Travel
Waerebo, Kampung Arsitektur Nusantara

18 Jun 2012

Meski letak desa ini jauh terpencil,  herannya, setiap tahun turis dari berbagai negara rela menempuh jalan panjang demi mengunjunginya. Di desa yang terletak di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini terdapat harta karun Nusantara, berupa rumah adat yang unik dan kebudayaan yang masih terjaga. Berikut ini penuturannya.

Tujuh Rumah Kerucut
Rumah panggung berbentuk bulat seperti kerucut yang disebut mbaru niang adalah keistimewaan Waerebo. Menurut Martin Anggo, warga Waerebo yang menjadi penggerak wisata desa ini, para leluhur dahulu membuat tujuh buah rumah dengan formasi setengah lingkaran. Di bagian tengah adalah rumah gendang (niang gendang) atau rumah utama, yang berukuran lebih besar dan memiliki puncak yang sedikit berbeda. Enam rumah lain disebut niang gena atau rumah biasa.

Setiap rumah ada dua pintu, di depan, di belakang, serta empat jendela kecil. Masuk ke dalam rumah yang remang-remang, terlihat langit-langit yang tinggi dan kayu-kayu konstruksi. Yos pemandu saya, bercerita, mbaru niang terdiri dari lima tingkat, masing-masing memiliki fungsi dan nama  tersendiri.

Tingkat pertama yang ditinggali orang untuk beraktivitas disebut lutur. Sedangkan tingkat kedua adalah lobo, ketiga adalah lentar, keempat lempa rae, dan kelima adalah hekang kode, merupakan loteng yang biasa digunakan antara lain untuk menyimpan benih tanaman dan persediaan makanan.

Tingkat lutur dibagi tiga, bagian depan ruangan untuk bersama, semacam ruang keluarga. Di bagian dalam adalah kamar-kamar yang disekat menggunakan papan, dan dapur di bagian tengah rumah. Atap rumah terbuat dari ijuk dan alang-alang. Aroma asap kayu bakar langsung menyergap saat saya masuk ke dalam rumah gendang. Acara masak memasak di dalam rumah yang membuat rumah penuh asap, tak disangka itu ada gunanya. ”Asap dan panas dari tungku berguna untuk mengawetkan kayu bangunan, juga persediaan makanan yang disimpan di loteng,” kata Yos.


Rumah Tamu
Salah satu rumah baru yang dibangun atas sumbangan donatur kini dijadikan rumah khusus bagi wisatawan. Arsitekturnya sama persis dengan rumah biasa Waerebo. Tapi, khusus rumah ini, bagian lotengnya sengaja tidak ditutup kayu-kayu penyekat sehingga mudah bagi wisatawan mengamati arsitektur rumah secara detail.
Di bagian tengah juga dijadikan dapur untuk memberi kenyamanan bagi wisatawan yang tidak terbiasa oleh asap kayu bakar. Di bagian belakang dibuat ruang khusus untuk memasak. Di bagian samping terdapat kamar mandi dan toilet yang bersih.

Di dalam rumah hanya ada satu satu ruang untuk berganti pakaian. Sisanya, dibiarkan terbuka. Tikar-tikar dihamparkan. Masing-masing diberi bantal berisi kapuk seperti yang digunakan masyarakat Waerebo. Tikar dan bantal terbuat dari daun pandan. Bantalnya bisa digunakan untuk meja atau kursi. Ini karena bentuknya yang stabil.
   
Berada di dalam rumah yang diselimuti alang-alang ini, saya tetap merasa sejuk, meski di siang hari yang panas. Sementara, pada malam hari, tetap terasa hangat.


Songke dan Curak 
Desain rumah panggung selain melindungi penghuni dari binatang buas dan tanah yang basah, kolong rumah kerap digunakan untuk menenun.

Biasanya, wanita Waerebo menenun saat tidak bekerja di kebun. Makanya, untuk menyelesaikan satu buah sarung, bisa memakan waktu sebulan, atau lebih.
   
