Fiction
Berapa Babi Maskawin, Ko? [1]

6 Jul 2011

Kalau saja Tari tahu akan seperti itu, ia tak hendak ke sana. Tetapi, Tari, seperti sebagian besar orang, tak tahu apa pun tentang masa depan. Meski yang disebut ’masa depan’ menyangkut dimensi waktu yang hanya sedetik kemudian. Karenanya, ’si buta’ ini ke sana. Dan, dunia yang lain pun terbuka lebar baginya.

Tari berhenti di persimpangan jalan. Di atas bukit. Sesuai petunjuk, ia harus belok ke kanan, terus turun… susuri saja jalan ini sampai ke kota. Kemudian tanyalah kepada siapa saja di kota letak Pasar Ampera. Semua orang kenal pasar itu. Itu pesan Nonce sebelum berangkat ke kantor tadi pagi.

Tari mengabaikan pesan itu. Bukan karena ia membandel, melainkan pemandangan di bawah sana langsung memenjarakan hatinya. Bayangkan, sepotong tanjung itu terhampar panjang dengan warna hijau lembut di luarnya. Persis seperti lidah naga yang tengah terjulur keluar. Di sisi dalam tanjung, tampak pemandangan yang sama sekali tidak asyik di mata Tari: deretan rumah penduduk berimpitan, kumuh, miskin, kotor. Persis seperti permukiman kumuh di wilayah Batam. Tetapi, di sisi luarnya? Wow...!

Sore itu sisa sinar mentari menyisir sedikit wilayah perbukitan. Sinarnya yang berwarna jingga keperakan menimpa pantai terluar dari tanjung itu, membentuk warna jingga, biru, putih nan lembut, persis seperti adonan lembut kue bolu. Sementara pelukan lautan teduh nan luas di bagian luarnya membuat wilayah itu menjadi seperti sepotong nirwana. Dari atas bukit, Tari merasa seperti sesosok malaikat. Atau, seperti dewi kayangan yang tengah meninjau alam raya.

Berketetapan hati, Tari membelokkan sepeda motornya ke kiri, menyusuri jalan menurun, jalan yang belum pernah ditapakinya, menuju ke wilayah yang belum pernah dikenalnya pula. Pertimbangannya hanya satu, seperti dikatakan Nonce, setelah pesawatnya mendarat lusa lalu, “Jayapura itu kota kecil, Tar. Katong (kami) hanya punya jalan ini saja. Jalan satu-satunya. Jadi, jangan pernah takut kesasar di sini.”

“Ke pantai itu dulu. Kayaknya asyik,” gumam Tari, ketika sepeda motornya meluncur pelan menyusuri wilayah antah berantah itu. “Pasar Ampera bisa menunggu.”

Pantai itu sepi. Teramat sepi. Hanya ada pohon-pohon kelapa, deretan pandan hutan, juluran ranting putri malu di dahan ketapang, hamparan pasir putih, dan laut biru. Selain dirinya dan beberapa kepiting yang semburat berlarian ketika ia datang, tak ada siapa-siapa lagi di sana.

Tari memarkir sepeda motornya di tempat yang aman, melepas sandalnya, dan berjalan perlahan menuju pantai. Pasir hangat dan lembut terjejak, ketika ia melangkah. Rasanya enak. Nyaman. Bau laut terhirup hidungnya. Ia menarik napas kuat-kuat, sekuat paru-parunya bisa menyerap. Segar. Belum pernah ia merasai bau udara yang sedemikian segar dan murni seperti ini. Juga saat ia di Batam tempo hari.

Sesaat kemudian ia menemukan tempat yang ditujunya. Di bawah rerimbunan daun kelapa Tari berhenti. Inilah dia. Tempat ideal itu. Digalinya pasir hangat itu membentuk gundukan di satu sisi. Setelah jadi, dicobanya duduk di atasnya. Lembut juga. Memang tidak selembut matras meditasinya. Tetapi, gundukan pasir pantai itu mengandung kelembutan dari jenis yang lain.

Sementara ia melipat kakinya dan meletakkan kedua tangan di pangkuan, dipandangnya samudra tak terbatas di kejauhan. Inilah penggal terkecil Samudra Pasifik yang menembus terus sampai ke Kepulauan Fiji dan wilayah Hawai jauh di balik cakrawala. Pelan tetapi pasti, keteduhan dan kedamaian merasuki jiwanya. Dengan sama pelannya, ditutupnya matanya. Tetapi, tunggu dulu, objeknya apa? Selama ini ia menggunakan objek meditasi tergantung situasi dan kebutuhan. Bisa napas, bisa mantra cinta kasih, bisa kembang-kempisnya sekat diafragma.

