
Foto: Fotosearch
Gosip paling hot di kantor saat ini adalah si bos mau cabut! Dijamin kabar ini bikin heboh seluruh kantor. Dari OB sampai rekan kerja kita bakal sibuk menebak-nebak penyebab kepergiannya. Melepas rekan kerja yang menyenangkan saja kita sulit, apalagi bila ditinggal oleh atasan yang baik dan perhatian? Well, keputusan sudah dibuat oleh bos. Mustahil, deh, kita merayunya agar berubah pikiran. Lalu, apa jadinya kantor tanpa si bos? Tenang, Feriya Yolanda (Anda), konsultan karier dari EXPERD punya jawabannya.
Tahan diri
Ingin menangis mendengar bos favorit pergi, atau malah bersyukur karena bos ‘antagonis’ hengkang? Apa pun yang kita rasakan, Anda menyarankan agar kita bersikap biasa-biasa saja hingga atasan benar-benar cabut. Lagi pula perusahaan pasti sudah memikirkan untuk mencari penggantinya, tuh.
“Untuk tim di bawahnya, jangan terlalu panik atau khawatir berlebihan ketika bos pergi atau resign. Kaget wajar, tapi jangan berpikir yang jelek-jelek dulu. Boleh-boleh saja menunjukkan rasa kehilangan kalau memang dekat,” kata Anda.
Namun nggak bisa dipungkiri bahwa kepergian bos bakal mengundang beragam spekulasi. Jika dia memang dapat pekerjaan lain yang lebih oke, kita tentu bisa memahaminya. Masalahnya, jika dilakukan secara dadakan muncul dugaan ada sesuatu yang tidak beres, nih....
Menurut Anda, kita nggak boleh berasumsi. Kalau memang penasaran, mending tanyakan sendiri untuk mengakhiri gosip nggak jelas. “Kita bisa memanfaatkan kedekatan dengan bos untuk bertanya secara langsung. Mungkin bisa sambil ngobrol saat makan siang tapi arahnya ke pekerjaan. Nggak ada ruginya, kok, kalau kita tahu alasannya.
Seandainya dia pindah karena ada masalah di perusahaan kita sekarang, bos yang baik tidak akan menyebutkannya secara gamblang. Karena untuk level managerial ada kode etik tidak tertulis bahwa dia nggak boleh memengaruhi bawahannya. “Paling hanya sebatas tanda-tanda atau nasihat yang terselubung,” tambah Anda.
Kesempatan emas
Kepergian bos sebenarnya dapat berdampak positif bagi karier kita—terutama bila posisi kita selama ini berada di bawahnya. Kita punya kesempatan, deh, untuk tampil. Harapannya, sih, syukur-syukur bisa menggantikan tempatnya.
“Memang ini jadi salah satu kesempatan bagi kemajuan karier kita. Tapi, nggak usah terlalu ngotot untuk minta direkomendasikan—meski hubungan kita dan bos sangat dekat. Lebih baik, kita selesaikan saja tugas-tugas yang sudah dia berikan. Nantinya, kan, kualifikasi atau kompetensi yang kita miliki akan dilihat oleh HRD atau atasan dari si bos itu,” ungkap Anda.
Berminat mengisi posisi yang ditinggalkan bos? Anda menyarankan agar kita mulai membenahi diri dan mempersiapkan mental. “Untuk menjadi bos bukan hanya dibutuhkan technical skill, kita juga mesti punya management skill yang oke untuk membina bawahan. Itu harus terus diasah buat persiapan mental kita.”
Dengan tidak adanya bos, kita pun dituntut untuk lebih mandiri, bertanggung jawab, dan berkomitmen. Mulai, deh, dengan membuat target kapan pekerjaan harus selesai sehingga bisa mengatur waktu jika ada tugas tambahan. Jika kita bisa menunjukkan bahwa kita siap, maka atasan bakal menilai kita mampu menduduki posisi tersebut.
Orang baru
Kita boleh berencana, tapi perusahaanlah yang punya wewenang buat menunjuk siapa yang layak menggantikan posisi mantan bos. Kalau kita akhirnya mendapat atasan baru, ya, nggak boleh menolak.
“Itu memang dilema. Kita berharap dipromosikan, tapi HRD atau atasan justru memilih pihak lain. Pastinya, sih, harus menerima karena itu kebijakan dari perusahaan. Mungkin kita dinilai belum mampu untuk melakukan hal itu.”
Nah, bila kurang puas terhadap keberadaan bos baru, Anda menyarankan agar kita segera mencari tahu bagaimana masa depan karier kita di perusahaan tersebut.
“Kalau memang kehadiran bos baru menghambat rencana karier kita, coba konsultasi lagi ke HRD. Bilang saja, ‘Saya, kok, merasa karier saya mandek. Ada bidang lain atau nggak?’ Kita, kan, juga harus memperjuangkan rencana karier pribadi.”
Jika memang masih ada kesempatan berkembang, mau nggak mau kita kudu bersabar dan terus berusaha di perusahaan sekarang. Sambil jalan, ya, tetap bekerja sama dengan pimpinan baru, dong.
“Idealnya, sih, adaptasi dengan bos baru berlangsung enam bulan hingga satu tahun. Semua pihak akan saling menyesuaikan karena pasti ada perubahan ritme. Jika bos baru management skill atau leadership-nya oke, dia akan tanya perkembangan masing-masing bawahan dan berusaha membangun timnya lagi,” kata Anda.
Jadi, jangan menyusahkan diri sendiri dengan memikirkan hal-hal negatif. Kalau malah stres, bagaimana kita bisa maju? (f)
Baca juga:
Cari Tahu Untung dan Ruginya Memiliki Bos Muda
Hanya 29% Karyawan yang Mengaku Berteman Dekat dengan Atasan
Cara Memperbaiki Komunikasi Dengan Atasan
Topic
#bos