Sarung di sini ada dua macam: songke dan curak. Songke mempunyai ciri khas, yaitu berwarna dasar hitam dengan motif hias berwarna biru, kuning, hijau, putih, jingga, dan magenta. Ini sarung khas Manggarai. Motif hiasnya bisa bermacam-macam: bunga, daun, atau kotak-kotak geometris. Songke digunakam saat acara resmi, juga dikenakan sehari-hari.

Curak adalah sarung  bermotif gari-garis dengan aneka warna cerah. Sarung-sarung ini lumayan tebal, sehingga, selain dipakai sebagai bawahan, pada malam hari bisa untuk menghangatkan tubuh.


Sedapnya Ngopi
Salah satu alasan yang menyenangkan mendatangi Waerebo adalah kopinya. Kopi Flores memang terkenal dan menjadi komoditas utama Desa Waerebo. Desa ini dikelilingi kebun kopi. Saat saya datang, belum saatnya panen kopi, tapi saya bisa mencium aroma bunga kopi yang wangi seperti melati.

Di sini terdapat jenis kopi arabika dan robusta. Bisa dibilang, kopinya adalah jenis kopi organik, sebab  tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia. Air dan lahannya pun belum terkontaminasi. Biasanya, petani menjual kopi di pasar dalam bentuk biji yang belum diolah. Lalu, biji kopi diolah secara    tradisional  hingga siap diminum untuk dikonsumsi sendiri.

Di depan salah satu rumah, saya melihat seorang nenek sedang menumbuk biji kopi --yang sudah dipanggang-- dalam lesung kayu menggunakan alu, mengayaknya, lalu kembali menumbuknya hingga halus. Di halaman rumah yang lain tampak seorang ibu menumbuk biji kopi yang masih segar untuk memisahkan biji kopi dari kulitnya.

Di sisi lain, tampak biji kopi sedang dijemur di atas tikar. Semua yang dilakukan di sini bukan atraksi yang diada-adakan, tapi memang begitulah keseharian mereka.
   
Bubuk kopi yang dihasilkan warnanya sangat hitam. Aroma kayu bakar menambah harum kopi. Sepertinya, untuk konsumsi sendiri warga mencampur saja kopi arabika dan robusta. Tapi, ini justru membuat rasa yang seimbang, tak terlalu pahit, tidak terlalu asam, dan tetap wangi. Saya pun merasa wajib memesan bubuk kopi untuk dibawa pulang.

Bagi masyarakat Waerebo, kopi adalah minuman wajib di pagi hari sebelum berangkat bekerja. Mereka juga meminumnya di sore hari setelah bekerja. Mereka suka kopi yang manis. Makanan yang biasa menemani kopi adalah keladi kukus yang dicampur sedikit gula pasir.

Aturan Bertamu
Waerebo punya tradisi, Setiap wisatawan yang datang diperlakukan sebagai tamu yang perlu dihormati. Saat datang, saya dan teman-teman disambut di niang gendang. Di sini,  saya disambut oleh ketua adat, Pak Isidorus, dan para tetua di desa. Pak Isidorus yang menyalami saya dan teman-teman satu per satu, sambil berkata, ”Selamat, Isidorus.” Kami pun menyambut jabatan tangannya dengan berkata ”Selamat” dan menyebutkan nama masing-masing. Setelah itu, giliran para tetua dan ibu-ibu yang hadir. Para ibu menyebut diri mereka ’Mama’.

Saya lalu menyampaikan turut berduka cita kepada para leluhur masyarakat Waerebo yang telah meninggal, dan meminta izin sekaligus menunjukkan iktikad baik dengan memberi ayam putih dan sumbangan secara sukarela. Setelah itu, ketua adat memberi restu sambil bersenandung dalam bahasa Manggarai. Di sini, bahasa Indonesia jarang dipakai, karenanya sebagian anak-anak kecil dan orang tua yang tidak bersekolah, hanya mengerti sedikit-sedikit.

Waerebo paling ramai saat tahun baru mereka, yaitu pertengahan bulan November. Saat itu merupakan peralihan musim kemarau ke musim hujan, saatnya masyarakat mulai bercocok tanam. Biasanya, orang Waerebo yang berada di perantauan pun akan mudik. Saat itulah digelar pesta penti. Berbagai upacara adat digelar, termasuk caci, pertarungan menggunakan cambuk.

Kontributor: Nuri Fajriati