Saya (25) sudah 3 tahun menikah dan punya satu putra (1 tahun). Kami masih tinggal di rumah ibu saya. Akhir-akhir ini kami sering bertengkar karena suami (27) selalu mencari alasan untuk berlama-lama di luar rumah. Ia jarang mengurus anak kami sepulang kerja, padahal saya sangat lelah karena harus kuliah dan bekerja. Ibu saya dan suami kurang akur, mungkin ia menghindari itu. Kondisi suami yang kurang peduli malah membuat saya khawatir pindah dari rumah Ibu. Penghasilan suami masih lebih kecil dari penghasilan saya, sementara saya harus membiayai kuliah.
Olive - Jakarta
Menurut Psikolog Irma Makarim, pernikahan bukan sekadar pesta meriah, karena pasangan akan mengalami banyak hal. Kini tak hanya dirinya sendiri, tetapi pasangan, anak yang lahir dari perkawinan itu, serta kesejahteraan rumah tangga perlu ikut dipikirkan. Idealnya pasangan akan saling mendukung dalam menjalankan kewajiban pribadinya serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Butuh kesiapan kedua belah pihak, bukan sebatas materi tetapi juga batin. Ketidaksiapan akan memicu berbagai kendala.
Tampaknya Anda cukup siap menghadapi kehidupan baru, bahkan mampu bekerja sambil kuliah dan mengurus anak balita Anda. Beruntung ibu Anda ikut membantu dengan menyediakan rumahnya untuk Anda tinggali bersama. Berbeda dengan suami yang kelihatannya belum sepenuhnya siap. Kesulitannya menyesuaikan diri bersama mertua dan kondisi penghasilannya mungkin membuatnya berkecil hati dan memengaruhi rasa percaya dirinya. Ia tidak menyadari, sikapnya yang menghindar dari rumah malah mempersulit keadaan.
Masalah Anda perlu segera dibicarakan sebelum mencederai pernikahan. Sediakan waktu untuk mengungkapkan dan mendengarkan keluhan masing-masing. Anda perlu mensyukuri potensi dan kemampuan Anda, tetapi usahakan minta bantuan suami untuk meringankan tugas Anda, paling tidak dalam merawat anak. Ini membuat suami merasa dihargai. Hindari membandingkan dirinya dengan Anda.
Mungkin Anda bisa menjadi contoh bagi suami bagaimana menghargai orang tua serta mensyukuri bantuannya. Selain itu, Anda perlu menunjukkan dukungan pada suami dengan membantunya mengenali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Rumah tangga yang nyaman dan damai tidak terjadi begitu saja, tetapi harus diusahakan. Jalani perkawinan Anda yang masih berusia muda ini dengan penuh sukacita, sehingga bisa mengembalikan kehangatan hubungan Anda berdua.
Sedangkan menurut Psikolog Monty Satiadarma tinggal serumah dengan mertua memang tidak senantiasa selaras. Mertua bukan orang tua menantu, dan masing-masing memiliki kebiasaan dan sudut pandang berbeda. Sebagai anak dari ibu Anda dan istri dari suami, memang selayaknya Anda menjembatani komunikasi di antara mereka.
Anda tidak bisa menggunakan alasan lelah kuliah dan bekerja, karena kesejahteraan keluarga juga merupakan tanggung jawab Anda. Suami boleh jadi merasa tak nyaman tinggal bersama mertua yang bukan orang tuanya. Anda pun mungkin akan mengalami perasaan serupa sekiranya Anda yang harus menumpang tinggal di rumah orang tua suami.
Idealnya, pasangan yang sudah menikah memang tidak lagi tinggal serumah dengan orang tua. Boleh jadi berdekatan, tapi tidak mencampuri kebijakan masing-masing rumah. Jika terjadi intervensi, maka yang memiliki rumah merasa otoritasnya dilangkahi. Masalah keterbatasan penghasilan adalah tantangan bagi pasangan rumah tangga. Ketika memutuskan menikah, hendaknya mereka sudah mempertimbangkan dan mengantisipasi masalah tersebut.
Jalan terbaik, Anda, suami, dan anak memang seharusnya tinggal di rumah yang berbeda, memiliki kebijakan sendiri yang bukan kebijakan orang tua Anda. Keterbatasan dana harus Anda tanggulangi selaku pasangan hidup yang saling membantu. Keluhan lelah tidak layak diungkapkan karena memang hal itu merupakan tantangan hidup yang harus Anda hadapi.(f)



