<< cerita sebelumnya”Jangan salah mengartikannya, itu sama sekali bukan pengkhianatan, melainkan lebih sebagai sebuah upaya untuk melindungi dan menjaga perasaanmu.”
”Aku tidak paham.”
”Lihatlah dirimu. Kau seorang anak dengan rasa kehilangan yang dalam terhadap figur ibu. Waktu tidak memudarkan ingatanmu, namun justru makin menguatkan kenangan bundamu dalam ingatanmu. Sedemikian kuat kenangan itu sehingga kau senantiasa masih melibatkan keberadaannya dalam kehidupan kalian.”
Aku tidak membantah. Memang begitulah adanya. Kenanganku tentang Bunda tidak serupa foto yang makin memudar melawan masa, atau seperti besi yang berkarat melawan alam, atau tanah longsor yang tergerus arus air. Justru makin menguat ingatan itu, serupa pohon yang mencengkeram tanah bumi dengan akarnya.
”Ayahmu pasti tahu bahwa kau akan menolak kehadiran wanita lain. Kau tak ingin posisi Bunda tergeser, juga posisimu dalam diri ayahmu. Wanita itu akan lebih menjadi sosok asing yang mengganggu bagimu. Sementara pada sisi yang lain, ayahmu menginginkannya.”
”Jadi begitulah, ayahmu kurasa lebih memilih melakukan dusta putih. Dusta yang kadangkala perlu dilakukan demi menjaga perasaan satu sama lain, supaya segala sesuatu tetap berjalan seperti biasa, tanpa memicu gejolak. Falsafah Jawa mengatakan, momong siji lan sijine. Begitulah ayahmu memilih dusta itu, demi menjaga perasaanmu. Demikianlah penafsiranku. Jadi bagiku, itu sama sekali bukan pengkhianatan.”
Aku tercenung.
Benar bahwa aku tidak bisa menerima kehadiran wanita lain itu, bagi ayahku juga bagiku.
Itu berarti aku juga tidak menghendaki kenangan tentangnya, sekecil apa pun kenangan itu, apalagi bila itu berupa seorang anak sebagai generasi penerus. Meski separuh di dalam diri anak itu mengalir darah ayahku. Kuyakini dan kupastikan, aku tak menghendaki Tenggara. Dan kuambil keputusan itu.
”Carilah informasi tentang panti asuhan untuk anak laki-laki,” kataku pada Woro, di kantor.
”Panti asuhan, dengan fasilitas yang memadai, lebih bagus bila sekaligus memiliki sekolah atau asrama untuk murid-muridnya. Tentang biaya, sama sekali tidak masalah.”
”Untuk siapa?” matanya bertanya.
”Berikan informasi selengkapnya. ASAP,” kataku, mengabaikan pertanyaannya dan mengisyaratkan untuk segera menyingkir dari ruang kerjaku.
Ternyata, tidak mudah mendapatkan sebuah panti asuhan sekaligus lembaga pendidikan seperti yang kuinginkan. Mendatangi beberapa di antaranya, tapi tak satu pun membuatku terkesan dan yakin untuk menempatkan Tenggara di sana.
Sebenarnya, bisa saja aku tidak perlu terlalu mempertimbangkan banyak hal. Toh, sesungguhnya aku tidak mengenal Tenggara, bahwa ternyata dia ’ada’. Bukankah aku dikondisikan untuk tidak mengetahui keberadaannya? Jadi, sesungguhnya aku bisa mengabaikannya.
Tapi, jauh di dalam hati kecilku, tak mampu kupungkiri bahwa sebagian diri ayahku ada di dalam dirinya. Dan aku tidak mampu mengabaikan Ayah. Maka, kutabahkan diriku untuk menjaganya beberapa waktu, sebelum menemukan panti asuhan terbaik itu.
”Mengapa aku tidak pergi ke sekolah? Apakah sekolahku masih libur?” tanya Tenggara pada suatu pagi.
Aku berpikir sesaat, mereka-reka jawaban yang selayaknya kuberikan padanya
”Belum kutemukan sekolah yang baik untukmu,” jawabku.
”Tapi, mereka berangkat ke sekolah,” katanya, sembari menunjuk serombongan anak berseragam merah putih, yang kebetulan melintas di depan rumah. ”Sekolah mereka tidak mau menerimaku?”
