
Segala bentuk kengerian itu tentu tidak akan menjadi tontonan yang nikmat dipandang mata tanpa pengarahan sinematografi yang artistik. Hal itu pulalah yang membuat The Walking Dead dinominasikan sebagai Best Television Series Drama di Golden Globe Awards dan Best New Series di Writers Guild of America Awards tahun 2011. Serial ini pun disebut sebagai salah satu dari 10 program televisi terbaik versi American Film Institute Awards 2010. (Baca: Tren Film Horor)
Sementara, American Horror History dinominasikan meraih Emmy Awards untuk kategori Outstanding Writing for a Miniseries, Movie, or Dramatic Special (2014), Outstanding Directing for a Miniseries, Movie, or Dramatic Special (2015), serta Outstanding Art Direction for a Miniseries or Movie (2012 – 2014). Tak hanya itu, American Horror Story: Asylum bahkan berhasil memenangkan GLAAD Media Awards 2013 sebagai Outstanding TV Movie or Mini-Series.
Yang terbaru, American Horror Story: Hotel mendapatkan nominasi Golden Globe 2016 sebagai Best Television dan Best Performance by an Actress in a Limited Series or Motion Picture Made for Television. Bisa dibilang, The Walking Dead dan American Horror Story yang membuat serial horor lainnya ‘tertangkap’ oleh radar ajang-ajang penghargaan bergengsi.
Sejak saat itu, serial-serial horor lainnya pun langganan dinominasikan dalam berbagai kategori. Sebut saja Mads Mikkelsen, pemeran Dr. Hannibal Lecter dalam The Hannibal, yang dinominasikan sebagai Best Actor in Television Series Drama pada Satelite Awards 2015. Serialnya pun mendapat nominasi Best Television Series – Drama dalam ajang itu. Satelite Awards adalah penghargaan yang diberikan untuk film, acara televisi, dan aktor terbaik pilihan International Press Association.
Namun, terlepas dari ide cerita yang dramatis hingga eksekusi artistik yang optimal, ada alasan psikologis penonton yang membuat serial televisi berbau horor begitu digemari. Dalam artikel yang dimuat di atlantic.com, Dr. Margee Kerr, dosen sosiologi di Robert Morris University dan Chatham University, Amerika Serikat, mengatakan bahwa menyukai hal-hal yang menakutkan seperti serial drama horor bukan semata-mata pilihan personal individu, tapi erat kaitannya dengan unsur kimiawi otak. (Baca: Candu Film Horor)
Menurut David H. Zald, psikolog dan psikiater dari Vanderbilt University, respons kimiawi manusia terhadap situasi menegangkan berbeda-beda. Dopamin adalah salah satu hormon utama yang dilepaskan otak ketika berada di situasi menegangkan atau menakutkan. Namun, hormon dopamin yang dihasilkan otak pada beberapa orang mungkin lebih banyak dibandingkan yang lainnya, sehingga mereka bisa lebih menikmati situasi menegangkan dan menakutkan dibandingkan yang lainnya.
Margee menambahkan, bagi sebagian orang, berhasil dan berani menghadapi rasa takut itu dapat menambah rasa kepercayaan diri. Ingat ketika Anda masuk rumah hantu dan harus berjalan di lorong-lorong gelapnya yang menyimpan kejutan makhluk-makhluk mengerikan buatan? Setelah berhasil melalui itu semua, Anda biasanya akan merasa sangat lega dan mungkin berkata, “Wah, ternyata saya berani juga, ya!”
Secara psikologis, meski kesannya sederhana, hal itu bisa mendongkrak rasa percaya diri Anda bahwa Anda mampu melakukan hal yang sebelumnya Anda pikir tak mungkin. Meski begitu, untuk benar-benar menikmati situasi mengerikan itu, seseorang perlu mendapat suntikan rasa aman pula, misalnya dengan berada di tempat yang familiar dan menenangkan. Dengan begitu, aliran hormon dopamin, adrenalin, dan endorfin yang muncul pun dapat bertransformasi menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Selain itu, apa yang menakutkan bagi tiap orang pun berbeda-beda, dipengaruhi pengalaman personal, lingkungan sosial, dan persepsi masyarakat terhadap rasa takut atau mengerikan. Misalnya, bagi kita orang Indonesia tentu akan lebih menakutkan menonton film yang menghadirkan hantu-hantu Indonesia ketimbang menyaksikan film tentang vampir.
Menonton serial Halfworlds mungkin akan menimbulkan efek merinding lebih dahsyat bagi kita ketimbang menonton The Walking Dead, The Hannibal, atau Supernatural. Walaupun para dedemit di serial itu ditampilkan cantik dan tampan, tetap saja namanya kuntilanak, gendoruwo, dan tuyul.
Namun, pakar marketing dari University of California, Eduardo B. Andrade, dan University of Florida, Joel B. Cohen, memiliki perspektif menarik. Menurut keduanya, dalam artikel yang diterbitkan University of Chicago Press Journal, meningkatnya popularitas dan kegemaran orang menonton tayangan horor disebabkan mayoritas oleh kemasan serial maupun film drama horor.
Seperti sudah dibahas sebelumnya, serial drama horor kini berhasil mengemas teror dalam balutan drama dan sajian yang artistik. “Pendekatan dramatis ala novel memungkinkan penonton mengalami emosi positif dan negatif secara bersamaan. Jadi, mereka mungkin menikmati rasa takut dan tak sekadar merasa lega ketika bagian menegangkannya selesai. Bagian paling menyenangkan bagi mereka mungkin justru yang paling menakutkan,” ujar Eduardo dan Joel. (f)


