Sebelum merencanakan kehamilan, calon ibu sebaiknya telah mempersiapkan tubuhnya dengan mengonsumsi asupan yang bergizi. Salah satu asupan penting (untuk perkembangan otak dan sistem saraf janin serta ibu terhindar anemia) adalah asam folat yang banyak terdapat dalam sayuran berwarna hijau dan buah-buahan berwarna jingga atau merah. Bahkan, menurut Dr. dr. H. Taufik Jamaan, SpOG dari klinik Pacific Healthcare Indonesia dan Rumah Sakit Bunda, bobot tubuh sebelum hamil juga tak boleh terlalu kurus karena hormon yang dibutuhkan dalam kehamilan dibentuk dari asam lemak.
Walau demikian, ibu hamil tak boleh sembarangan memilih makanan. “Jauhi makanan yang bersifat alergi, mentah (misalnya sushi, telor mentah), terlalu pedas atau asam (menyebabkan kontraksi), kambing dan durian (bersifat panas dalam darah), jamu-jamuan, serta soda dan kopi (mengurangi aliran darah ke rahim).
Selain itu, perlu juga dilakukan medical check-up sebelum hamil untuk mengetahui apakah ada infeksi kelamin, virus TORCH (toksoplama, rubella, herpes) dalam tubuh, kelainan darah, atau keputihan yang bisa mengganggu kehamilan. Virus tokso banyak dibawa oleh hewan peliharaan seperti kucing, anjing, dan burung. Untuk mengurangi risiko keguguran, sebaiknya wanita hamil menjauhi binatang yang bertindak sebagai carrier virus jahat bagi janin tersebut, dan mengobati keputihannya dulu sebelum hamil.
Jika setelah hamil kemudian diketahui lewat proses pemeriksaan laboratorium bahwa darah ibu terlalu kental (kelainan darah), maka ia harus mengonsumsi obat pengencer darah selama masa kehamilannya. Sebab, darah yang terlalu kental bisa menghambat aliran oksigen dalam darah sehingga mengurangi pasokan makanan yang mengalir ke janin.
Wanita hamil pada trimester pertama juga disarankan untuk tidak berolahraga berat, mengangkat beban berat, naik turun-tangga, terlalu capek, dan melakukan hubungan intim. “Sebab, cairan sperma dapat merangsang kontraksi yang bisa menyebabkan keguguran,” kata Dr. dr. H. Taufik.
Reynette Fausto


