Fiction
Roti Buaya [7]

30 Jun 2011

<< cerita sebelumnya

“Laki-laki, kok, main boneka?” ejeknya, sambil memain-mainkan boneka itu seperti wayang golek.

Aku terkesiap, spontan kurebut boneka itu. Satria menguatkan cengkeramannya. Beberapa saat terjadi adegan tarik-menarik memperebutkan boneka itu. Kulonggarkan genggamanku, aku takut boneka itu rusak atau bajunya sobek. Namun, keadaan ini dimanfaatkan Satria. Secepat roket ia merenggut boneka itu dari peganganku, dan berhasil! Boneka itu lepas dari peganganku.

Takkan kubiarkan ia berlalu begitu saja, kutarik ransel Satria. Ia menoleh, pandangannya melecehkan. Kubalas tatapannya dengan kegeraman yang membuncah. Tali ransel itu kutarik sekuat tenaga. Ada benda yang jatuh. Sebungkus rokok! Satria merasa tertangkap basah.

Beberapa anak mulai datang merubung. Membuat Satria makin bersemangat mengejekku. “Betul kan apa kataku, kamu memang bukan laki-laki. Belum disunat, hobinya main boneka!”

Anak-anak yang merubung kami mulai bersuit-suit. Belum sempat Satria meneruskan ejekannya, sudah kutendang kakinya. Tubuhnya limbung sesaat, tapi mulutnya masih juga kesat.

“Jangan suka sok jagoan! Pergilah ke ibumu, ganti bajumu dengan rok!” teriak Satria yang langsung disoraki.

“Kembalikan boneka itu, aku membelinya buat adikku!”

“Nih! Ambil saja kalau kau bisa!” Satria mengulurkan boneka itu.

Aku tahu, takkan semudah itu ia menyerahkannya padaku. Pasti sebuah siasat tengah dipersiapkannya. Tanpa pikir panjang lagi, kutubruk perutnya. Kami jatuh.

“Memangnya kamu bisa berkelahi, hei, anak bawang!”

“Tentu saja aku tak perlu matian-matian seperti kamu, membuktikan diri bahwa kamu pria sejati dengan
merokok!” sindirku.

“Yang banci itu kamu Dito, bukan aku!”

“Nama kamu saja Satria, tapi kamu pengecut! Mana ada kesatria yang melawan anak kecil, apalagi merampok boneka!”

Satria menyarangkan sebuah pukulan yang nyaris mengenai bahuku. Merasa tak berhasil, dia memukulkan boneka Barbie itu ke arah wajahku. Aku berkelit cepat, sambil berusaha merampasnya dari cengkeraman Satria. Tiba-tiba ia melemparkan boneka Barbie itu ke arah parit depan pagar sekolahku. Aku segera bangkit memburunya. Tapi sayang, boneka itu mendarat di dasar parit berlumpur. Bentuknya sudah tidak keruan, bau dan basah. Kuambil boneka itu, lalu kulemparkan ke arah Satria. Dia marah bukan main, aku pun meradang.
Kami berdiri berhadap-hadapan, tak seorang pun dari anak-anak itu berusaha memisahkan perkelahian kami karena enggan kehilangan sebuah tontonan gratis. Tapi, tiba-tiba keinginan mereka itu dihapuskan oleh bentakan yang cukup keras. Seorang guru menyudahi pertikaian kami. Aku dan Satria dipaksa bersalaman, walau hati masih menyemaikan rasa geram.  Penonton bubar.

Aku berutang dua ribu rupiah pada penjual boneka Barbie itu. Setelah kenyang dinasihati guru yang melerai perkelahianku dengan Satria, kubeli satu boneka lagi. Sisa uangku sepuluh ribu lima ratus rupiah, yang seribu lima ratus kubelikan semangkuk mi tanpa bakso. Kuurungkan pula niatku menabung. Biar sajalah, yang penting Dita mendapatkan boneka idamannya.

Dita menatap boneka Barbie itu dengan mata berbinar-binar. Aku tersenyum pahit, bau parit masih melekat di bajuku. Tapi, Dita tak segan memelukku dan mengucapkan terima kasih. Ibu tak banyak bicara melihat penampilanku yang kusut masai. Sobek kecil di bagian lengan atas dan percikan noda di seragamku, cukup memberi gambaran apa yang sudah aku lakukan.

Hatiku tak serta-merta menjadi tenteram melihat reaksi Ibu yang terlampau tenang. Kupikir bukan karena aku membawakan boneka Barbie untuk adikku hingga ia merasa terhibur dan enggan memarahiku, tapi mungkin Ibu sedang kecapaian sepulang bekerja dan tak ingin ambil pusing. Paling dia akan bercerita sedikit tentang kejadian hari ini kepada Abah nanti malam, dan inilah hal yang kutakutkan!  

