Career
Cara Berjualan Efektif dengan Storytelling di Era Digital

7 Nov 2016

Foto: Fotosearch

Dari sisi teori pemasaran, era digital justru sedikit demi sedikit ‘membunuh’ storytelling dalam bentuk narasi. Karena segala sesuatu terjadi begitu cepat di dunia maya, banyak orang akhirnya malas membaca tulisan yang terlalu panjang. Itulah kenapa sekarang storytelling dalam bentuk audiovisual lebih banyak dilakukan.  Karena, itulah yang lebih disukai masyarakat. Dan, karena masyarakat sifatnya dinamis, maka storytelling pun akan terus berevolusi dari format tunggal menjadi audiovisual, interaktif, dan lintas media.

Beragamnya iklan yang ‘menyerang’ lewat media sosial membuktikan bahwa internet telah membuka begitu banyak kesempatan bagi brand untuk memasarkan produknya. Hal ini juga berarti tantangan yang dihadapi dunia pemasaran  makin besar. Terbukanya saluran informasi dengan sangat lebar juga membuat audiensi lebih mudah membandingkan satu produk dengan produk lainnya. Banyaknya pilihan juga berarti konsumen sudah lebih terbagi ke dalam segmen sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing.
           
Kondisi itu membuat storytelling saat ini tidak mudah karena perilaku konsumen juga bermacam-macam. Tugas brand manager menjadi lebih sulit karena untuk menjual satu produk saja harus melalui 200 cara penyampaian, akibat masyarakat yang  makin terbagi-bagi ke dalam segmen yang spesifik.

Karena itulah, kita harus menyesuaikan storytelling dengan target yang akan kita ajak bicara. “Kunci marketing adalah Anda tidak bisa menjadi segalanya untuk semua orang, Anda harus menjadi sesuatu untuk seseorang. Jadi, Anda tidak bisa menggunakan satu cara untuk semua orang,” kata Ina Agustini Murwani, Deputy Head of Program MM Creative Marketing BINUS Business School. (f)


Topic

#StoryTelling

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?