Sudah menjadi hal wajar, semua ibu baru akan rajin post foto-foto anaknya di media sosial. Data dari popphoto.com, tiap menitnya ada sekitar 27.800 foto yang diunggah ke Instagram dan 208.000 foto diunggah ke Facebook. Mungkin Anda juga pernah melihat wall teman Anda di facebook, yang menampilkan gambar bayi menggemaskan, yang diikutkan lomba.
Selain kuis-kuis dan vote, bukan hal yang aneh pula ibu-ibu millennial gemar memamerkan foto anaknya di media sosial. Pilihannya kini makin beragam, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest, hingga Path. Dari pilihan itu, Facebook media terfavorit masyarakat Indonesia, berada di urutan ke-3 pengguna terbanyak di dunia, dengan 51,5 juta pengguna di tahun 2014!
Menurut Donny Budhi Utoyo, Direktur Eksekutif ICT Watch dan pegiat Internet Sehat, fenomena ibu-ibu ‘paparazzi’ memotret anaknya sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ia melihat sendiri, ketika delapan tahun yang lalu saat ia bekerja di suatu portal berita nasional, ia dan timnya merancang suatu program yang memfasilitasi ibu-ibu muda untuk mengirimkan foto balitanya. Dan, bisa ditebak, portalnya kebanjiran foto-foto anak. “Ibu-ibu millennial, terutama yang baru memiliki anak pertama, kecenderungan sifat narsisnya besar. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya dipuji orang lain?” ujar Donny.
Dahulu, mediumnya masih terbatas di koran atau majalah, sehingga ketika anaknya menang dan dimuat, para ibu tersebut harus mengajak orang lain membeli majalah. “Sekarang, seorang ibu bisa menyebarkan foto anaknya di internet ke seluruh teman di media sosialnya dengan sangat mudah dan cepat,” jelasnya.
Dengan adanya internet, mengunggah foto dan diikutkan lomba menjadi lebih mudah, platform-nya makin gampang karena banyaknya media sosial.
Fenomena ini ditangkap pula oleh banyak produsen ataupun event organizer untuk menyelenggarakan kompetisi foto anak. Dari yang berhadiah puluhan juta hingga voucher pulsa puluhan ribu rupiah.
Menanggapi fenomena tersebut, Nessi Purnomo P.si, M.Si, psikolog anak dan keluarga di Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta, munculnya lomba-lomba foto anak tersebut karena ada kebutuhan orang tua untuk mendapatkan pengakuan-pengakuan dari orang lain bahwa anaknya lucu dan berprestasi.
“Saya punya pertanyaan, kalau bisa memperlihatkan foto anak ke orang lain, lalu apa? Orang tua mengikutsertakan anak ikut lomba foto, untuk apa? Ada sebagian orang tua yang haus eksistensi dengan mengikutkan anaknya lomba yang sebenarnya belum jelas tujuannya,” ujar Nessi.
Jika anak berhasil menang suatu lomba foto dan dianggap hebat, orang tualah yang mendapat pujian. “Poinnya, ada kecenderungan narsis dalam diri orang tua yang mungkin masanya sudah lewat. Maka, dengan mengikutsertakan anaknya di berbagai lomba, ia ingin orang lain tahu eksistensinya,” ujar Nessi. (f)


