<< cerita sebelumnyaOke, siap Bryan... 3... 2... 1... Action!
”Selamat datang kembali di reality show The Second Chance Show. Sampai hari ini kita sudah kehilangan sebelas peserta dan menyisakan empat peserta lain,” ucap Bryan. Kamera beralih pada Rini yang menangis tersedu-sedu, lalu beralih pada Rachel, Hani, Nia, dan Amanda yang sumringah.
Kamera dimatikan. Syuting hari ini selesai. Para peserta segera pergi ke ruang ganti. Nia mendekati Aldi. ”Maaf, ya, soal kemarin,” bisik Nia pada Aldi. Aldi hanya diam cemberut. Margi dan Toni tertawa kecil melihat mereka. Sementara Rachel, Hani, dan Amanda melihat adegan itu dengan heran.
”Ya, sudah, deh, kalau ngambek. Nanti juga capek sendiri,” ucap Nia, sambil meninggalkan Aldi yang masih cemberut. ”Aku mau ganti di kamar saja,” ucap Nia, sambil meninggalkan teman-temannya.
”Pasti dia hendak keluyuran cari perhatian lagi,” sindir Amanda.
”Kalian jangan berprasangka buruk. Dia keluar malam karena suka melihat bintang,” bela Rachel.
”Ah, kamu tidak tahu. Meskipun kita tidak boleh melihat televisi atau membaca media massa apa pun selama acara ini, aku tahu dia selalu berduaan dengan Aldi saat malam hari,” ucap Amanda, sewot.
”Jahat sekali dia. Apa kau tidak sadar, Rachel, bahwa dia ingin cari perhatian agar pemirsa jadi simpati dan memilih dia,” ucap Hani.
Rachel hanya diam. Lalu, ia kembali ke kamarnya, menemukan Nia sudah berganti pakaian yang lebih santai.
”Kau mau ke mana?” tanya Rachel, dingin.
”Aku mau keluar,” jawab Nia.
”Mencoba merayu Aldi, ya,” tuduh Rachel.
Nia memandangi Rachel dengan tatapan heran.
“Ternyata diam-diam kau mencoba curang pada kami. Setidaknya Hani dan Amanda bersaing secara fair, tidak mencuri waktu di luar syuting reguler sepertimu.”
”Rachel!”
”Sudahlah, aku sadar ini persaingan! Ini kompetisi! Tetapi, kau benar-benar pintar bersandiwara. Kupikir kau beda dari yang lain. Ternyata sama saja! Kalau kau ingin bersaing dengan kami, tunjukkan dirimu yang sebenarnya sejak awal. Kau memang pandai menipu penonton. Terlihat baik dan tanpa dosa, padahal kau tidak lebih baik dari kami!”
”Tapi... aku....”
”Sudah, diam! Mulai saat ini kita rival. Kau tidak perlu bersikap manis di hadapanku!” kata Rachel, lalu keluar kamar.
”Wah, bakal seru, nih!” ucap Toni, sambil melihat monitor. ”Mana Aldi?” tanyanya, celingukan.
”Dia sudah keluar dari tadi. Pintar, ya, kamu, membuat mereka jadi bertengkar. Memangnya kamu bilang apa pada Amanda dan Hani sampai mereka berdamai dan kompak memanasi Rachel,” sindir Margi.
Toni tersenyum. ”Aku hanya bilang kepada mereka bahwa mereka harus bersatu untuk menyingkirkan peserta yang lain.”
”Oke, Tuan Produser, kau memang berbakat jadi sutradara sekaligus penulis cerita.”
Aldi mengendap-endap dari balik semak. Dia mengintai seorang peserta yang sedang berjalan sendirian di tengah taman. Oke, mungkin ini hal terkonyol yang pernah Aldi lakukan. Tetapi, Aldi sangat kesal dan ingin membalas dendam dengan motif iseng belaka.
”Akan kubuktikan pada penonton bahwa kau sama penakutnya sepertiku,” umpat Aldi perlahan.
Diikutinya sosok ramping itu. Lalu, Aldi melemparkan sebuah batu ke arah kegelapan hingga menimbulkan suara yang mengagetkan.
Dug! Peserta itu terdiam dan melihat sekeliling. Aldi langsung bersembunyi di balik pohon. Setelah memastikan keadaan baik-baik saja, peserta itu kembali berjalan. Lagi-lagi Aldi membuat ulah melemparkan kerikil, membuat peserta itu merinding.
Krek! Tanpa sengaja Aldi menginjak sebuah ranting. Peserta itu amat terkejut dan berlari sambil berteriak, ”Tolong!”
Aldi tertawa terbahak-bahak. Kena kau!
Brug! Peserta itu jatuh tersandung!
”Hah! Nia!” kejar Aldi, segera menghampiri. ”Kau tidak apa-apa?”
