Beauty Trend
Nostalgia Riasan Mata

10 Mar 2016


 
Gaya riasan mata yang selalu berubah di  tiap masa. Perubahan gaya hidup dan tren mode turut memengaruhi tampilan tata rias wanita. Yang paling tampak adalah pada riasan mata dan alis. Berikut ini gaya riasan mata dan alis tiap era yang berhasil direkam femina.

1900
Pada era ini, wanita dituntut untuk tampil serba feminin dan anggun. The Gibson Girl, Isadora Duncan, Mata Hari, hingga Elsie De Wolfe menjadi panutan karena memiliki paduan kulit sempurna, mulus, dan cerah seperti salju.

Riasan panggung yang dramatis sangat diminati. Tak heran jika wanita pada masa ini banyak menggunakan liquid cream dan white rice powder untuk memperoleh tampilan kulit pucat dan putih bak porselen. Itulah sebabnya, riasan mata yang menekankan pada tarikan eye liner yang kuat, pulasan maskara supertebal, dan sudut lengkung alis yang tinggi, sangat diminati.


1910
Konsep cantik dan gaya wanita di era ini berubah drastis. Theda Bara, Djuna Barnes, dan Gloria Swanson tampil sebagai ikon yang menampilkan kecantikan wanita saat itu: sensual dan naïf bak gadis kecil. Kedua hal tersebut menghadirkan kesan seksi dan misterius.

Kulit wajah yang dipulas seperti beledu putih dengan bibir mungil yang dipoles lipstik berwarna merah tua makin diminati. Riasan ini didominasi oleh eye liner yang digoreskan pada seluruh garis mata atas dan bawah. Sudut alis yang melengkung tajam berubah menjadi datar dan menurun, layaknya gadis kecil yang masih polos.


1920
Wanita mulai mengadaptasi gaya pria. Di era yang dikenal sebagai The Jazz Age ini, Gabriel ‘Coco’ Chanel, Clara Bow, dan Kiki de Montparnasse dinilai sebagai wanita berani, modis, serta seksi.

Riasan yang digemari masih berfokus pada area mata. Bedanya, eye liner yang diminati tidak tebal seperti dasawarsa sebelumnya, namun lebih tipis dan membingkai garis mata bagian atas. Pulasan bedak tebal dan blush on yang diaplikasikan pada puncak pipi dengan bentuk bulat dinilai seksi. Alis mata dibentuk sangat tinggi, tebal, dan tajam,  membuat penampilan terkesan berkelas.


1930
Inilah era Great Depression sebagai imbas kehancuran Wall Street pada tahun 1929. Perekonomian dunia yang mulai menurun membuat para wanita mulai melepaskan busana gemerlap dan riasan mewah. Gaya riasan serba tebal di era sebelumnya  dianggap sebagai gaya yang terlalu seksi dan berlebihan.
Sebaliknya, industri film tampak makin berjaya. Ini membuat para desainer berlomba   mendandani para selebritas dengan busana modis dan sederhana yang menonjolkan lekuk tubuh wanita, kulit area punggung, serta kerung leher V yang sensual.

Wanita menginginkan riasan yang menampilkan kecantikan alami, seperti Amelia Earhart, Marlene Dietrich, Greta Garbo, dan Jean Harlow. Riasan wajah tampak seragam, seperti goresan pensil alis berbentuk semi circle dengan garis arch melengkung tinggi, pulasan eye shadow warna tembaga, emas, cokelat, dan ungu, serta maskara hitam pekat.


1940
Di era ini, para wanita diharapkan tetap berada di rumah, sementara para pria berada di medan perang. Dunia mode pun tampak lebih ‘diam’. Busana modis tampil lebih sederhana, sebatas lutut, dan memudahkan wanita untuk bergerak. Satu-satunya yang ngetren saat itu adalah stocking dengan garis batas tegas di betis dan sepatu model pump shoes, oxford, dan sandal. Tak jarang, para wanita sengaja menorehkan garis vertikal menggunakan pensil alis di belakang kaki, mulai dari pergelangan kaki, betis, hingga paha demi mendapatkan aksen stocking yang modis.

