Happiness is being married to your best friend. Sepertinya ungkapan itu paling pas untuk menggambarkan cinta Dominique Diyose dan Marshall Sastra. Mereka bertemu 2,5 tahun lalu, dalam sebuah fashion show di suatu mal. Meski belasan panggung fashion show pernah mereka lalui bersama, di mata Domi, begitu panggilan Dominique, tak ada yang istimewa yang ia lihat dari Marshall, selain teman satu pekerjaan saja. Sampai beberapa bulan setelahnya, Didiet Maulana, desainer tenun ikat, mengajak keduanya makan siang bersama. Selama ini, Didiet memang sering ‘memakai’ kedua model ini berbarengan untuk memperagakan koleksinya. Ternyata, diam-diam Didiet telah membuat skenario mencomblangi kedua model ini.
Sejak itulah, keduanya jadi mulai intens berteman. Selepas show, mereka sering menghabiskan waktu berdua dengan ngobrol di kafe atau menonton bioskop. Perlahan tapi pasti, benih-benih cinta mulai tumbuh. Marshall yang duluan jatuh hati pada Domi. Ia pun memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Domi pada Oktober 2012.
“Saya tidak sadar selama ini ternyata Marshall melakukan pendekatan. Karena saat itu saya merasa nyaman jalan dengannya, ya, sudah, saya mau jadi pacarnya,” ujar Domi, sambil tersipu malu. Tanpa ekspektasi yang tinggi, wanita kelahiran Semarang ini pun menjalani hubungan kasihnya dengan pria penyuka kegiatan outdoor ini.
Tak disangka-sangka, dalam perjalanan sepulang show-nya di luar kota, di dalam mobil di tengah lautan kemacetan Jakarta, saat semua orang tengah bersiap menyambut malam pergantian tahun baru, Marshall mengungkapkan keinginan hatinya untuk meminang wanita cantik berdarah Tionghoa dan Jepang ini. “Jelas saya kaget, tak menyangka keseriusan Marshall, apalagi mengingat kami baru pacaran selama beberapa bulan saja,” ungkap Domi tanpa bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Tanpa pikir panjang, Domi pun menyambut baik ajakan sang kekasih untuk mengarungi hidup bersama. “Saya diteguhkan dengan melihat karakter Marshall yang gigih dan bertanggung jawab. Sifat-sifat itulah yang membuat saya tertarik dan percaya ia bisa menjadi pemimpin dalam keluarga nanti,” ujar Domi. Sedangkan di mata Marshall, Domi adalah wanita yang selalu ceria, fun, dan bersemangat. “Bersamanya membuat saya nyaman,” ungkap pria dengan tinggi badan 185 cm ini.
Setelah lamaran tak resmi tersebut digaungkan, baru kemudian pada Agustus 2013 mereka menyelenggarakan pertunangan resmi yang melibatkan keluarga masing-masing. Tepat setahun setelah proses lamaran mereka, 16 Agustus 2014 Domi dan Marshall pun mengikat janji suci di altar Gereja Katedral, Jakarta. Gereja Katedral minggu pagi itu dipenuhi bunga-bunga berwarna putih di sepanjang jalan menuju altar. Domi mengatakan, pernikahan di Katedral adalah impiannya sejak kecil. Untuk dapat melangsungkan pernikahan di sana, ia bahkan rela menunggu antrean beberapa bulan. “Padahal sudah mencari alternatif gereja lain, namun Domi tetap ingin di sana. Jadi, yang awalnya ingin menikah bulan Maret jadi mundur ke Agustus,” cerita pria tampan berdarah Jawa-Manado ini, sambil melirik mesra istrinya. “Saya ingin pernikahan yang sakral. Dan, mimpi saya terwujud!” sahut Domi, menanggapinya dengan bahagia.
Setelah upacara pemberkatan di gereja, kedua pengantin ini tidak menyelenggarakan resepsi. Mereka hanya mengundang keluarga dan beberapa sahabat dekat untuk perjamuan makan malam di sebuah restoran di Jakarta. “Semua yang mengurus Domi, lho. Tanpa mengadakan resepsi besar juga itu keinginannya. Kesederhanaan inilah yang saya sukai darinya,” puji Marshal kepada istrinya.
Daria Rani Gumulya
FOTO: DOK PRIBADI


