
Foto: Victoria Secret
Mempertanyakan keranjingan laki-laki terhadap wanita berbusana sensual seperti lingerie dan bikini sama saja seperti mempertanyakan alasan mengapa ada ratusan ribu google search untuk kata ‘Kate Upton’.
Jauh sebelum era media sosial, hiburan saya dan gang semasa SMA adalah setumpuk katalog Victoria’s Secret yang dibeli di pasar loak Portobello, London, oleh-oleh salah satu orang tua kami yang pulang berlibur dari sana. Sepertinya, ayah teman saya tahu pasti, lebih aman mengendalikan hormon ABG yang tengah menggila dengan suplai gambar-gambar model memakai pakaian dalam dan sexy lingerie, ketimbang membiarkan kami sembunyi-sembunyi nonton film porno sepulang sekolah. Model-model langsing dengan wajah sendu berpakaian ‘seadanya’ ini pun mengisi malam-malam kami, menjadi peran utama fantasi seksual kami yang ternyata terus ada berpuluh tahun kemudian.
Kalau ditanya, terlalu banyak alasan di balik ketertarikan pria terhadap lingerie. Jika diberi pilihan untuk melihat pose wanita telanjang atau berbalut lingerie, hampir semua pria akan memilih yang terakhir. Saat seorang wanita memakai lingerie,, sosok yang hadir di hadapan kita terlihat tidak hanya erotis dan sensual, tapi juga misterius dan mengundang rasa ingin tahu lebih dalam. Dari payudara sampai pinggul, dari paha sampai bokong, lekuk tubuh wanita yang menonjol dalam balutan lingerie tidak dapat kita temui ketika wanita itu memakai pakaian biasa. Wanita dalam balutan lingerie membuat penasaran pria yang melihatnya, menggoda laki-laki seolah mengajaknya untuk berfantasi.
“Rasanya seperti buah terlarang, yang boleh kita lihat berlama-lama, tapi tak boleh kita jamah,” kata Andito, sahabat SMA saya, mengenang masa-masa katalog Victoria’s Secret itu. Sekarang, di usia pertengahan 30, fantasi lingerie itu ternyata masih melekat di otak kita, dan tentu saja buah terlarang itu kini bisa kita nikmati sepuasnya. Andito ingat, seminggu sebelum ulang tahun kedua pernikahannya, ia dan istri bertengkar cukup hebat. Tak mau pertengkaran itu merusak suasana anniversary, Andito pun memutuskan membeli sebuah kado yang lain daripada yang lain: sepotong lingerie warna pastel model babydoll di sebuah butik online. Kado itu ia maksudkan sebagai bentuk upeti ‘gencatan senjata’ sekaligus hadiah ulang tahun pernikahan.
Sebuah taktik yang terbukti sangat jitu. “Best gift, ever!” kata Andito sambil terbahak. Tak disangka, lingerie itu ternyata menambah rasa percaya diri sang istri. Ia merasa Andito masih menyukai bentuk tubuhnya yang kini tak lagi langsing seperti masa gadis, apalagi ketika harus ‘turun mesin’ saat melahirkan bayi kembar mereka. “Saat itu saya sadar, kehidupan seks kami sudah menjadi sebuah rutinitas yang mulai membosankan. Dan, sepotong lingerie menjadi penyelamatnya,” tambah Andito. Lingerie dalam berbagai jenis dan model pun akhirnya menjadi oleh-oleh wajib Andito untuk istri saat dinas ke luar negeri.
Beda pria, beda pula selera mereka soal lingerie. Jika Andito menyukai model babydoll yang menonjolkan lekuk tubuh bagian atas istrinya, Wisnu, teman kantor saya, memilih membelikan istrinya negligee, sejenis gaun malam dari bahan sutra yang halus. Berbeda dengan Andito, Wisnu memilih mendiskusikan fantasi lingerie-nya terlebih dahulu dengan istri, sebelum memutuskan untuk membeli.