Lantas, yang mana? Dibukanya lagi matanya. Embusan angin mengelus pipinya, dingin, lembut. Pelan tetapi pasti, mentari sore bergerak menjauh. Seluruh objek itu, pantai, laut, bebauan, menerobos masuk melalui panca indranya. Sekali lagi kelembutan sore membuat hatinya teduh. “… cinta kasih saja. Itu yang paling cocok.”

Ditutupnya lagi pelupuk matanya. Sesaat kemudian disapunya seluruh tubuhnya, melemaskan ketegangan di kepala, bahu, perut, punggung, pangkal paha, dan menggeser sedikit tumitnya.

Dalam kedamaian sore, Tari ‘menyanyi’ pelan-pelan, dalam hati, “Semoga aku berbahagia, damai, bebas dari penderitaan. Semoga guru-guruku berbahagia, damai, bebas dari penderitaan. Semoga Ibu dan Bapak berbahagia, damai, bebas dari penderitaan. Semoga adik-adikku berbahagia, damai, bebas dari penderitaan.”

Angin berdesir. Tari terlelap dalam samadhi, konsentrasi. “Semoga Si Mbok berbahagia, damai, bebas dari penderitaan. Semoga Si Meong berbahagia, damai, bebas dari penderitaan, semoga….”

“Hei, Nona….”

Gelegar suara itu membangunkannya. Buyar sudah samadhi-nya. Dalam keterkejutan, Tari menoleh ke arah sumber suara. Beberapa meter dari tempatnya bersila, ia melihat sosok pria tua paling aneh yang pernah ia temui dalam hidupnya. Rambutnya hitam keriting dengan semburat putih di sana-sini. Tubuhnya kecil. Tetapi, yang paling membuat aneh adalah kulitnya. Kulitnya putih. Seputih kapas. Dengan kelopak mata hitam legam dan sorot mata garang. Teramat garang.

Bulu kuduk Tari berdiri. Secara intuitif, Tari tahu bahaya tengah mengintainya. Perlahan ia beringsut. Menjauh. Niatnya begitu. Meski ternyata, ia sama sekali tak bergeser dari tempatnya semula.

“Mana uang….”

“Uang?” Tari tergagap. Bingung. Cemas. Takut. Tak mengerti.

“Jangan pura-pura taratau. Uang… dua ratus ribu.”

Tubuhnya dingin seketika. Bukan soal dua ratus ribu itu. Ia punya banyak uang di saku celananya. Gajinya sebagai manajer marketing di ibu kota amat sangat besar untuk dimakan sendiri. Tetapi, kehadiran pria tua itu benar-benar meluluhlantakkan pertahanannya. Terutama, saat dilihatnya pria tua itu menggenggam parang panjang di tangan kanannya. Sepertinya, kematian tengah membayangi hidupnya.

“Ayo… capat... uang…,” ancam pria tua itu lagi. Telapak tangan kirinya menengadah terbuka, terjulur ke arah Tari, sementara parang panjang itu sepertinya terayun ke sana kemari.

Tari lumpuh. Dengan tubuh gemetaran ia berdiri goyah. Otaknya beku. Tangannya yang tak kalah gemetar terjulur masuk ke saku celana. Ia berusaha mengoordinasikan gerakan tangannya agar sesuai dengan perintah otaknya. Tidak mudah. Dirogohnya dompetnya. Diambilnya dua lembar uang seratus ribuan dari sana. Masih dengan tangan gemetar diulurkannya lembaran-lembaran uang itu ke arah pria tua.

Tepat pada saat itu dari kejauhan terlihat sesosok pemuda berlari-lari kecil dan melambai-lambai ke arah mereka. Pemuda itu rupanya telah ada di sana, di pantai itu sejak tadi. Ia tahu saat Tari datang, memarkir sepeda motornya, dan duduk diam menghadap ke kejauhan seperti patung kayu. Ia tahu saat bapa ade-nya (pamannya) menghampiri Tari. Dan, ia tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi. Tetapi, ia sedikit terlambat. Karena… sesaat tadi… ia begitu asyik melihat lambaian rambut sebahu Tari yang terbawa angin ke mana-mana, begitu indah dan memesonanya.

“Bapa Ade… Bapa Ade... jangan, sudah….” Dari kejauhan pemuda itu melambai, berteriak-teriak, mencegah pemerasan itu, sebisanya.

Bapa ade-nya menoleh. Gusar, “Apa jangan-jangan… anak kecil taratau urusan.”

“Dong (dia) cuma tamu, to.”

“Tamu? Di tong (kita), pu pantai, tong pu tanah? Tara bisa. Harus bayar. Zaman ini tarada yang gratis. Bayar…,” gelegar suara pria tua itu lagi.

Tari serasa mau pingsan.

“Sudah… Bapa Ade… sudah, ayo tong, pulang.”


Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2008
 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?