Derit pintu terbuka. Gadis itu melemparkan ranselnya ke sofa. Tiga ekor ikan berkejaran dalam sebuah akuarium kecil berbentuk bulat. Dia menahan langkah sejenak, lalu jemarinya sibuk menjentik-jentikkan permukaan air.Televisi dinyalakan. Siaran berita. Gadis itu berjalan ke arah bar kecil. Televisi menyiarkan demo para wanita yang memprotes maraknya sexual harassment dan pornoaksi. Terdengar suara ledakan-ledakan kecil. Tiga buah popcorn melesat terbang ke arah televisi.
Gadis bernama Lika itu duduk di depan televisi. Sambil tetap mengunyah popcorn, tak sedikit pun ia melepas pandang. Telepon berdering, setengah kesal ia menyambar gagang telepon, lalu terlibat sebuah pembicaraan serius.
Wajah para demonstran tampak makin garang, berteriak-teriak sambil mengepalkan tinju. Spanduk berbagai ukuran diacung-acungkan, menciptakan gelombang ketidakpuasan yang kian memekat. Lika terus mengunyah popcorn. Kakinya naik ke atas meja, sebuah buku jatuh tersenggol, dibiarkan begitu saja.
Di ruang redaksi majalah Srikandi, televisi menyala tanpa penonton. Tiga wartawan asyik di depan komputer masing-masing. Lika datang tergesa, menghampiri meja yang berantakan dipenuhi buku dan kliping berita koran tentang wanita. Ada yang ketinggalan.
Sekilas ia menyimak tayangan berita tentang pelecehan seksual yang dialami seorang pengasuh bayi. Lalu, ia menghampiri Edo yang berjarak tiga meja di sebelahnya. Telapak tangan Lika digo¬yang-goyangkan di depan wajah pria itu, Edo tetap mengetik. Sewaktu ia beranjak dari situ, Edo sempat berpaling dan memberikan ciuman jauh. Televisi tetap menyala tanpa suara.
“Pitaloka adalah simbol perjuangan seorang wanita yang berjuang keras mempertahankan kehormatan diri dan negaranya,” ujar Sulaeman. Lika dan empat orang wanita yang ada di ruangan itu tampak serius. Indrajit dengan sepuluh orang lainnya juga tak jauh beda.
“Dua bulan lagi kita akan mementaskan Pitaloka. Saya berharap teman-teman bisa membantu Lika untuk menghidupkan karakter Pitaloka. Karena, tokoh inilah yang menjadi jiwa pementasan drama kita kali ini,” kata Sulaeman, sambil menyeruput kopinya.
“Kisah Pitaloka tak sesederhana yang kita dengar selama ini. Dimulai dari Prabu Hayam Wuruk. Ia kasmaran pada wanita cantik yang dilukis Sungging Prabangkara. Lalu, kontroversi peran Patih Gajah Mada yang dianggap mengubah skenario pernikahan agung mereka. Pitaloka akan dijadikan upeti, yang bisa diartikan sebagai tanda takluknya Kerajaan Sunda pada kebesaran Majapahit.” Sulaeman diam sesaat. “Klimaks kisah sejarah ini adalah terjadinya Perang Bubat. Namun, semua ini belum memberi informasi seutuhnya tentang siapa Pitaloka.”
Lika dan teman-temannya menyimak uraian sang sutradara. Ada yang manggut-manggut atau melirik ke arah Lika yang duduk di samping Indrajit. Ada juga yang asyik berkirim SMS. Di paling sudut ada yang menyendiri sambil menggaruk-garuk telinganya.
Usai diskusi, semua pulang, kecuali Lika dan Sulaeman.
“Tema Pitaloka yang kita pilih sangat relevan dengan banyaknya kejadian menyedihkan yang menimpa para wanita di negeri ini. Mulai dari poligami hingga pelecehan seksual. Dari fisik hingga pikiran, wanita kita masih terjajah dan dieksploitasi,” jelas Sulaeman.
Percakapan hangat yang cukup alot berlangsung di antara mereka. Kisah Pitaloka memang fenomenal untuk sebuah perlawanan wanita terhadap hegemoni kekuasaan yang masih berada di tangan kaum pria.
Senja menciptakan warna lembayung. Burung-burung gereja beterbangan pulang ke dalam kerimbunan pucuk-pucuk pohon palem raja. Mereka berkerumun. Suara cicit anak-anaknya meriapkan kehangatan.