Peserta itu menyibakkan rambutnya dan meringis memegang kakinya yang sakit.
”Rachel?”
Rachel meringis kesakitan.
Sebuah ketukan terdengar. Nia segera bangkit dari ranjang, lalu bergegas membuka pintu. Dilihatnya hal yang tidak pernah diduganya. Aldi menggendong Rachel yang bergelanjut manja.
”Nia, di mana ranjangnya?” tanya Aldi.
”Di sini,” jawab Nia menunjukkan ranjang yang tertata rapi.
Aldi menurunkan Rachel perlahan. ”Sebentar lagi ada kru yang akan mengobatimu,” ucap Aldi.
”Aduh... kakiku sakit,” rintih Rachel.
”Maaf, ya... tadi aku tidak sengaja,” kata Aldi, menyesal.
”Tidak apa-apa. Tidak terlalu sakit, kok. Paling-paling keseleo.”
”Oke, aku tinggal pergi, ya. Nia, tolong jaga Rachel, ya,” ucap Aldi, sambil meninggalkan mereka.
Nia memandang Rachel dengan pandangan tidak suka. Rachel tersenyum tipis penuh kemenangan.
Tak lama, beberapa kru masuk ke ka¬mar membawa perlengkapan medis.
Rachel kembali merintih.
Nia diam saja, lalu kem¬bali tidur.
”Inilah saat yang mendebarkan. The Second Chance Show akan menyisakan dua pemenang yang akan mendapatkan kalung mutiara ini,” ucap Bryan. Aldi berdiri di sampingnya dengan tegang. Empat peserta yang berdiri di sisi lain memasang wajah yang lebih tegang.
”Rachel,” panggil Bryan. ”Kau pantas mendapatkan kalung ini.”
”Yes,” ucap Rachel, lalu menghampiri Aldi. Aldi memasangkan kalung mutiara di leher jenjang Rachel. Lalu, Rachel mencium Aldi. Hani dan Amanda hanya mencibir, sementara Nia menatap tajam.
”Berikutnya...,” kalimat Bryan terhenti beberapa saat. ”Rahmania... kau lolos ke episode selanjutnya.”
Nia tersenyum dan mendekati Aldi.
”Apa-apan ini?” Tiba-tiba Amanda berteriak lantang. ”Acara macam apa ini!” Lalu, ia menghampiri Toni yang berada di antara kru. ”Kau bilang aku dan Hani pasti bisa mengalahkan mereka, kalau kami akur!” bentak Amanda.
”Amanda, ini siaran langsung,” ucap Toni perlahan sedikit berusaha menenangkan.
”Masa bodoh! Kau membodohi kami! Kau menggunakan aku dan Hani untuk membuat konflik antara Rachel dan Nia! Kau sudah mengaturnya!”
”Hanya yang memiliki polling tertinggi yang bertahan,” bela Toni.
Suasana jadi makin tegang.
”Aku punya otak. Dari awal aku tahu kualitas yang dimiliki Astrid sangat tinggi dan semua orang suka dia! Dia pasti memiliki nilai polling tinggi! Tetapi, kenapa dia terusir di awal?” tanya Amanda.
”Amanda....”
”Kau bilang, kalau aku dan Hani bersatu, mereka akan tersingkir! Kau bohong!” umpat Amanda. Hani mengangguk setuju.
Toni mendekati Amanda, berbisik pelan, ”Konflik mereka lebih menjual daripada konflikmu dan Hani yang tidak bermutu.”
Amanda menampar Toni dengan kesal.
Semua yang ada di situ terkejut.
”Ayo, kita pergi dari acara bodoh ini!” ajaknya pada Hani yang tergopoh-gopoh mengikutinya.
Toni duduk di sofa sambil menyeka pipinya yang memar. Amanda sepertinya menggunakan kekuatan penuh untuk menamparnya. Wanita jika sedang marah benar-benar bisa lebih menakutkan daripada setan.
”Ton, ada telepon dari Pak Direktur. Katanya, rating acara kita naik gara-gara adegan pertengkaranmu dengan Amanda,” ucap Ismi.
”Memangnya enak jadi tokoh dalam acara ini? Sekarang kau baru sadar, ’kan? Menjadi artis itu tidak mudah. Aku selama ini menjadi bulan-bulanan khayalanmu itu demi rating yang tinggi. Sekarang kau rasakan akibatnya!” kata Aldi, mengoloknya.
Apa yang dikatakan Aldi benar juga. Tapi, Toni tak habis pikir, dia kan hanya menjalankan tugas. ”Terserah apa katamu. Mulai sekarang, acara ini berjalan sebagaimana mestinya, tanpa intrik dari pihakku.”
”Menyerah juga kau!” ejek Aldi, makin menjadi.
Penulis: Yenny Renati
Pemenang Penghargaan Sayembara Menulis Cerber femina 2008


