Kesibukan Anda saat ini?
Sedang post produksi untuk film keempat saya berjudul Jingga. Film yang rencananya akan rilis tahun depan ini berkisah tentang anak-anak tunanetra di sekolah luar biasa (SLB). Setelah melakukan riset selama hampir satu tahun tentang kehidupan penyandang tunanetra, saya tertarik untuk mengangkat kisah hidup mereka. Kebanyakan tunanetra pada akhirnya bekerja sebagai tukang pijat, padahal mereka memiliki potensi yang besar. Selain itu, saya ingin memperlihatkan bahwa menjadi tunanetra bukan akhir dari segalanya. Film ini memiliki tokoh fiksi, tapi cerita yang diangkat berasal dari pengalaman nyata.
Kalau dilihat, film Anda selalu sarat tema sosial, ya?
Sejak film pertama, Betina (2005), lalu Minggu Pagi di Victoria, Negeri Tanpa Telinga, hingga yang terbaru ini, Jingga, saya memang tidak bisa lepas dari isu sosial. Mungkin karena tiap hari, tiap bangun pagi yang tertangkap oleh saya adalah masalah-masalah sosial. Mulai dari acara televisi hingga kehidupan nyata, semua mengungkap masalah sosial yang ada di sekeliling kita. Sebenarnya, saya sempat ingin membuat film bergenre komedi yang ringan saat membuat Negeri Tanpa Telinga, tapi ujung-ujungnya film ini menjadi lebih satir.
Kenapa akhirnya jadi sutradara?
Passion saya memang di film, mau jadi pemain ataupun sutradara, sama senangnya. Bisa dibilang ini adalah dunia yang butuh kerja tim. Sebagai sutradara, saya sudah pasti harus dapat mengatur sebuah tim.
Benarkah Wajah Femina melancarkan karier Anda?
Bisa dibilang begitu. Saat mengikuti WF, saya tidak mengerti apa pun tentang dunia entertainment, benar-benar nol. Apa itu make up atau tampil stylish, saya tidak punya pengalaman akan hal itu. Di WF, saya belajar semua itu, hingga akhirnya benar-benar terjun di dunia modeling dan entertainment. Rasanya, kesempatan untuk mengenal dunia fotomodel yang membutuhkan kerja sama dengan fotografer dan stylist, membantu pekerjaan saya kini yang membutuhkan kerja sama tim yang baik.
Mengapa tertarik ikut pemilihan Wajah Femina?
Berangkat dari iseng. Setelah membaca tentang pemilihan Wajah Femina di majalah yang tagline-nya wanita Indonesia, saya jadi penasaran. Wajah saya kan cukup Indonesia. Akhirnya saya putuskan mendaftar sendiri, tapi tidak memberi tahu siapa-siapa. Sampai akhirnya masuk menjadi finalis, baru saya bilang kepada orang tua.
Pengalaman karantina WF tak terlupakan?
Selalu ditegur oleh Mas Denny Malik saat latihan jalan, karena cara berjalan saya yang katanya seperti robot.


