Sex & Relationship
Diskusi Perceraian Dengan Anak

5 Dec 2012



Anda dan suami  memutuskan untuk berpisah baik-baik dan sedang mengurus perceraian di pengadilan. Saat ini Anda sudah memiliki teman dekat pria dan ingin mengenalkannya kepada anak. Calon mantan suami juga tidak keberatan jika Anda mengajak anak saat bertemu sang teman pria. Tetapi, apakah ini tidak akan membuat buah hati bingung? Bagaimana mendiskusikan perceraian kepada anak yang masih kecil?


Menurut Psikolog Irma Makarim, walaupun perpisahan Anda dan suami dilakukan secara baik-baik, tetap perlu  pengungkapan yang bijak, pada waktu dan suasana yang tepat, dan disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami anak sesuai usianya. Anda berdua perlu jujur kepada anak, termasuk alasan yang masuk akal baginya mengapa Anda berdua mengambil keputusan berpisah.

Anda berdua harus bisa meyakinkan anak bahwa dengan perceraian orang tua bukan berarti  perpisahan antara anak  dengan ayah- ibunya. Ini bukan sekadar kata-kata, tetapi perlu dibuktikan. Anda dan suami sebisa mungkin tetap hadir dalam kehidupannya, walaupun mungkin tak lagi hidup bersama.

Setiap perubahan dalam keseharian akan terasa berat bagi anak, karena itu sebaiknya tidak dibarengi perubahan lain.  Anda sudah membina hubungan dengan pria lain, padahal proses perceraian belum tuntas. Ini akan membuat anak bingung. Akan lebih bijaksana bila Anda melakukannya secara bertahap dan berikan cukup waktu baginya untuk menerima  dan menjalani proses perpisahan ini dengan tenang. Jagalah hati anak Anda dan perhatikan bagaimana reaksinya. Setelah ia bisa dengan baik menghadapi semua ini, barulah Anda memperkenalkannya kepada teman pria Anda yang lain.

Perlu Anda sadari bahwa apa yang dikatakan atau yang dilakukan orang tua akan dicontoh oleh anaknya. Artinya, nilai-nilai yang Anda jalani dalam kehidupan sehari-hari akan jadi contoh bagi anak. Anda adalah panutan anak Anda dan kewajiban Andalah memindahkan nilai-nilai positif untuknya. 


Sedangkan Menurut Psikolog Monty Satiadarma, kondisi perceraian senantiasa menimbulkan rasa bingung pada anak-anak. Mereka belum mampu mencerna apa yang sesungguhnya terjadi pada kedua orang tua mereka yang tidak lagi hidup bersama. Akan timbul rasa kehilangan pada anak karena ketidakhadiran salah satu orang tua, walaupun dalam beberapa kesempatan mereka masih tetap bisa bertemu. Hilangnya rutinitas kebersamaan kerap menimbulkan kemelut perasaan seperti ditinggalkan. “Mengapa Ayah (Ibu) tidak lagi mau tinggal bersama aku?”

Kehadiran orang lain (pasangan baru) dalam kehidupan anak menimbulkan kemelut perasaan lebih lanjut. “Mengapa ia kini yang hadir dalam hidupku?”, “Apa alasannya ia menggantikan Ayah?” Ragam penjelasan rasional masih amat sulit mereka cerna, namun realitas yang ada juga sulit untuk dihindari. Cara terbaik adalah melakukan pendekatan bertahap. Artinya, tidak menggunakan waktu terlalu panjang, dari sekadar menyampaikan salam, hingga bersedia mendengarkan anak bercerita.

Tahapan proses secara rinci butuh banyak pertimbangan, termasuk mengenali kebiasaan dan minat anak. Butuh kedewasaan untuk mendengarkan anak yang tengah diliputi kemelut kehilangan. Saya anjurkan Anda menghubungi tenaga profesional untuk menghadapi masalah ini guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gejolak emosi yang lebih kompleks pada anak, kelak.(f)





 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?