Tampilan sederhana tersebut tampak pula pada riasan wajah. Alis mata tebal dengan lengkungan sudut alis alami sangat diminati. Kelopak mata dibiarkan tampil natural dengan eye shadow warna kecokelatan dan maskara hitam. Kulit wajah cukup dibubuhkan bedak tabur yang menampilkan kulit sehat. Fokus riasan terletak pada bibir yang dibentuk penuh dengan warna pink kecokelatan.


1950
Setelah perang, seluruh komunitas tampak kembali berbenah  dan mempercantik diri. Dunia mode kembali bangkit pada era ini. Wanita tampil lebih feminin dengan berbagai siluet busana yang menunjukkan lekuk tubuh dengan berbagai  warna berani.
Desainer asal Eropa sangat mendominasi, seperti Dior yang memperkenalkan busana bersiluet A-line dan gaun layaknya putri raja. Pada masa ini, Marks and Spencer menjadi merek busana ready to wear yang diminati karena terjangkau dan berkualitas tinggi. Celana capri, sweater, hingga sepatu balerina menjadi populer karena dinilai praktis dan feminin.

Pada masa ini, produk kosmetik diciptakan untuk membuat kecantikan wanita terlihat eksplisit dengan gaya riasan tebal menggunakan foundation dan bedak. Meski demikian, tata rias wanita pada masa ini tampak elegan, seperti ikon Audrey Hepburn, Grace Kelly, Evita Peron, hingga sosok elegan seperti Brigitte Bardot, Sophia Loren, dan Marilyn Monroe.

 Alis mata terlihat lebih tebal dengan bentuk sangat alami dengan eye shadow warna netral atau senada dengan busana serta aksesori yang dikenakan. Bibir pun dibentuk penuh dan seksi dengan lip pencil warna pastel serta lipstik  warna muda.


1960
Dunia mode digemparkan oleh Hubert de Givenchy yang mendesain ‘sack’ dress – gaun longgar model shift dress mini-- yang digemari Mary Quant. Gaun tersebut sekaligus melahirkan era mod yang fenomenal. Tahun ini juga identik dengan gaya lady like seperti Jacqueline Kennedy, Jane Fonda yang sensual, serta Twiggy yang girlie.
Fokus riasan wajah terletak pada riasan mata yang sengaja dibuat bulat dan besar dengan ekspresi kekanakan. Eye liner diaplikasikan secara tegas dan tampak mendominasi, seiring dengan tampilan bulu mata yang lebat, tebal, dan lentik. Area bibir sengaja dibiarkan natural atau pucat. Konsep riasan ini tampak serasi dengan tampilan busana kaya motif dan warna.


1970
Era flower generation ditandai dengan tampilan busana yang atraktif, sederhana, dan unik. Sosok wanita dari serial TV,  The Charlie Angels: Margaux Hemingway, Jane Birkin, hingga Bianca Jagger menjadi inspirasi cantik kala itu.
Riasan ala tahun 1970 identik dengan alis tebal alami, riasan mata bergaya smoky ringan warna kecokelatan, pulasan maskara tebal, dan lipstik bertekstur glossy yang seksi. Sedangkan area pipi dipulas dengan blush on yang diaplikasikan dengan tarikan tegas seperti teknik shading.


1980

Tahun ini ditandai dengan puncak kesuksesan roda perekonomian dunia. Para pekerja yang berada di posisi manajerial tidak hanya didominasi oleh kaum pria, namun juga wanita yang mapan dalam hal finansial. Keadaan tersebut melahirkan kaum yuppies yang sangat konsumtif.
Keadaan tersebut tersirat dalam tampilan busana dan riasan serba mewah, meriah, dan maksimal. Gaya ala Madonna, Ivana Trump, mendiang Lady Diana, hingga Florence Griffith Joyner dinilai cantik dan modis. Blazer ber-padding tinggi serta berwarna cerah menjadi salah satu busana yang digemari di masa tersebut. Riasan pun tampil makin berani dengan penggunaan eye shadow minimal 3 warna, permainan eye liner dan blush on tegas, alis mata tebal, serta lipstik bertekstur creamy warna cerah.