“Selain untuk menghindari uang saya terbuang percuma, saya juga ingin memastikan bahwa ia nyaman memakai sesuatu yang akan memamerkan sebagian besar anggota tubuhnya. Saya perlu melakukan hal ini, karena kami jarang bereksperimen dalam hubungan seks, jadi tidak ada salahnya berdiskusi secara terbuka soal ini,” kata Wisnu. Dia juga tak masalah jika sang istri emoh memakai lingerie. Dari hasil diskusi, ternyata istri Wisnu tidak keberatan memakai lingerie. Hanya, modelnya bukan yang ‘aneh-aneh’. Wisnu pun setuju-setuju saja ketika istrinya memilih model kimono sutra. Menurut Wisnu, melihat istri memakai negligee berbahan halus yang lembut saat disentuh membuat fantasinya melayang ke mana-mana. “Ada kesan elegan sekaligus sensual saat melihat istri memakai negligee,” kata Wisnu.
Pendapat Wisnu bisa jadi adalah apa yang disebut para ahli sebaga efek berlapis saat seorang wanita memakai lingerie. Saat memakai busana erotis, termasuk lingerie atau bikini, wanita akan merasa percaya diri, berkuasa, dominan, dan akhirnya atraktif. Hal ini lumrah saja, karena secara alamiah wanita akan merasa sensual ketika memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang sehari-hari tertutup. Pada akhirnya, kepercayaan diri ini akan menarik perhatian pria yang pada dasarnya mudah bertekuk lutut di hadapan seorang wanita yang percaya diri dan yakin akan sensualitasnya.
Menyibak Fantasi
Apa pun penjelasan di balik ketertarikan pria terhadap lingerie, bagi saya, lingerie bagaikan sebuah simbol keterbukaan dalam sebuah hubungan pria dan wanita. Hadiah sepotong negligee sutra kepada istri adalah cara suami mengatakan ‘your body is a wonderland’ secara tersirat. Tatkala pasangan Anda dengan malu-malu keluar dari kamar mandi dengan babydoll yang baru, dia sesungguhnya tidak hanya memenuhi permintaan Anda untuk merealisasikan sebuah fantasi seksual. Lebih dari itu, dia membuka diri, memperkenalkan sisi lain kepribadiannya yang ‘nakal’, sensual. tapi juga fun.
Ketika sebagian besar urusan ranjang berlangsung di balik selimut dan dalam gelap, sepotong lingerie membuat pasangan ‘menyalakan lampu’ diskusi seputar hubungan intim. Garmen sensual ini membuat si pria menjadi lebih terbuka mengungkapkan fantasi seksualnya yang selama ini hanya tersimpan rapi di browsing history laptop dan enggan dia bagi dengan pasangannya karena khawatir dianggap terlalu porno dan tidak masuk akal. Dan bagi wanita, memakai lingerie menjadi semacam pernyataan bahwa ia adalah sosok yang percaya diri, tak peduli apa kata orang akan penampilan fisiknya yang, mungkin saja, telah banyak berubah seiring berjalannya waktu. “Lingerie membuka mata istri saya bahwa tidak ada yang salah dengan eksperimen di tempat tidur. Dia bahkan mulai berpikir untuk memakai alat bantu seks untuk membuat kehidupan seksual kami makin berwarna,” kata Wisnu.
Sore itu, di hadapan saya, katalog Victoria’s Secret terpampang lebar. Tentunya bukan katalog yang sama berisi tubuh-tubuh sintal menggoda milik Laetitia Casta dan Claudia Schiffer yang kami kerubuti hampir 20 tahun yang lalu. Di katalog online ini, seorang model pirang terlihat begitu menggoda berdiri di pintu sebuah resor tepi laut. Sinar matahari senja yang lembut samar-samar menembus kimono sutra warna hitam dihiasi bunga-bunga putih di tepian bawahnya.
Bulan depan, istri saya berulang tahun. Untuk menunjukkan apresiasi saya atas kerja kerasnya di pusat kebugaran dan keteguhan hati berpuasa makan steak favoritnya selama tiga bulan terakhir telah membuahkan hasil, rasanya pantas jika si kimono hitam menjadi hadiah saya untuknya. Dalam hitungan menit, kimono hitam siap dikirim ke alamat saya. Mari berdoa agar hadiah ulang tahun saya untuk istri tidak sampai terjegal di imigrasi sehingga fantasi lingerie saya akan segera terwujud tidak lama lagi.
Jakobus Adhi Djatmika



