Menggelandang Demi Musik
“Saya sebenarnya bukan manusia di depan layar. Saya tidak nyaman di-make up, tersorot lampu, dan memakai kostum yang tidak sesuai kepribadian saya,” jelasnya. Kepada femina, ia jujur menganggap akting hanyalah pekerjaan semata, tempatnya mencari penghasilan. “Kalau ada pekerjaan lain yang bisa memberikan penghasilan sama dengan akting, akan saya lakukan,” ungkap pria yang belum tertarik terjun ke dunia sinetron ini.
Mengawali karier di dunia model dan besar di dunia sinema, ternyata pada dunia musiklah hatinya tertambat. “Bermusik adalah dunia saya, jiwa saya,” kata pria yang mengaku Slankers ini. Abi bercerita, perkenalannya dengan musik ketika ia kecil. Ibunya sering memutar lagu-lagu band Led Zeppelin di rumah. “Saya bermimpi suatu saat memiliki band sebesar itu.”
Begitu cintanya pada dunia musik, ketika SMP, Abi memilih meninggalkan bangku sekolah untuk fokus mengejar mimpinya itu. Ia keluar dari rumah, hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain, bekerja di bengkel, menjadi penjaga toko, berjualan kaus. Ia ingin membuktikan keseriusannya menekuni musik. Sampai pada suatu waktu ia menyadari merilis album tidaklah mudah.
“Saya sempat stres, membakar CD dan gitar karena kecewa dengan pilihan saya bermusik,” tuturnya. Namun, tak berapa lama kemudian, kerinduan untuk kembali bermusik mengusiknya. Bersama band-nya, Drona, ia merilis sebuah single berjudul Gadis dalam Mimpi. Lagu ini bahkan menjadi salah satu soundtrack Republik Twitter dan masuk chart di Radio Geronimo FM, Yogyakarta.
Abi berjanji pada diri sendiri untuk mulai menata hidupnya, dan membesarkan band-nya, sehingga musiknya bisa diterima banyak orang. “Tantangannya tidak mudah. Agar band tetap solid, kami harus meleburkan ego masing-masing untuk satu tujuan yang sama,” ungkap vokalis Drona ini.
Hidup Adalah Komitmen
Menikah dan berkeluarga menjadi titik balik hidup Abi. Ia dan istrinya menikah saat usia mereka relatif muda, 19 tahun. Ia bercerita, perjumpaan pertama dengan istrinya terjadi di Solo. Setelah melakukan pendekatan hanya 4 bulan, akhirnya ia melamar istrinya. “Cerita kami tidak seromantis drama di film.” Ia dan istrinya berkomitmen untuk membangun keluarga, membesarkan anak-anak sampai mereka tutup usia.
Bagi Abi, hidup itu adalah petualangan dan pilihan. “Memutuskan untuk menikah tak perlu pertimbangan lama. Saya sudah lama tidak tinggal dengan keluarga, saya sangat kesepian dan ingin memiliki anak-anak dan keluarga yang lengkap,” ungkap ayah dari Belva Ugraha (8), Satine Zaneta (7), Bima Bijak (3), dan Arsanadi Arka (6 bulan) ini. Ketika istrinya hamil anak pertama, ada perubahan pada diri Abi. Ia tak lagi sering keluar malam dan minum alkohol. “Saya berhenti melakukan kenakalan saya, namun belum bisa berhenti merokok,” ungkapnya.
Masa-masa awal menjadi ayah merupakan masa indah baginya. Hidupnya tak lagi sepi. Perasaan kosong di hatinya selama ini menjadi terisi karena kehadiran anak-anaknya. “Saya ingin balas dendam pada masa lalu saya dengan menunjukkan bahwa saya memiliki keluarga yang bahagia. Membesarkan anak-anak dengan cara terbaik yang saya mampu,” ungkapnya.
Sebagai orang tua, Abi memiliki idealisme dalam mendidik anak-anaknya. Ia tidak ingin memaksakan anak-anaknya menjadi apa kelak. “Saya mau mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan. Mereka harus bersenang-senang dalam hidup.” Meski membebaskan pilihan anak-anaknya, ia tetap memberikan batasan bagi mereka untuk tidak melanggar norma agama. “Saya mau anak-anak menikmati masa kecilnya, tak mau membebani mereka dengan kewajiban harus belajar sekian jam setiap hari,” ujar pria pengagum keindahan Karimun Jawa ini.
Di waktu luangnya, ketika tidak syuting atau latihan musik, Abi betah berlama-lama di rumah. “Bercanda bersama anak-anak di kamar, itu hal paling membahagiakan dalam hidup saya.” Di lain waktu, ia akan mengajak keluarganya ‘piknik’ sederhana di Ragunan. “Kami membawa makanan, duduk di atas tikar, mengobrol, sambil memandangi pohon-pohon,” ungkap Abi, yang tak suka ke mal.
Pria berambut panjang ini mengaku banyak mendapat pelajaran hidup dari falsafah Jawa. “Saya tidak ingat ungkapannya dalam bahasa Jawa. Tetapi, inti dari falsafah itu mengajarkan saya untuk selalu berpegang pada komitmen, kerja keras, dan kejujuran, dalam menjalani hidup,” ungkap penggemar tokoh wayang Bima ini, menutup pembicaraan.
Daria Rani Gumulya
Foto: Irvan Arryawan, Dok. Belenggu.
Pengarah Gaya: Aulia Fitrisari


