Celebrity
Ratu Tika Bravani: Ingin Usaha

14 Apr 2015

Beberapa tahun lalu, nama Ratu Tika Bravani (25) tak pernah terdengar di blantika perfilman tanah air. Namun, kemenangannya sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di film Soekarno pada ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2014 langsung melambungkan namanya. Cantik, berprestasi, namun tetap rendah hati. Itulah kesan yang muncul setelah femina mengobrol panjang lebar dengan wanita kelahiran Denpasar, 17 Februari 1990, ini.

Lega ia rasakan setelah berhasil membuktikan bahwa kemampuan aktingnya bukanlah hasil proses instan, dan peran-peran tersebut ia dapatkan bukan karena nepotisme. Meski begitu, untuk mendapatkan izin bermain film, awalnya ia sempat mendapat tentangan keras dari mendiang ibunya, Kemalia Dewi, yang sangat religius. “Saya ingat ketika pertama kali mengabari Ibu dan Nenek bahwa saya akan bermain di film pertama saya, mereka sangat terkejut dan melarang,” ungkapnya.

Latar belakang keluarga Tika memang sangat religius dan mengutamakan pendidikan. Ia memaklumi, keluarganya khawatir jika perannya itu akan mencoreng nama baik keluarga atau menghambat studinya. “Saya harus mati-matian meyakinkan ibu dan nenek saya bahwa kegiatan ini tak akan mengganggu kuliah saya saat itu. Saya juga berjanji akan bertanggung jawab atas semua peran yang diterima,” cerita Tika.

Setelah membaca skenario yang disodorkan dan mengetahui bahwa ceritanya bagus, hati ibunya pun luluh dan mengizinkannya bermain film. “Saya bangga sekali, setahun kemudian saya dapat berdiri di atas panggung sambil menggenggam piala Vidia sebagai Pemeran Pendukung Wanita FTV Terbaik di film Pahala Terindah (2011). Dalam pidato kemenangan, saya mengatakan, ‘Piala ini untuk Mama!’” kenangnya. Tahun 2013, Tika juga berhasil merampungkan studinya dan meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia dengan IPK 3,4. 

“Lega rasanya setelah lulus kuliah. Saya merasa lebih bebas menentukan apa yang ingin saya kerjakan ke depannya. Saya tak punya utang lagi pada Mama yang ingin sekali melihat saya jadi sarjana,” ungkap Tika, yang mengaku selalu mencetak prestasi akademis di sekolah.

Sayangnya, pada penyerahan piala FFI 2014 lalu, sang bunda tak bisa hadir menyaksikan prestasi anak semata wayangnya ini. Penyakit kanker rahim telah memaksanya berpulang hanya sebulan sebelum penyerahan penghargaan. “Campur aduk perasaan saya saat itu, antara senang, sedih, dan hampa. Saya tak tahu kemenangan itu untuk siapa,” tutur Tika, yang sudah berpisah rumah dengan ayahnya sejak usia 16 tahun.  
   
Meski begitu, perasaan kehilangan tersebut tak meredupkan semangatnya. Ia perlahan-lahan telah merancang peta masa depannya. “Walaupun telah menjadi sarjana, saya tak ingin bekerja di perusahaan seperti kebanyakan orang. Karena telah tercebur di dunia film, saya ingin menancapkan karier saya secara serius di bidang ini,” tegas Tika, yang ingin sekali mendapat tawaran bermain di film mengenakan jilbab atau berakting dengan aktris legendaris Christine Hakim.  

Sepertinya, keberuntungan banyak menghampirinya. Sebulan setelah kepergian ibunya dan setelah menerima piala Citra, Tika   mendapat tawaran bermain di film yang mengharuskannya menggunakan jilbab. “Ini seperti obat duka saya. Saya bisa meraih apa yang saya rindukan dan juga bertemu dengan teman-teman baru,” kenangnya.

Tika juga memperhitungkan dunia akting mungkin saja tak bisa selamanya ia tekuni, terutama ketika sudah berkeluarga kelak. Itu sebabnya, ia berencana membuka toko tekstil di Tanah Abang setelah menikah, seperti yang dijalankan tantenya. “Menjadi wirausaha adalah profesi paling aman untuk wanita berkeluarga, sebab kelak saya ingin bisa selalu dekat dan mengurus sendiri anak-anak saya,” harapnya.

Reynette Fausto





 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.