Aku menghela napas. Bagaimana mengatakan kepadanya bahwa sekolah yang diperlukannya bukanlah sekolah biasa yang ada di dekat rumah, sekolah ke mana anak-anak itu menuju? Bahwa yang diperlukannya bukan sekolah biasa semacam itu, melainkan sebuah sekolah berasrama tempat dia akan tinggal. Bahwa tidak selamanya dia akan tinggal bersamaku?
”Antarlah aku ke sekolah itu, akan kukatakan kepada ibu guru bahwa aku bukan anak yang nakal,” pinta Tenggara. Ia berusaha meyakinkan sembari menarik ujung bajuku.
Baju kerjaku telah tersetrika rapi, ditarik semacam itu bisa membuat baju itu kusut. Maka, dengan segera kutepis tangan kecil itu.
”Sabarlah, tunggu beberapa hari lagi,” kataku, pendek.
Bola mata bulat itu meredup, menampakkan harapan yang pupus.
”Anggap saja ini masa liburan, bukankah lebih menyenangkan? Kau bisa bermain sepuasmu sepanjang hari tanpa harus belajar.”
”Tetapi tidak ada teman, bosan bermain sendirian.”
”Bukannya Dayu selalu menemanimu?” sergahku, menyebut pembantuku yang kualihfungsikan menjadi pengasuhnya.
”Mbak Dayu tidak gesit, selalu kalah adu lari, sembunyi dalam petak umpet pun tak pandai, selalu mudah menemukannya.”
”Mungkin yang dilakukannya itu untuk membuatmu senang, daripada kau menangis karena kalah.”
”Aku tidak seperti itu,” bantah Tenggara, menatapku lurus. ”Kata Ayah, menangis tidak baik untuk anak laki-laki sepertiku. Lututku terantuk batu pun aku tidak menangis.”
Anak yang baik, gumamku diam. Anak yang mengingat petuah ayahnya. Ataukah karena dimilikinya Ayah yang baik, yang selalu memiliki cara yang sedemikian rupa sehingga setiap petuahnya senantiasa tersimpan di kedalaman benak anak-anaknya?
Tergenang Kesendirian
Sore itu aku baru saja pulang dari kantor ketika Dayu tergopoh menghampiriku. Gerak tubuhnya tampak sangat tergesa berpadu kegugupan.
”Ada apa?” tanyaku, menatap heran.
”Saya pamit, Bu, harus pulang ke desa sore ini juga!” serunya, cemas. ”Bapak saya jatuh dari atap rumah waktu membetulkan genteng bocor.”
”Sudah dibawa ke rumah sakit?” tanyaku, terbawa rasa cemas.
”Sudah, sekarang opname di rumah sakit kabupaten, saya harus pulang, satu minggu saja, minggu depan saya pasti kembali.”
Aku menghela napas. Aku berpikir tentang sebuah rentang waktu berjarak satu minggu. Sesungguhnya bukan sebuah masalah besar untukku. Aku bukan seseorang yang memiliki kadar ketergantungan tinggi pada orang lain. Namun, kini aku tidak sendirian. Ada Tenggara, seorang anak yang memerlukan pengasuhan tersendiri.
Kutatap Dayu yang cemas menunggu jawabanku.
”Bisa, ya, Bu?”
Aku masih berpikir. Tidak manusiawi bila tidak kuberikan izin itu. Selama menjadi pembantu kami selama lima tahun ini, Dayu telah menjalankan tugasnya dengan baik. Seseorang yang bisa dipercaya merawat rumah dan membantu kami dalam banyak hal. Bukan pula tipe seseorang yang sering meleng dari tugas. Dia hanya mengambil hak cutinya 3 kali dalam setahun. Sekarang, ketika orang tuanya mengalami musibah, sangat mustahil bila kuhalangi kepulang¬annya. Di sisi lain, tak terelakkan, absen 7 harinya Dayu akan menghadapkanku pada suatu masalah besar. Mengasuh Tenggara!
”Ibu, maaf, saya harus pamit sekarang, sudah ditunggu paman,” kata Dayu, memohon dengan sangat. Mengisyaratkan bahwa tidak bisa terlalu lama menunggu persetujuanku.
Aku masih berpikir, tetapi Dayu telah menyudahi batas waktu yang tersedia. Aku tak berdaya untuk menolaknya.
”Baiklah,” aku mengangguk lemah. Kuambil sejumlah uang dari dalam tas.
”Untuk biaya rumah sakit, cari obat terbaik supaya bapakmu cepat sembuh.”
Dayu menerima pemberianku dengan hati-hati dan menyimpannya sungguh-sungguh.
Penulis: Sanie B. Kuncoro


