Di kota mana pun, dataran tinggi selalu menarik, terutama pemandangan alamnya. Redaktur Senior femina, Ficky Yusrini, menuangkan pengalamannya mengunjungi dataran tinggi Dieng. Hujan deras menyambut kedatangan saya di Dieng. Dikelilingi perbukitan dan pegunungan, dataran yang berada di ketinggian 2.093 meter dari permukaan laut ini, menyimpan kenangan indah ketika saya mengunjunginya semasa remaja dulu. Sore itu, dari kaca mobil, perkebunan kentang tampak samar-samar menyembul di antara hamparan kabut. Jalanan seperti diselimuti ‘awan’. Sebuah perjalanan menantang sudah menanti.
Tak sulit mencari penginapan. Begitu memasuki pertigaan Dieng, penginapan berjejer di sepanjang jalan. Memang tidak ada hotel berbintang, rata-rata berupa rumah penduduk yang disulap menjadi homestay dengan tarif berkisar antara Rp75.000-Rp350.000. Jangan khawatir dengan dinginnya air, semua penginapan biasanya sudah menyediakan setelan air panas. Saya sudah melakukan reservasi di homestay bernama Lestari, yang terletak persis di perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara (objek wisata Dieng terbagi menjadi dua wilayah: Wonosobo dan Banjarnegara).
Pemiliknya, Pak Yanto, penduduk asli Dieng. Menginap di rumahnya berasa seperti menginap di rumah kerabat. Ia memperlakukan saya yang datang bersama keluarga, dengan penuh keramahan. Dari interaksi dengan Pak Yanto dan keluarganya, saya jadi tahu kebiasaan warga setempat.
Semua aktivitas berpusat di tungku dapur, baik itu makan, ngobrol, hingga bersantai, dari pagi hingga malam. Sementara, ruang tamu hanya diperuntukkan bagi tamu. Itu karena hawa di sana memang sangat dingin. Tungku itu sekaligus berfungsi menghangatkan badan. Saya sempat iri, ingin ikutan nimbrung dengan mereka, duduk-duduk di dekat tungku. Di dalam rumah saja dinginnya luar biasa. Saking dinginnya, baju dari dalam koper terasa dingin, seperti baru dikeluarkan dari kulkas!
Malam pertama, rasanya sudah tak sabar untuk jalan-jalan. Meski hujan rintik-rintik, saya keluar untuk mencari makan. Tapi, kabut yang turun benar-benar tebal. Jalanan tampak gelap gulita dan jarak pandang hanya tiga meter. Belum lagi dinginnya menggigit. Namanya baru kali itu melihat kabut, anak saya, Pilar (4), justru kegirangan, mengajak bermain tebak-tebakan, ada apa di depan sana. Ia juga senang sekali, karena setiap kali berbicara, keluar asap dari mulutnya. (f)
Yang membedakan Dieng dari dataran tinggi lain di Indonesia, tempat ini menyimpan jejak sejarah panjang, baik alam maupun spiritual. Keindahan fisik Dieng dengan adanya titik-titik kawah dan telaga-telaga, terjadi akibat letusan gunung berapi yang terjadi dua juta tahun silam. Dari sisi spiritual, di Dieng terdapat candi-candi yang berusia lebih dari seribu tahun, termasuk salah satu candi Hindu tertua di Jawa.
Saya membayangkan, Dieng dulunya pasti indah sekali. Karena, pernah menjadi tempat peristirahatan raja-raja pada masa Kerajaan Mataram kuno pada abad ke-8, dan dipercaya menjadi tempat favorit para dewa. Dari asal katanya saja, di yang berarti gunung, dan hyang yang berarti dewa, bisa diartikan bahwa Dieng berarti gunung tempat tinggal dewa.
