Celebrity
Metamorfosis Diri Reza Rahadian

15 Oct 2015

Ucapan sutradara Hanung Bramantyo bahwa ia aktor yang terus bertumbuh, bukan omong kosong. Hal ini disadari betul oleh Reza Rahadian. “Selama saya bekerja, saya banyak belajar dan berkontemplasi. Saya ingin tingkat kedewasaan saya sebagai aktor meningkat. Makin ke sini permainan saya harus makin matang dan makin halus,” jelasnya.

Memang, dia sangat kritis terhadap permainannya sendiri dan memasang standar yang cukup tinggi untuk dirinya, lawan mainnya, maupun pekerja film yang bekerja sama dengannya. “Dia sangat perfeksionis dan tahu apa yang ia mau,” ungkap Christine Hakim, yang femina temui di sela-sela pemutaran film Guru Bangsa Tjokroaminoto dalam movie marathon 10 Years Persona(L) Journey of Reza Rahadian.
   
Dalam  tiap film dan pekerjaan apa pun, Reza tidak segan-segan menyampaikan aspirasi dan ekspektasinya atas pekerjaan tersebut kepada lawan main, sutradara, produser, DOP (director of photography), maupun kru yang bekerja bersamanya. Hal tersebut tak jarang membuatnya terkesan annoying dan ‘tukang ngatur’. Christine pun pernah jadi ‘korban’ sifat perfeksionis Reza. “Saya pernah kena marah di backstage sebuah acara di Palembang tahun lalu,” celetuknya, tertawa. Namun, Christine menambahkan, Reza sebetulnya tidak marah. Ia hanya berusaha menegaskan keinginannya. Hal tersebut dilakukannya semata-mata untuk menghasilkan yang terbaik.
   
Acha pun menambahkan bahwa meskipun perfeksionis, Reza juga realistis. “Ketika dihadapkan dengan banyak scene, ia kerap hanya ingin efisien. Dia tidak suka ketika syuting terlalu banyak yang ditunggu, misalnya menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyiapkan set dan diskusi. Kalau sudah begitu, dia pasti akan ngomel. Tapi, ketika berakting dengan saya, so far kami malah sangat enjoy karena sama-sama perfeksionis,” jelas aktris yang Reza sebut sebagai lawan main favoritnya ini.
   
Etos kerja Reza ini tak lain adalah buah dari pola asuh dan didik ibunya, Pratiwi Widantini Matulessy. Reza ingat betul salah satu nasihat terbaik ibunya, jika ia ingin memiliki hidup lebih baik, ia harus menjadi yang terbaik dan bekerja ekstra keras. Pesan itu ia pegang betul. Seperti pesan Habibie kepadanya, menjadi nomor satu itu mudah. Namun, bagaimana menjaga untuk selalu menjadi nomor satu adalah yang tersulit.
   
Kini, Reza tidak ngoyo untuk selalu menjadi juara. Pernah merasakan menang, ia juga harus merasakan kalah. “Mas Slamet Rahardjo yang mengingatkan saya bahwa tidak mudah belajar untuk kalah. Katanya, ‘Kamu sudah menunjukkan sebagai yang terbaik di generasi kamu, tapi kalau masalah menang kalah, itu sudah urusan lainnya. Juri juga punya selera. You’ve always won, right? Now, you have to learn to loose.’ Saya setuju dengan itu,” kenangnya.
   
Kariernya sebagai aktor tak lagi sempurna. Namun, tak mengapa. Karena baginya, kesempurnaan justru dapat merusak segalanya. “Saya ingin hidup saya justru tidak sempurna. Karena, saya butuh itu sebagai seorang aktor. Ketika hidup menjadi begitu sempurna, saya kehilangan soul sebagai seorang aktor. Ketika hidup menjadi too good to be true, then… I’m doomed. Saya tidak akan bisa lagi merasakan gejolak dan gairah,” ungkap Reza, yang mengaku pernah berada di titik itu usai film Habibie & Ainun. Akhirnya, ia memutuskan untuk rehat dari berakting selama 1,5 tahun.
   
Kini, piala-pialanya ia simpan rapi di dalam satu kotak di dalam lemari. Tak ada satu pun yang dipajang. “Saya pernah menjadi orang yang sangat emosional dan begitu mudah meledak-ledak. Saya pernah menjadi orang yang memasang topeng tebal dan memasang tembok tinggi. Semua itu karena tekanan bahwa saya ingin menjadi yang terbaik demi menyenangkan orang-orang lain,” jelasnya.
   
Ia pun ingin menjernihkan semuanya. Ia hanya ingin bekerja untuk passion, rasa, dan kebutuhan untuk menyampaikan semua kegelisahan yang ia rasakan. “Jika kemudian saya mendapat penghargaan, itu adalah bonus. Yang terpenting, ketika saya bekerja, saya hanya ingin jujur terhadap diri sendiri,” tuturnya.
Sekarang, ia memiliki definisi baru tentang sukses. “Saya hanya ingin merasa happy. Itu juga sukses, ‘kan? Dan saya merasa bahagia ketika saya bisa menyentuh hati orang banyak melalui akting saya, ketika mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan. Itu adalah salah satu saat yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Jadi, this is the new beginning of Reza Rahadian,” ujarnya, tersenyum.
   
Seperti yang juga Acha katakan tentang Reza. “Menurut saya, ia sangat berbakat. Namun, ketika ia lelah dan merasa banyak tantangan, saya berharap ia tetap bisa mengendalikan energi positifnya yang terlalu besar dan tetap menjejakkan kakinya di bumi. Tak banyak orang di industri ini yang begitu tulus mencintai profesinya,” ungkap Acha, sembari menuturkan rasa bangga terhadap ‘suami’-nya dalam film Test Pack, I’m Your Baby ini. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?