Dugaanku benar. Malam harinya Abah memanggilku. Kuceritakan semua kejadian tadi siang apa adanya. Abah menghirup kopinya dalam-dalam. Tak sepatah kata pun ia berucap dan ini merupakan siksaan bagiku. Sambil mengurai ketegangan, kucoba mengingat adegan iklan produk margarin yang menampilkan kebijakan seorang ibu saat menghadapi anak laki-lakinya berkelahi karena membela adik perempuannya. “Berkelahi memang bukan hal yang baik, tapi membela adik yang diganggu temanmu itu hal terpuji,” katanya.

Abah bukan sosok ibu-ibu dalam iklan itu, yang bisa bicara manis melihat anaknya babak belur. Bagi Abah, berkelahi harus jelas alasannya, bukan asal baku hantam. “Abah pernah jadi anak laki-laki sepertimu, dan Abah juga pernah berkelahi, tapi bukan semata-mata karena emosi. Ada yang Abah bela, ada yang Abah pertahankan.”

Tempo hari, Abah nyaris memukuli diriku gara-gara aku nekat jadi polisi cepek dekat lintasan kereta api, dua blok dari tempat Abah bekerja. Abah marah besar, karena aku telah melakukan kesalahan fatal dan memalukan. Dia seorang penjaga pintu lintasan kereta yang berusaha menaati peraturan demi keselamatan masyarakat. Sementara itu aku, anaknya, memanfaatkan kepadatan lalu lintas di sekitar lintasan kereta api untuk menangguk beberapa keping uang logam.

Kejadian itu membuatku kapok dan memaksaku belajar bertanya kepada Abah tentang segala hal penting yang akan kulakukan.

Kopi Abah tinggal sedikit lagi. Aku masih duduk tepekur di hadapannya. Abah menatap tajam padaku. Aku menunduk, merasa bersalah. Lalu dia bersuara pelan.

“Abah tidak marah atas kelakuanmu hari ini, kamu memang anak laki-laki Abah. Kamu sudah membuktikan bahwa kadang-kadang kita harus bertahan dan berani melawan orang-orang yang mencoba menganiaya kita. Selama kita tidak mencuri atau merugikan orang lain, kamu harus berani menunjukkan bahwa kita pun mampu melakukan hal-hal yang terhormat, meski apa yang kita lakukan dinilai hina bagi sebagian orang….”

Aku tahu, aku memang anak laki-laki Abah. Tapi, ucapan Abah pada malam itu memberikan makna lain yang lebih dalam. Kebanggaan seorang ayah yang membuatku merasa jadi pria sejati. Aku tak harus berlaku seperti Satria, bersikeras membuktikan bahwa ia seorang laki-laki dengan berbagai cara. Rokok itu salah satu buktinya. Pergaulan Satria dengan teman-teman SMP-nya membuat ia ingin diakui sebagai anggota dari kelompok barunya itu. Bukan laki-laki kalau tidak merokok.

Satu hal yang masih bisa kumengerti adalah kata-kata Satria tentang eksistensi pria melalui prosesi khitanan. Barangkali Satria benar, karena saat dikhitan seorang anak laki-laki harus membuktikan keberaniannya menghadapi rasa sakit serta menaklukkan segenap ketakutannya. Aku mencoba memahami alasan lain yang berhubungan dengan alasan religi ataupun alasan kesehatan. Tapi, ada alasan yang lebih dominan dalam kenaifan kanak-kanakku. Mungkin semacam embrio dari alasan prestise yang diidolakan orang-orang dewasa. Roti buaya, kenduri, gotong singa, setumpuk uang panyecep, adalah simbol kebutuhan akan sebuah pengakuan eksistensi seorang anak laki-laki yang lambat laun berproses menjadi lelaki sejati.

Aku tak perlu merasa minder dengan atribut-atribut simbol yang dicanangkan Satria, yang latar belakang keluarganya serba berkecukupan. Tak ada kepuasan yang memuncak saat berhasil mencapai sesuatu yang diidamkan. Pria sejati adalah pejuang yang tangguh. Justru itulah, seharusnya aku berbangga hati karena sebagai anak laki-laki aku bekerja keras untuk mewujudkan semua mimpiku. Aku tidak sendiri, teman-temanku juga melakukan hal yang sama, meski tujuannya berbeda. Tujuan boleh beda, yang penting tidak berbuat dosa atau mencuri mangga tetangga!


Penulis: Katherina
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber femina 2009


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?