Trending Topic
Semangat Kebebasan Berekspresi dari Frankfurt Book Fair 2015

14 Oct 2015


Di tengah penjagaan yang ketat dan aksi boikot oleh Kementerian Kebudayaan Iran, penulis Salman Rushdie tetap menyuarakan aspirasinya dalam konferensi pers pembukaan Frankfurt Book Fair 2015, di Frankfurt, Jerman (13/10).  Menurut Rushdie, dunia penerbitan harus tetap berjuang mempertahankan kekebasan berekspresi. “Kebebasan berekspresi tidak hanya harus didiskusikan, tapi juga harus dianggap sebagai kebutuhan, layaknya udara yang kita hirup sehari-hari.” Aksi dan ancaman kekerasan harus dilawan lewat karya. “Penerbit dan penulis bukanlah pejuang dengan senjata dan tank. Namun, kita harus mengambil sikap dan tidak boleh mundur.  Sastra sebagai seni luar biasa kuat pengaruhnya pada masyarakat.”

Pemerintah Iran sempat mengeluarkan fatwa menolak karya Rushdie, The Satanic Verses pada 1989, karya kontroversial ini dianggap telah melukai hati umat Muslim di dunia. Di hall 4 Frankfurt Messe, stan nasional Iran tampak lengang, dan sekelilingnya ditutup dengan pita kuning. Tampak di beberapa sudutnya beberapa poster berisikan pernyataan tentang aksi boikot ini. Meski demikian, menurut Juergen Boos, Direktur Frankfurt Book Fair 2015, terlepas dari aksi boikot, masih ada sekitar 10 penerbit Iran yang tetap berpartisipasi di salah satu pameran buku terbesar dan tertua di dunia ini.

Hal serupa disampaikan oleh Goenawan Mohamad, Ketua Komite Nasional Indonesia dalam pidato pembukaan Frankfurt Book Fair 2015. Ia menganalogikan kisah Malang Sumirang sebagai salah satu bentuk kebebasan berekspresi. “Makna tak bisa diringkus. Kita menulis untuk menegaskan kesetaraan manusia. Kita menulis untuk menghidupkan percakapannya. Dan dengan demikian kita menulis juga untuk menumbuhkan kemerdekaannya."

Tahun ini, Paviliun Indonesia hadir di hall 5, Frankfurt Book Fair 2015 dan tampil istimewa sebagai Guest of Honour (Tamu Kehormatan) dan mengusung tema “17.000 Islands of Imagination.”  Pengunjung dapat mengikuti diskusi, pembacaan karya, pertunjukan, peluncuran buku, temu penulis, dan kegiatan kuliner di lima ‘pulau’ sebagai pusat kegiatan; Island of Words, Island of Images, Island of Inquiry, Island of Illumination, Island of Tales, dan Island of Scenes.

Lebih dari 70 penulis dan praktisi kuliner Indonesia ikut hadir, di antaranya; Sapardi Djoko Damono, N.H. Dini, Joko Pinurbo, Taufiq Ismail, Budi Darma, Ayu Utami, Laksmi Pamuntjak, Eka Kurniawan, Linda Christanty, Bondan Winarno, William Wongso, Sisca Soewitomo, dan lainnya. Partisipasi Indonesia sebagai Guest of Honour diharapkan bisa menjadi etalase untuk memperkenalkan Indonesia dalam berbagai aspek ke dunia, dan mendongkrak jumlah hak cipta karya kreatif anak bangsa yang terjual dalam publishing trade fair ini.

RAHMA WULANDARI
FOTO: 

RW/© Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015/Salman Rushdie, © Marc Jacquemin/Frankfurt Book Fair




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?