Tahun 2013 ini, nama Pevita Cleo Eileen Pearce (20) makin beken setelah tampil maksimal dalam film 5 cm yang diangkat dari novel laris berjudul sama. Namun, ia tak mau berpuas diri, gadis berdarah Inggris-Banjarmasin ini pun tak mau berhenti mengasah kemampuannya berlakon.
Wajah Pevita mulai dikenal saat membintangi film pertamanya, Denias, Senandung di Atas Awan, yang rilis tahun 2006 silam. Akting naturalnya dalam cerita menyentuh di tanah pedalaman Papua bersama aktor cilik Albert Thom Joshua berhasil membawa film yang diproduseri oleh Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale tersebut masuk seleksi piala Oscar tahun 2008 dalam deretan kategori film asing terbaik.
Sejak kecil, Pevita memang sudah menunjukkan minatnya pada dunia seni. Beragam bidang telah dicicipi, mulai dari bermusik hingga melukis. Namun, pementasan drama Romeo and Juliet karya William Shakespeare-lah yang membuatnya jatuh cinta pada pilihan terakhirnya, yaitu seni peran.
Bakatnya di dunia seni sepertinya memang sudah melingkupinya sejak ia lahir, karena, bila menilik sejarah keluarganya, kakek buyutnya terkenal sebagai seorang komedian, dan kakeknya adalah musikus asal Wales, Inggris.
“Bisa dibilang, saya sudah mencintai dunia teater sejak bersekolah di SD dan SMP Al-Azhar Kemang Pratama, begitu juga saat di SMA HIGH/SCOPE Indonesia. Mengikuti pementasan teater di sekolah bertahun-tahun menyadarkan saya bahwa inilah passion saya. It feels good to do things that you love, enggak ada beban. Capek, tapi senang,” ujar gadis yang mengagumi akting Johnny Depp dan Uma Thurman ini.
Kecakapannya berakting membuahkan apresiasi dalam ajang bergengsi perfilman Indonesia maupun dunia. Tahun 2008, ia beradu peran dengan sejumlah aktris berbakat, seperti Fahrani dan Ladya Cheryl, memperebutkan gelar Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI melalui perannya sebagai Tita di film drama remaja romantis, Lost In Love. Meski tidak menang, pencapaiannya ini diraih berkat kegigihannya mengalahkan sekitar 1.100 pendaftar dalam proses seleksi demi mendapatkan peran utama tersebut.
Dari perannya sebagai Tita di sekuel film Eiffel I’m In Love, ia mencoba beralih genre thriller yang dibumbui drama percintaan dan aksi petualangan dalam film Rasa, yang rilis tahun 2009. Di sini, Pevita --yang berperan sebagai pelukis yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan-- bersanding dengan Christian Sugiono.
Melihat prestasinya, di usia yang begitu belia, ia memang patut bangga. Namun, hebatnya, ia tak berhenti menggali potensi diri. Sebelum syuting 5cm dimulai, di awal tahun 2012 sampai April, Pevita mengikuti Short Course Acting in Film di New York Film Academy, Australia. Di sana ia mengikuti banyak kelas, di antaranya kelas pemanasan vokal, kelas play (latihan drama) dengan skrip bahasa Inggris literatur karya Shakespeare, dan belajar tata cara mengikuti audisi atau casting.
“Favorit saya adalah kelas Meisner, yaitu mengasah ketajaman akting dengan teknik repetition atau pengulangan kata. Di kelas itu, saya duduk berpasangan, kemudian melakukan improvisasi spontan untuk memperkuat emosi atau feeling dengan lawan main kita,” kenang Pevita.
Meski singkat, ia memperoleh banyak ilmu berharga yang pastinya mendukung kesuksesan aktingnya kini. Salah satunya, bagaimana meniupkan nyawa ke dalam suatu karakter agar performanya kian maksimal.
WORO HARTARI TRIANTI


