Berjarak usia empat tahun, dua bersaudara Ririn Ekawati (33) dan Rini Yulianti (29) memiliki hubungan yang sangat dekat. Begitu dekatnya sampai tak ada lagi satu pun rahasia. Minat dan selera mereka sangat mirip. Perbedaan selera mereka hanya dalam hal pria. Saat memenuhi janji temu dengan femina di sebuah kedai kopi, masing-masing pun memesan menu sarapan yang sama: secangkir cappuccino dan seiris spinach pie. Lulus dari ‘almamater’ yang sama tetapi berbeda ‘jurusan’ (Ririn adalah alumnus Wajah Femina dan Rini adalah alumnus Gadis Sampul), keduanya sama-sama memilih karier di dunia entertainment. Meski belum mencapai puncak ketenaran, keduanya tak punya target tertentu. Mereka mengatakan, membiarkan semua mengalir apa adanya justru menghadirkan kejutan-kejutan manis dalam hidup.
Sewaktu masih kecil, di luar pertengkaran yang umum terjadi di antara saudara kandung, hubungan Ririn dan Rini terbilang dekat. Makin dekat lagi karena pada suatu masa mereka harus terpisah selama lima tahun.
“Pada saat itu, Mama yang seorang single parent tidak sanggup membesarkan dua anak sekaligus. Karena itu, agar kami bisa tetap sekolah, salah satu dari kami harus mengalah dan diasuh oleh Kakek di Balikpapan,” kisah Ririn. Ketika itu sang ibunda membuka usaha warung makan soto banjar sebagai mata pencaharian.
“Pukul empat pagi saya bangun untuk membuat perkedel. Karena Dede (panggilan sayang untuk Rini -Red) terlalu kecil untuk membantu Mama. Dialah yang kemudian diasuh Kakek, sementara saya tinggal bersama Mama di Palu,” sambung Ririn, mengenang masa kecilnya tanpa nada getir.
Tak adakah rasa marah di hati Rini karena ia yang harus pergi? “Awalnya, sih, ada. Tapi, saya dan Kakek sangat dekat, karena kami kan tidak punya figur ayah. Jadi, tidak apa saya yang pergi,” kata Rini.
Ketika kembali bersatu, rasa kangen tak terbendung lagi. Dan sejak itu, mereka tak bisa dipisahkan. “Untung juga, ya, dulu Mama misahin kami berdua,” kata Ririn, sambil tertawa. “Semua ada hikmahnya. Kalau bersama-sama terus, mungkin kami malah tidak sedekat ini, ya,” lanjutnya, sambil memandang wajah adiknya dengan penuh rasa sayang.
Saat dewasa, meski terkadang bertengkar karena hal-hal sepele (misalnya, Rini meminjam barang Ririn dan lupa bilang), mereka saling mengagumi. Rini memandang kakaknya sebagai orang yang penyayang, sangat peduli pada orang lain, dan galak. “Kakak itu sangat baik. Dia terlalu care pada orang lain, sampai melupakan diri sendiri,” kata Rini, dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.
Bukannya ikut terharu, Ririn malah menggoda adiknya, membuat mimik wajah meledek. “Dia memang drama banget sedari kecil,” katanya, tertawa.
Di sisi lain, Ririn juga banyak belajar dari Rini, yang dipandangnya sangat rendah hati dan friendly. Ia belajar dari adiknya untuk bisa berteman dengan siapa pun. “Saya agak pilih-pilih teman. Maksudnya, bukan memilih dari kalangan atau latar belakang tertentu. Hanya, untuk bisa dekat dengan orang baru, saya membutuhkan proses agak lama. Tapi, Rini tidak begitu. Temannya di mana-mana.”
Saat ingin menikahi Rini, Michael Ha (39) pun mendatangi Ririn untuk meminta izin kepadanya. Izin itu turun dengan satu syarat: jangan mengganggu hubungan mereka berdua. Michael pun menerima syarat tersebut dengan rela hati. Ia justru senang melihat kerukunan Ririn dan Rini.
Namun, kedekatan itu tidak eksklusif milik mereka berdua. Mereka menjalin kedekatan yang sama dengan sang ibu, yang tinggal bersama Ririn. “Saya sering tidur bareng Mama. Suami saya kan jarang di sini. Kalau dia sedang bekerja di Vietnam, daripada sendiri di rumah, saya menginap di rumah Kakak. Gantian saja, malam ini tidur dengan Mama, besok dengan Kakak,” kata Rini, tak malu-malu. “Iya, semalam dia tidur dengan saya, tadi pagi mandi dengan saya juga,” sambar Ririn, tergelak.
Obrolan dengan mereka begitu seru, didominasi tawa dan canda. But life is not always about rainbows and butterflies. Tantangan yang dihadapi Ririn tidak bisa dibilang mudah. Belajar dari pengalaman pernikahannya, menikah muda dan bercerai, ia menurunkan ilmu-ilmu kehidupan kepada adiknya.
“Saya berpesan pada Rini agar ia menikmati masa mudanya. Apa yang ingin kamu lakukan, lakukanlah. Sebelum memutuskan menikah, kamu perlu waktu lama. Untuk mendapatkan orang yang kamu pikir benar, memang perlu proses. Alangkah baiknya jika membangun keluarga hanya satu kali saja seumur hidup. Kalau terlalu cepat menikah, takutnya banyak penyesalan. Pernikahan itu tidak segampang bilang cinta lalu hidup bahagia,” kata Ririn dengan nada serius, tanpa menyesali apa yang terjadi pada pernikahannya.(f)