Lika selonjoran di sofa. Terdengar ledakan-ledakan kecil dari arah dapur. Mulanya ia tenang saja, sampai tiba-tiba ledakan itu makin banyak dan suaranya makin keras ditingkahi gedombrangan tutup panci jatuh. Kaget, ia beranjak lalu bergegas membereskan benda-benda itu. Telepon berdering.
“Halo.”
“Hai, Sobat, nggak ke mana-mana kan malam ini?”
“Hmm… justru ada wawancara, nih. Satu jam lagi.”
”Aku kalah cepat! Tadinya aku mau mengajakmu makan malam.”
“Lain kali saja, ya.”
“Beneran, nih, janji, ya....”
“May be yes, may be not!”
Indrajit tertawa keras. Lika segera menyudahi percakapan tak ber¬mutu itu.
“Dewi Aristia,” sambut wanita berbaju biru yang langsung menyilakan duduk. Wanita bermata tajam ini adalah ketua Solidaritas Perempuan Indonesia. Sarjana teknik mesin yang lebih suka jadi aktivis memperjuangkan hak-hak wanita.
“Dyah Andini Mandalika, panggil saja Lika,” balasnya, seraya tersenyum.
“Bisa kita mulai sekarang?” ujar wanita itu, membuka percakapan. Lika menyiapkan sebuah notes kecil.
“Banyak kasus pelecehan seksual yang luput dari perhatian kita. Atau, tepatnya, masyarakat masih belum mengenal jenis-jenis pelecehan seksual, mulai yang paling ringan hingga yang terberat,” ujar Dewi, langsung ke pokok pembicaraan.
“Sampai sejauh mana sistem hukum di negeri kita melindungi kaum wanita terhadap pelecehan seksual?”
“Kesadaran korban terhadap jenis pelecehan yang mereka alami cukup berperan. Bagaimana kasus itu terungkap dan dapat diproses secara hukum kalau sang korban bungkam? Di Barat, menyiuli wanita sudah cukup dijadikan alasan untuk menyeret seseorang ke pengadilan. Kesadaran membela diri cukup tinggi sehingga para pelaku takut pada sanksi hukum yang bisa menjeratnya.”
“Apakah hukuman bagi seseorang yang terbukti melakukan pelecehan di negeri kita lebih ringan daripada di Barat?”
“Berat atau ringannya itu relatif. Di sini termasuk delik aduan. Banyak orang yang lolos dari jerat hukum, karena korban pelecehan umumnya enggan memperkarakan masalahnya ke pengadilan. Alasannya, malu atau takut menghadapi sorotan masyarakat.“
“Apa akibatnya kalau korban enggan melaporkan perkara mereka?”
Kata Dewi, korban pelecehan seksual, terutama korban pemerkosaan yang tidak melaporkan kasusnya, membuat fenomena ini menjadi gunung es di dasar laut. Yang tampak di permukaan kelihatan kecil, tapi di dalam sangat besar. Lika mengajukan beberapa pertanyaan lagi, yang selalu dijawab Dewi dengan lugas dan tangkas.
Lika bergegas, ia harus menyerahkan hasil wawancaranya ke redaktur. Apalagi, mau dijadikan laporan utama. Huh....
Mobil Lika melaju perlahan, membelah malam. Dari balik kaca tampak lampu-lampu berkelip. Orang tampak berkerumun menunggu angkot. Di dekat billboard besar, beberapa wanita berpakaian seronok asyik mengobrol.
Lampu lalu lintas sedang merah. Tanpa sengaja Lika mengamati sebuah kejadian di kiri jalan. Sebuah mobil sedan menghampiri seorang wanita bertubuh langsing semampai. Pria yang berada dalam mobil bercakap-cakap sebentar dengannya. Lalu, dalam beberapa kejap ia sudah naik ke mobil, mereka pun berlalu menembus malam hitam yang makin pekat.
Suara Sulaeman mengiang.
“Betapa rendahnya sebagian wanita menghargai dirinya, demi lembaran uang kertas dan gaya hidup yang menjadi impiannya. Kaum pria memperlakukan tubuh mereka bagai segumpal daging yang lezat, mereka pun menikmati perlakuan itu sebagai rutinitas belaka. Tak ada cinta, tak ada kesetiaan, tak ada keluhuran kasih sayang. Yang ada hanya penjual dan pembeli. Kenikmatan semu berlumur seribu kepalsuan! Kita harus belajar dari Pitaloka yang rela mati demi harga diri!
Lika mempercepat laju mobilnya, pendaran lampu kendaraan menyeruak malam.
Lampu sorot besar dimatikan, tinggal cahaya obor menyala bergoyang-goyang dipermainkan angin. Sulaeman bertepuk tangan memanggil para pemain.
Penulis: Kathrin


