbiasa berolahraga. Tiap hari kami disuruh workout, lari, push up, squat jump. Belum lagi latihan memanah. Tangan saya sampai memar, kulit mengelupas. Tiap menarik busur panah rasanya deg-degan karena kalau salah akan sakit banget di tangan.
C: Latihan fisik juga menjadi tantangan tersendiri di film ini. Kesulitan lain bagi saya adalah mempelajari dialek Surabaya untuk menghidupkan karakter Lilies. Saya harus sering-sering ngobrol dengannya dan mendengarkan suaranya untuk mempelajari logat serta cara bicaranya.
T: Saya lebih fokus ke teknik memanah agar benar-benar bisa menghidupkan karakter atlet memanah sekelas olimpiade. Ada beberapa posisi dan teknik yang tidak boleh berubah. Perlu konsistensi agar tembakan anak panah mengenai sasaran.
 
Bunga, Anda bergabung terakhir saat proses produksi film ini. Sulitkah mengejar ketinggalan?
Sulit sekali. Tara dan Chelsea sudah latihan selama empat bulan, sedangkan saya baru masuk lima hari sebelum mulai syuting. Untung saja kami dilatih oleh coach profesional, coach Fatar, putra almarhum coach Donald Pandiangan yang dalam film ini diperankan oleh Reza Rahadian. Setelah dijalani, lama-lama enjoy. Prinsip saya, kalau produser dan sutradara saja percaya saya bisa, saya pun harus percaya diri dan berjuang mati-matian.
 
Bagaimana membangun chemistry dalam film ini?
T: Walau sama-sama aktris, saya tidak begitu dekat dengan Chelsea dan Bunga sebelumnya. Lewat film inilah kami jadi sangat dekat. Selain bertemu saat berlatih dan syuting, kami cukup sering hang out bareng. Mereka memiliki kepribadian terbuka, saya jadi tidak sulit membangun chemistry dengan mereka. Selain itu, ketika memutuskan untuk menjadi aktris, saya bertekad untuk memiliki jiwa yang terbuka. Sikap itu memudahkan saya untuk beradaptasi dengan banyak orang.  
C: Tiap ada waktu kosong, kami manfaatkan untuk pergi bertiga. Lama-kelamaan jadi seperti saudara dan terbiasa bersama. Kebiasaan itu membuat kami tidak sulit lagi menunjukkan chemistry di depan kamera.  
B: Mungkin di antara Tara dan Chelsea, saya yang paling sulit membangun chemistry karena waktu reading sangat sempit. Mereka juga tentu sudah lebih terbiasa dengan pemeran sebelumnya. Untung saja ada Reza yang membantu menyatukan chemistry kami. Tapi, seiring syuting berjalan, kami jadi bersahabat. Saya tipe orang yang susah dekat dengan teman wanita, tapi di sini saya justru menemukan sahabat baru.
 
Apa yang membuat Anda percaya diri memerankan karakter itu?
B: Saya mengikuti semua arahan sutradara. Saya juga sudah melakukan pendalaman karakter dan banyak bertanya kepada Tara atau Chelsea yang sudah terlibat lebih dulu. Saya mencoba melakukan yang terbaik untuk film ini.
T: Semuanya melalui proses pembelajaran, seperti belajar panahan dan pendalaman karakter. Jadi, ketika memerankan sebuah karakter, tidak ada keraguan dalam diri saya, sebab saya sudah melalui proses persiapan yang baik.
C: Untuk bermain film ini semua pemeran sudah melalui persiapan yang cukup. Kami pun sudah well trained untuk panahan.
 
Kesan bermain di film biopik?
T: Ini film biopik pertama saya, tentu sangat menegangkan. Tak hanya mempertanggungjawabkannya kepada Mbak Kusuma, tokoh yang saya perankan, tetapi juga bertanggung jawab kepada semua atlet panahan Indonesia. Saya mendapat ilmu baru dari memerankan karakter seorang tokoh nyata.
C: Selalu seru karena ada tantangan menghidupkan tokoh nyata ke dalam layar lebar. Saya harap film ini bisa menumbuhkan nasionalisme generasi muda dan membuat kita, masyarakat Indonesia, makin menghargai para atlet karena mereka juga pahlawan negara.
B: Walaupun kami tidak bisa meniru persis karakter tokoh nyata, kami punya interpretasi yang baik terhadap tokoh itu. Beda dengan saat memerankan tokoh fiktif, kami leluasa bereksplorasi. Emosi saya tertuang lebih dalam ketika bermain di film biopik, seakan benar-benar merasakan momennya. Misalnya, ketika syuting adegan olimpiade di Korea, saya sampai merinding karena merasa hidup pada  momen itu.
 
Tara, Anda menghadiri Cannes Film Festival 2016. Apa misi Anda?
Bersama perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Sutradara Terbaik Piala Citra 2015, Joko Anwar, kami dipercaya untuk memperkenalkan perkembangan dalam perfilman Indonesia. Jumlah filmnya meningkat dan genrenya  lebih bervariasi, seperti action, thriller, dan biopik seperti ini. Kami juga menyampaikan kepada para sineas dan penggerak perfilman dunia bahwa kualitas insan kreatif perfilman Indonesia sudah cukup teruji dan sangat terbuka untuk kolaborasi film.  
 
Opini tentang Reza Rahadian?
T: Saya sudah berkali-kali main film bareng Reza dan dengan karakter yang berbeda-beda. Bermain dengan Reza nyaman sekali. Dia menjadi penyeimbang ketika kami kurang menarik dalam sebuah frame. Sebab, film adalah kerja kolektif yang dilakukan secara bersama-sama.
B: Reza adalah aktor yang jeli memilih peran dalam film. Dia aktor yang bisa mengeksplorasi karakter secara pas, tidak berlebihan. Saya selalu nyaman bermain dengan Reza. Bisa dibilang, dia juga yang membujuk saya untuk mau bergabung di film ini.
C: Kami sudah seperti kakak adik. Dia menjadi tempat saya bertanya ketika saya tidak tahu mengenai suatu hal di lokasi syuting. Dia senior yang tidak pelit berbagi ilmu akting. (f)

DIAN PROBOWATI & DESMAN MENDROFA
 


Topic

#3Srikandi

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.