BizNews
Berkumpulnya Komunitas Slow Food Dari Seluruh Dunia di Terra Madre Salone del Gusto, Italia

10 Oct 2018

 
 
 
Suasana hall Oval Lingotto Fiere, menampilan keragaman pangan dari seluruh dunia/
Foto: Dok. Slow Food Yogyakarta

 
Perhelatan akbar Terra Madre Salone del Gusto 2018 yang berlangsung 20 hingga 24 September lalu di Kota Turin, Italia, berhasil mengumpulkan hampir 7.000 delegasi dari 160 negara, termasuk dari Indonesia. Acara diselenggarakan atas inisiasi Slow Food International. 
 
Acara yang didedikasikan untuk makanan yang baik, bersih, dan adil (Good, Clean and Fair), itu membuka mata publik akan keterkaitan makanan dan perubahan iklim. Perubahan iklim adalah masalah global, seperti yang dikatakan oleh penulis India Amitav Ghosh dalam sebuah konferensi di sini: Global warming adalah tantangan terbesar yang pernah dihadapi umat manusia. 
 

Suasana penutupan Salone del Gusto, 23 September malam. / Foto: Dok. Slow Food Yogyakarta

 
Richard McCarthy, Direktur Eksekutif Slow Food USA, menegaskan bahwa tema festival tahun ini,  Food For Change, adalah panggilan bertindak untuk para ‘slow foodies’ di seluruh dunia. Terra Madre Salone del Gusto 2018 juga mengeluarkan anjuran berupa tantangan selama seminggu, agar individu memasak hanya menggunakan bahan-bahan lokal, tanpa makan daging dengan memanfaatkan sumber protein dari kacang-kacangan atau biji, serta memanfaatkan pangan semaksimal mungkin (zero waste). Bahkan lebih baik lagi, bila dapat berkomitmen pada tiga inisiatif ini selama-lamanya, demi menyelamatkan planet.

Amaliah memenangkan program Eat Local Winner 2018 di perhelatan akbar ini. 
 
Di festival ini, semua pelaku memiliki kedudukan yang sama, dari koki rumah tangga, produsen, pemerhati makanan, hingga peneliti dari berbagai belahan dunia. Mereka diharuskan mengenyampingkan perbedaan budaya, ideologi, dan persaingan. Forum dan konferensi yang diisi oleh para ahli, pengunjung, dan delegasi diajak untuk saling menyumbangkan ide-ide cemerlang. Porsi besar diberikan kepada generasi muda dan indigenous people.
 
 Stan pisang-pisang Indonesia. / Foto: Dok. Slow Food Yogyakarta
 
Berbagai acara digelar, dari workshop, santap malam karya chef dari berbagai belahan dunia, konferensi, hingga pertemuan ilmuwan. Ada juga program berkeliling tujuan wisata terkait daerah produksi makanan terbaik di Italia, baik dengan bersepeda atau berjalan kaki.
 
Selain itu, juga ada forum dengan lima tema, yakni Slow Meat, Slow Fish, Seeds, Bees and Insects, serta Food and Health. Indonesia memberi presentasi mengenai nilai-nilai budaya dan kepercayaan Jawa yang dimiliki Tumpeng, dipaparkan oleh Amaliah, pegiat Slow Food dari Yogyakarta dan staf peneliti makanan tradisional dan keragaman pangan lokal Nusantara dari Pusat Studi Pangan & Gizi UGM. Ini kesekian kalinya ia ditunjuk oleh Slow Food pusat untuk mewakili Indonesia, berkat langkah-langkah nyatanya bergerak di lapangan. 
 
Salah satu bagian di arena Slow Meat, ajarkan keberpihakan pada animal welfare! / Foto: Dok. Slow Food Yogyakarta 
 
Delegasi Indonesia berkontribusi dalam bentuk stan, pembicara berbagai forum, sampai terlibat dalam stadium Kitchen International menyajikan Jungle Food dari Papua, oleh Charles Toto. Amaliah  membuka stan ragam pisang Indonesia yang sukses menarik perhatian dunia. Pisang di Indonesia merupakan salah satu sumber awal biogeo genetika murni pisang dunia. Budidayanya di Yogyakarta berfokus di area Ponggok Sidomulyo Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Di sana, Amaliah membina pelestarian 9 jenis pisang potensial. Kini, pemerhati pangan lokal ini tengah menulis buku yang mengupas keragaman pisang di Indonesia. (f)
  
Baca juga:
Amaliah Membawa Kearifan Tumpeng di Festival Pangan di Italia
Resep Bolu Berai Khas Sumbawa 

 

Trifitria Nuragustina


Topic

#slowfooditaly, #slowfoodindonesia, #slowfoodjakarta, #slowfoodyogyakarta

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.