1990
Kesan mewah yang eksplisit pada tahun 1980 berganti menjadi lebih sederhana pada tahun 1990. Secara garis besar, tren tahun 1990-an cenderung  mengombinasikan gaya busana tahun 1960-1980.
Tidak hanya sebatas selebritas, wanita sekelas supermodel menjadi idola baru karena dinilai lebih membumi. Wajah baru supermodel dunia seperti Kate Moss, Cindy Crawford,  Naomy Campbell, Jennifer Aniston, hingga The Spice Girl adalah wajah baru yang sosoknya digemari wanita.

Tampilan kulit wajah yang bersih dan bercahaya kembali ditonjolkan melalui pemakaian bedak tabur berefek shimmer, light foundation, atau tinted moisturizer. Konsep riasan pun kembali menjadi lebih segar, ringan, dan sederhana. Alis mata dibentuk sealami mungkin dengan eye shadow warna netral dan maskara bening yang membuat tampilan wajah tampak sangat alami.



2000
Era millennium memberikan kesan serba silver dan icy colors bagi dunia mode dan kecantikan. Gaya futuristis dan  glamor menjadi awal dari perkembangan fashion awal tahun 2000-an. Eye shadow warna silver dan metalik yang dipulaskan pada seluruh kelopak mata sangat diminati, bersamaan dengan alis segaris yang dipopulerkan oleh Paris Hilton, Gwen Stefani, Drew Barrymore, dan Christina Aguilera.  

Pertengahan tahun 2000-an juga diwarnai dengan gaya berbusana emo  yang serba gothic. Gaya busana tersebut menjadi inspirasi riasan smoky eyes dengan penggunaan eye shadow hitam, eye liner dan maskara tebal, pulasan lipstik pucat, serta rambut lurus belah samping. Pada era ini, penggunaan bulu mata palsu yang dramatis makin populer, disertai hadirnya Latisse, sebagai produk yang membantu menumbuhkan dan menebalkan bulu mata.
Yang menarik adalah lahirnya botox, sebagai formula yang disetujui untuk membantu mengurangi kerutan, terutama di area mata, pada tahun 2002. Tak berapa lama kemudian, facial fillers seperti  Juvederm dan Restylane memperkenalkan diri sebagai salah satu opsi perawatan area mata untuk mengurangi tampilan kantong mata dan smile lines.


2010
Awal tahun 2010 merupakan awal hadirnya tren hipster yang berasal dari gaya anak jalanan di berbagai pusat mode dunia. Tampilan mode yang anti-mainstream menjadi diminati karena dinilai unik dan trendi. Budaya hipster pun menekankan pada kebiasaan mereka yang  tidak bisa lepas dari gadget, seperti  smartphone, laptop, dan hardware personal lain. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2010 awal, produk elektronik semacam smartphone telah masuk ke hampir  tiap negara dan dapat dimiliki oleh semua orang.

Riasan yang menampilkan kulit sehat dan tampilan make up seperti tidak menggunakan make up (make up no make up) makin diminati. Wajah wanita Asia asal Korea dan Jepang, dinilai memberi arti baru kecantikan wanita yang selama ini didominasi oleh wanita Kaukasia. Alas bedak seperti BB cream, CC cream, hingga foundation jenis high definition yang membuat tampilan wajah tampak mulus di depan kamera,  makin populer. Begitu juga dengan teknik shading yang  makin mudah dipelajari melalui Youtube.

Area mata tampil lebih segar dengan eye shadow bertekstur shimmer serta eye liner warna cerah,  hitam, serta  warna putih yang digunakan pada area waterline agar mata tampak segar. Alis pun dibingkai menjadi lebih tebal dan lebat dengan penggunaan pensil alis warna cokelat tua atau abu-abu tua. Perawatan alis menggunakan teknik sulam alis pun menjadi populer.(f)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?