Menurut sejarah, ada 22 naskah Jawa kuno bercerita tentang Dieng sebagai pusat kegiatan keagamaan. Sisa-sisa ‘kebesaran’ masa lalu ini saya temukan saat menginjakkan kaki di kompleks Candi Arjuna. Di sebelahnya, berjajar Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Kompleks Candi Arjuna diperkirakan dibangun pada 809 M. Meski tak semegah Prambanan, di area ini terdapat 19 candi, namun hanya 8 yang masih berdiri.
Hari itu, candi ramai dikunjungi oleh beberapa rombongan turis asing. Dari bahasanya, saya menebak, ada rombongan Korea, Jerman, dan oma-opa Belanda. Taman yang ditata cantik dihias bunga-bunga kecubung berukuran besar, membuat saya betah berlama-lama di sini.
Berjalan kaki 10 menit, sampailah saya di Museum Kailasa. Nama Kailasa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sebuah gunung indah di atas awan. Berbagai informasi berharga tentang situasi Dieng pada masa lalu terangkum di museum yang baru diresmikan tahun 2008 lalu ini. Tersimpan pula ratusan koleksi arca bersejarah, salah satunya arca Siwa berkepala tiga yang sering disebut dengan Siwa Trisirah. (f)
Tempat paling romantis di Dieng adalah Telaga Warna. Telaga dengan airnya yang berwarna hijau muda kebiruan, dan ungu pada tepinya ini, dikelilingi pepohonan yang rindang. Toha, pemandu saya, mengajak ke spot terbaik untuk menikmati danau ini. Dari sini, saya bisa memandangi telaga di sebelah Telaga Warna, yakni Telaga Pengilon, yang airnya sangat jernih, sampai-sampai bisa untuk bercermin. Spot ini beberapa kali menjadi tempat syuting videoklip. Salah satunya lagu Kupinta Kembali yang dilantunkan Katon Bagaskara. “Untung hari ini cerah. Soalnya, selama seminggu penuh Dieng masih berkabut tebal, Mbak!” kata Toha.
Dari Toha, saya mendapat banyak cerita, telaga ini menjadi tempat digelarnya upacara melarung rambut gimbal. Ada anak-anak di daerah ini yang berambut gimbal. Para orang tua yang memiliki anak dengan ciri tersebut harus menuruti segala permintaan anak. Untuk menghindari petaka, biasanya diadakan ruwatan dengan cara mencukur rambut gimbal anak tersebut.
Toha juga bercerita tentang beberapa gua di telaga itu, yang menjadi destinasi favorit untuk bermeditasi. Biasanya, meditasi hanya bisa dilakukan dengan menghubungi kuncen atau juru kunci. Sampai sekarang banyak orang yang memercayai bahwa Dieng memiliki kekuatan mistik.
Gua itu kecil dan lembap sekali, dan sepertinya masih jauh masuk ke dalam. Saya penasaran, bagaimana bisa orang tahan berlama-lama di dalamnya, ada yang sampai 40 hari pula! Nggak mungkin kan mereka meditasi sambil membawa bekal ke dalam gua. Kalau saya, mungkin baru lima menit saja kaki sudah kesemutan bukan main.
Keindahan Dieng yang lain adalah adanya kawah-kawah vulkanik. Menuju Kawah Sikidang, saya berjalan kaki melewati bukit berkapur. Melewati sebuah sungai kecil yang berair sangat jernih, anehnya, saya juga menjumpai beberapa titik yang mengeluarkan air panas tak jauh dari kawah itu. Kawahnya muncul berpindah-pindah, makanya disebut sikidang yang berarti kijang, yang suka melompat-lompat. Makanya, lubang-lubang bekas kawah terdapat di mana-mana. Kawah terbesar berbentuk seperti kolam, dengan air berwarna keabu-abuan yang menggelegak dan mengeluarkan asap tebal. Berjarak hanya satu meter dari kolam, saya seperti sedang berdiri tepat di atas dapur magma di dalam perut bumi. Dapur magma ini masih aktif, menghasilkan panas dan energi dengan tekanan sangat kuat.
