Cangkir kopi kedua sudah dipesan, hari makin sore di Kunstkring Bread & Coffee Corner ketika perbincangan femina dan Arifin Putra mulai mengarah ke topik yang agak serius. Misal, rencana ke depan kariernya di dunia akting. “Saya ingin bermain film dengan cerita yang memiliki konteks lokal Indonesia, tapi bisa diterima oleh masyarakat internasional. Ternyata yang seperti itu yang sedang dicari di luar sana. Tapi memang belum banyak yang bisa membuatnya,” cetus Arifin. Katanya, hal ini ia pelajari dari pengalamannya menjadi cameo dalam film pertama Brunei Darussalam yang laku di pasar internasional, yaitu Yasmine (2014).
Atau, minat terpendamnya pada dunia bisnis dan hobinya membaca majalah-majalah finance. Ternyata, Arifin punya passion tersembunyi untuk berbagi tip tentang financial planning dari kacamata orang awam. “Saat ini saya sedang mencoba-coba menulis tip-tip keuangan. Ringan-ringan saja. Tapi saya belum tahu siapa yang mau menerbitkan,” ujar Arifin.
Selain itu, ia juga sedang merintis usaha bersama Ferdi Soelaiman, yaitu sebuah production house bernama Lingkarmera. “Sekarang makin banyak website yang membutuhkan konten video, jadi kami berusaha untuk memenuhinya,” ujar Arifin, yang berlaku sebagai produser di sana. PH yang ia mulai tahun 2011 ini tampaknya akan menjadi awal dari rencana jangka panjang Arifin untuk menjadi seorang pebisnis.
Ingin ngobrol yang lebih santai, mata femina tertuju pada koper besar berisi pakaian yang dibawa Arifin dan asistennya. Padahal, ia hanya diminta untuk membawa satu pakaian alternatif untuk pemotretan kali ini. “Harap maklum, kami memang selalu penuh persiapan,” ujar pencinta watersports itu.
Belakangan Arifin sering muncul di berbagai halaman mode pria, mengenakan baju-baju desainer yang paling gaya. Tapi ternyata, ia justru mengaku tidak begitu fashionable. “Makanya kalau difoto untuk fashion dan disuruh pakai apa pun, saya terima nasib saja,” candanya.
Yang jelas, sejak popularitasnya terus menanjak, Arifin mengaku tidak bisa berpakaian sembarangan. “Sudah lama saya seperti didoktrin tidak boleh keluar rumah hanya memakai celana pendek atau sandal jepit. Karena rasanya kurang representatif kalau tiba-tiba ketemu orang yang minta foto bareng lalu di-post di media sosial,” ujarnya.
Sebelum mengakhiri sesi wawancara dan beranjak untuk mencari beberapa spot di Kunstkring yang cocok untuk pemotretan, femina menghadiahi Arifin majalah dengan sampul Tara Basro. Melihat wajah kekasihnya itu di sampul majalah, ia tak berkomentar banyak. Hanya, “Oh, hello,” katanya, sambil tersenyum penuh arti.
PRIMARITA S. SMITA


