Menarik sekali menyimak dinamika wanita karier di dunia profesional. Dalam hal jumlah, terjadi keseimbangan antara angkatan kerja pria dan wanita. Begitu sampai tingkat manajerial jumlahnya merosot menjadi 20%, dan hanya menyisakan 5% wanita saja di tingkatan CEO.
Sementara itu, karena alasan keluarga dan fleksibilitas waktu, 72% wanita karier memilih untuk berhenti bekerja. Bahkan, 40% di antaranya memutuskan keluar di awal karier. Padahal, wanita yang memegang posisi pemimpin di sebuah perusahaan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kinerja perusahaan.
Hasil studi lembaga konsultan internasional McKinsey ini terungkap dalam seminar Unleashing Women Leadership, yang berlangsung Kamis (10/5) lalu di Ballroom Hotel Fourseason, Jakarta. “Beranilah menghadapi rasa takut. Wanita punya potensi. Dan yakinlah kita akan sampai pada tujuan,” kata Mari Elka Pangestu, dalam sambutannya. Menurutnya, kemampuan multitasking akan menjadikan wanita pemimpin yang baik.
Svida Alisyahbana, CEO Femina Group, pada kesempatan yang sama menyampaikan tentang pentingnya wanita mengubah mindset dengan cara lebih menyadari bahwa dirinya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menjadi seorang pemimpin di tempat bekerja. “Saatnya kita menjadi mentor dan panutan bagi orang-orang yang kita sayangi,” kata Svida.
Unleashing Women Leadership in Indonesia menyuarakan aspirasi wanita tentang minimnya kesempatan wanita di posisi puncak. Harapannya, hasil studi ini bisa mendorong wanita untuk lebih berani menggapai posisi puncak. Dalam acara tersebut hadir pula Melli Darsa (Managing Partner of Melli Darsa), Rosmiati Salihin (Deputy CEO Bank Panin), dan Philia Wibowo (Partner in McKinsey & Company Indonesia), membagikan pengalaman mereka. (FLW/FOTO: BOBO)