Sewaktu di Kawah Sileri, Pilar malah asyik memunguti kentang yang tengah dipanen. Lumayan, dia jadi tahu, bahwa kentang asalnya ditanam di dalam tanah, bukan dari kulkas atau supermarket. Kawah Sileri terletak di tengah perkebunan kentang. Tak jauh dari situ, jalanan ditutup. Sebab, di daerah itu, ada Kawah Sinila yang dianggap berbahaya, berpotensi mengeluarkan gas beracun dan beberapa tahun lalu pernah memakan korban. (f)
Menurut laman www.travbuddy.com, salah satu hal yang tak boleh dilewatkan di Dieng adalah menyaksikan matahari terbit dari Gunung Cikunir. Di luar dugaan saya, paket tur yang saya ambil sudah termasuk trekking ke Gunung Cikunir. Malam harinya Toha berpesan, “Nanti kita intip dulu. Kalau gerimis dan berkabut, terpaksa batal.”
Pukul 04.30 dini hari, saya dan suami sudah bersiap-siap. Untunglah, gerimis tak turun. Perjalanan naik mobil sampai ke Desa Sembungan, hanya sekitar 10 menit. Dari situlah, trekking dimulai. Dini hari itu dinginnya mencapai 6 derajat Celcius. Kata Toha, jika musim panas, malah bisa sampai 0 derajat Celcius. Jalannya menanjak dan curam. Di sisi jalan, terlihat jurang menganga. Ini, sih, trekking beneran. Tapi, untuk sampai ke puncak hanya butuh waktu 15 menit atau 20 menit, jika jalan santai.
Di puncak gunung yang tingginya 2.500 meter di atas permukaan laut, sudah ada rombongan lain yang tiba lebih dulu. Mereka siap dengan peralatan kamera canggih dan tripod, sementara saya hanya berbekal kamera pocket yang teknologinya sudah agak ketinggalan. Tapi, nggak apa-apalah. Yang penting kan pengalamannya.
Rasanya, seperti berada di negeri awan, karena di bawah dikelilingi kabut yang terlihat seperti gulungan awan. Gunung Sindoro tampak menjulang paling besar di antara gunung-gunung lain di sekitarnya. Segumpal kabut lurus horizontal menutupi sisinya. Semburat warna kuning dan merah menandakan matahari perlahan muncul. Dari kejauhan sungguh tampak indah.
Tetangga Gunung Sindoro adalah Merapi. Ketika bencana Merapi meletus kemarin, Dieng sempat ‘gelap gulita’ tertutup kabut berhari-hari. Lagi-lagi, saya merasa sedang beruntung. (f)
1. Dari Jakarta, bisa naik pesawat jurusan Yogyakarta, lalu menggunakan jasa travel jurusan Wonosobo atau Dieng. Bisa juga melalui jalan darat, naik bus jurusan Jakarta-Wonosobo, kurang lebih 13 jam.
2. Soal penginapan, tanpa reservasi lebih enak. Karena, bisa melihat langsung tempat yang paling sesuai selera. Kecuali pada musim liburan bulan Juni-Juli, biasanya semua homestay sudah penuh. Untuk info tur, sewa mobil, dan guide, biasanya disediakan oleh pihak penginapan. Satu paket sudah mencakup kunjungan ke dua zona tempat wisata, biayanya kurang lebih Rp400.000.
3. Oleh-oleh khas Dieng adalah kentang dan olahannya, manisan buah carica dan purwaceng (minuman herba yang khasiatnya setara ginseng). Bagi pencinta teh, jangan lupa membeli teh dari perkebunan teh Tembi.
4. Masih banyak tempat lain yang menarik dikunjungi di Dieng. Jangan lewatkan pula pemandian air panas di Desa Kalianget dan Desa Siglagah, Sumur Jalatunda, Air terjun Sikarim, Air terjun Sikopel, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Menjer, agrowisata perkebunan teh Tembi, dan pasar tradisional Batur.
Foto: Fic


