Meski masih terus dipelajari dan dikembangkan, namun penggunaan enzim telomerase diharapkan menjadi bintang baru di dunia anti aging. Enzim tersebut ditemukan oleh Carol W. Greider, Profesor di Departemen Biologi Molekuler dan Genetika di Johns Hopkins University School od Medicine, Baltimore, Amerika Serikat. Greider bekerja sama memecahkan teka teki enzim tersebut dengan 3 rekannya yaitu Elizabeth Blacburn, Jack W Szostak, dan Alexander Rich.
Setelah melakukan penelitian selama bertahun-tahun, mereka menemukan telomere (dalam bahasa Yunani berarti ujung), rantai unik DNA yang bertanggung jawab terhadap terjadinya penuaan sel. Telomere digambarkan sebagai ujung tali sepatu untuk mencegah serabut benang tali sepatu berantakan. Dengan penemuan tersebut, mereka menemukan enzim telomerase yang dapat memperpanjang DNA telomere untuk menyalin seluruh kromosom tanpa kehilangan bagian terujungnya.
Penemuan mereka menjelaskan, jika telomere memendek, sel pun akan menua. Sebaliknya, jika telomere mulai meninggi, panjang telomere pun akan tidak berubah dan penuaan sel tertunda. Jadi, enzim telomerase memungkinkan sel untuk membelah diri pada batas yang dikehendaki yang membuat seseorang dapat awet muda.
Meski demikian, perawatan telomere masih memerlukan perawatan berlanjut agar tidak memicu timbulnya masalah kulit baru. (f)


