Trending Topic
Manfaatkan Teknologi untuk Orang Tua

1 Jan 2016

Wajar jika orang tua juga merasa ingin dan perlu mempelajari teknologi informasi. Selain untuk berkomunikasi, orang tua yang masih aktif bekerja pun menghadapi tuntutan untuk meng-update kemampuannya di bidang teknologi guna memperlancar pekerjaan.
   
Lebih dari itu, orang tua yang  makin kecil lingkup pergaulannya  akan mendapat manfaat sosial. Kecanggihan teknologi yang memungkinkan orang tua bertatap muka dengan anak dan cucunya yang berada jauh di lain kota atau seberang samudra, juga memberi ‘nutrisi’ bagi jiwa para orang tua.

Menurut dr. Purwita Wijaya Laksmi, SpPD, KGer, dokter dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, teknologi bisa meningkatkan keamanan diri, meningkatkan kemandirian, dan mengurangi beban keluarga atau perawat (care giver). Pengaruh keluarga atau teman, seperti adanya teman sebaya yang memakai teknologi tersebut, berdampak positif pada penerimaan terhadap teknologi.
    
Teknologi juga bisa digunakan sebagai perangkat keamanan bahkan pengawas kesehatan. Ini yang menjadi alasan banyak orang  membekali orang tua mereka telepon genggam, seperti yang dilakukan Kania. Ia sengaja mengatur tombol atau nomor darurat sehingga ibunya bisa segera menghubunginya dengan mudah. Gadget bisa dimanfaatkan untuk mengingatkan waktu untuk mengonsumsi obat dan rutinitas lainnya.

Tentu bukan perkara mudah mengajarkan gadget kepada lansia, karena bagi mereka teknologi ini adalah barang baru yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Secara fisik, ada beberapa hal yang menurut dr. Purwita kerap membuat lansia enggan. Antara lain, sekresi air mata pada orang berusia lanjut cenderung menurun sehingga penggunaan komputer atau gadget dalam waktu lama akan makin meningkatkan terjadinya dry eyes, pancaran sinar yang terlalu silau dari gadget, kondisi kontras yang rendah, warna atau gradasi warna yang sulit dibedakan, serta tampilan ukuran huruf, icon, atau keypad di layar yang terlalu kecil. Selain itu, faktor kemampuan psikomotor mereka juga menurun sehingga mengurangi ketangkasan dalam memencet tombol atau keypad.

Menurut dr. Purwita, strategi untuk mengajarkan teknologi informasi kepada kaum usia lanjut sebaiknya dimulai dengan menjelaskan terlebih dahulu konsepnya, baru kemudian fungsinya. Kita juga perlu mengingatkan bahwa teknologi ada efek negatifnya. Misalnya, pertimbangan atau kekhawatiran tentang menampilkan hal-hal pribadi di ruang publik, dan perlunya penggunaan media sosial yang relevan untuk kebutuhan mereka.  

Anggapan adanya manfaat yang relevan untuk dirinya, misalnya, penggunaan media sosial, dapat membantu mereka memperbarui atau mengembangkan kontak sosial dan terlibat secara aktif di komunitas. Mereka juga dapat berkomunikasi sambil tetap bertatap muka, meski dengan sanak keluarga atau teman yang berada di kota atau negara lain dengan Skype, bahkan dengan biaya yang relatif murah sehingga menghindarkan diri dari perasaan isolasi sosial atau kesepian.

“Perlu diingat, proses menua tersebut, meskipun bersifat alamiah atau fisiologis,   berbeda-beda pada tiap dividu, baik dalam hal laju kecepatan dan progresivitasnya, karena dipengaruhi oleh faktor genetis dan lingkungan. Kita tidak boleh dan tidak dapat menyamaratakan individu berusia lanjut dalam hal penerimaan terhadap teknologi,” ujar dr. Purwita.

Faktor usia saja tidak cukup untuk memprediksi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Semuanya kembali  pada kapasitas fungsional individu tersebut, baik dalam aspek fisik maupun psikologis serta faktor-faktor yang berpengaruh pada penerimaan teknologi, seperti karakteristik individu yang dipengaruhi latar belakang budaya, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, wilayah tempat tinggal (perkotaan atau pedesaan), pengenalan pada teknologi elektronik, dan keinginan untuk tetap mandiri dalam berbagai aktivitas hidup sehari-hari di komunitas. (f)

Baca Juga:

Orang Tua Belajar Internet
Mengajari Lansia Berinternet


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?