Celebrity
Danilla: Kejujuran Dalam Bermusik

26 Aug 2015


Lewat album perdananya yang bertajuk Telisik, Danilla Jelita Poetri Riyadi (25), yang memiliki nama panggung Danilla ini, berhasil meraih gelar Best New Act sekaligus Album Terbaik Indonesia tahun 2014 versi majalah Rolling Stone. Penghargaan ini memang pantas diperoleh Danilla, lantaran idealisme dan selera musiknya yang terbilang unik. Bila mayoritas kaum muda lebih menggemari electronic dance music yang nge-tren beberapa tahun belakangan, Danilla justru berbeda. Ia berkarya melalui musik ballads dengan sentuhan traditional jazz, swing, dan bossanova.

“Saya pernah mencoba menyanyikan lagu-lagu beraliran pop dan RnB, tapi merasa kurang dapat feel-nya. Bagi saya, bermusik mau laku atau tidak yang paling penting adalah kejujuran. Saya merasa lebih nyaman bernyanyi di genre ini meskipun terkesan oldies,” aku wanita yang terinspirasi oleh penyanyi melankolis sekelas Sean Lennon, Jay-Jay Johanson, Rumer, dan pemain trompet jazz, Chet Baker.

Wanita kelahiran Jakarta, 12 Februari 1990, ini seolah mampu mengembalikan kejayaan musik tahun ’50-an yang terdengar santun. Bersama produsernya, Lafa Pratomo, yang juga merangkap sebagai arranger dan gitaris, keduanya kompak menyinergikan kreativitas di studio rekaman sejak awal tahun 2012 silam. Terbukti, kelihaian Lafa mencipta lirik rupawan dengan iringan melodi indah serta kemampuan Danilla meramu aransemen musik berbalut olahan vokal alto lembut nan sendu, menjadi kombinasi sempurna.
 
Uniknya, kisah lagu-lagu yang terdapat dalam album yang dirilis tahun 2014 ini, layaknya sebuah catatan perjalanan seorang pengagum rahasia. “Ketika akan mixing kami baru menyadari bahwa lagu yang terangkum bagaikan menelusuri cerita cinta seorang stalker. Maka itu, kami namai album ini Telisik,” tutur Danilla.

Meski sebagian besar lagu di album pertamanya ini dituliskan oleh Lafa, ada dua lagu bertema tak biasa yang menjadi hasil kreasi Danilla. Di lagu berjudul Oh No! (Trembling Theory), alumnus Universitas Persada Indonesia Y.A.I  jurusan broadcasting ini mengungkapkan pemikirannya mengenai hawa nafsu. Sedangkan peristiwa tragedi kemanusiaan yang menggemparkan Jepang di akhir tahun ‘80-an, ia tuangkan dalam lagu menyentuh berjudul Junko Furuta.

“Inspirasi musik saya memang bisa datang dari mana saja, seperti ketika saya terinspirasi oleh kisah pilu gadis belia bernama Junko Furuta yang diculik, disekap, dan disiksa secara keji oleh 4 remaja laki-laki selama 44 hari sampai akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam keadaan mengenaskan,” tegas Danilla.

Walau melantunkan sebuah kisah kelam, Danilla mampu menyampaikan pesan tersirat di tiap lagu secara effortless. Memanjakan indra pendengar dengan rangkaian kata puitis bersama buaian nada-nada merdu nan syahdu adalah ciri khas musiknya.    

Ternyata, di awal Danilla sempat waswas bila albumnya dinilai ‘terlalu berat’ oleh pendengar muda. Namun, ia hanya ingin jujur dalam berkarya. Tak diduga, hasil yang ia dapat sungguh di luar ekspektasi. Menggunakan jalur distribusi independen melalui label Demajors, penjualan album Telisik sudah mencapai ribuan kopi. “Ternyata peminat musik saya cukup banyak dan loyal. Bagi saya yang terpenting bermusik itu harus datang dari hati,” tutur wanita yang hobi bersepeda ini.

Musik memang sudah menjadi bagian penting dalam hidup Danilla. Sedari kecil, ia sudah hobi bernyanyi dan senang menonton film Disney seperti Snow White dan The Little Mermaid. Darah seni juga mengalir dari sang ibu, Ika Ratih Poespa, dan sang paman, Dian Pramana Poetra. Keduanya merupakan musikus jazz kawakan  tahun ‘80-an.
 
“Selain klasik dan keroncong, dulu di rumah sering sekali diputar lagu bossanova João Gilberto dan lagu jazz milik Billie Holiday, Diana Krall, juga Fourplay,” kenang Danilla.    
Zaman sekolah, Danilla aktif nge-band membawakan lagu band britpop seperti Coldplay dan Oasis. Ia pun sempat ditawari kontrak rekaman oleh Richard Buntario, pemilik label musik Orion Records Indonesia. Saat itu, karena usianya baru 16 tahun, Danilla masih belum percaya diri dan menolak tawaran tersebut.

“Pak Richard kembali ‘mendekati’ saya ketika usia saya sudah 22 tahun. Katanya ia sangat menyukai warna suara saya. Akhirnya saya menerima tawaran keduanya itu dan mulai serius merintis solo karier,” ujar Danilla.              

Selain disibukkan oleh kegiatan promo album, saat ini Danilla tengah ‘menabung’ untuk materi album kedua. Tak hanya itu, Danilla juga sedang menyiapkan gebrakan di penghujung tahun.

“Rencananya saya akan buat pertunjukan kecil yang intimate di Jakarta atau Bandung. Saya juga ingin menambahkan string section untuk memperkaya aransemen,” kata wanita yang menggunakan konsep unik dalam tiga video musiknya yang berjudul: Buaian, Ada Disana, dan Berdistraksi ini.  
        
Meski kini bintangnya sebagai penyanyi solo tengah bersinar, Danilla mengaku masih memiliki banyak mimpi yang ingin segera diwujudkan. Dalam bermusik ia ingin berkolaborasi dengan band lokal, Tiga Pagi dan manggung di pentas internasional. Ia juga punya minat yang besar untuk menjadi corong suara kampanye kekerasan pada hewan. “Tak hanya menulis lagu untuk menghentikan animal abuse, saya ingin nantinya sebagian dari hasil penjualan merchandise didonasikan ke organisasi maupun rumah penampungan satwa,” ungkap wanita yang memelihara 23 ekor kucing ini.(WORO HARTARI TRIANTI)

Foto: Dok.Woro



 

MORE ARTICLE
polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.